Dicakar Monyet

Standard

Sebenarnya saya ingin memulai entry ini dengan judul “Ditampar Monyed”, tetapi melalui beberapa kelas jurnalistik waktu kuliah kemarin saya tahu betapa efektifnya judul bombastis untuk menarik minat pembaca. Jadi setelah menimbang-nimbang dan memutuskan bahwa “dicakar monyet” lebih mengundang daripada “ditampar monyet”, saya memutuskan untuk menipu pembaca saya dengan judul tersebut. Maaf, hanya teknik marketing.

Sebenarnya tidak ada monyet ataupun primata lain yang bersuara “nguknguk”, berekor maupun tidak berekor dan suka bergelantungan dari pohon ke pohon. Hanya si Onyed yang menampar saya. Bukan betulan menampar juga tentunya, karena kalau dia berani menampar maka saya akan membalasnya puluhan kali lipat bonus tendang, atau melaporkan langsung ke pos siskamling untuk pengaduan KDRT.

Jadi, ada apa sebenarnya?

Baiklah, saya terpaksa bercerita… *dihajar massa*

Ingat entry kemarin saat adik saya sedang gundah gulana karena problematika kehidupan? Ingat saya berjanji kemarin untuk memberitahukan kelanjutan cerita dan bagaimana akhirnya keputusan orang tua saya setelah Mon berusaha melobi mereka di Solo? Nah, jadi keputusan mereka tidak berubah dan tetap melarang (atau kalau mau diperhalus ya, katakan saya “tidak mendukung”) keinginan La.

Mendapat kabar semacam itu, saya pun jadi bingung juga bagaimana cara menyampaikannya ke La. Perasaan saya pun campur aduk, antara ikutan kesal, tidak berdaya, merasa bersalah dan sedikit rasa tanggung jawab untuk membuat La merasa lebih baik juga. Tidak tahu harus bicara ke siapa? Si Onyedlah jadi korban saya mengoceh mengenai hal ini.

Kadang saya merasa saya agak needy ke si Onyed. Kadang saya cuma pengen ngoceh aja, tapi kalo si Onyed ngasih ide sebagai solusi saya ga terlalu mikirin idenya dia. Tapi tadi berbeda, karena si Onyed bukana ngasih ide, tapi ngasih sebuah tamparan maha dahsyat (bayangkan sebuah adegan slapstick ala 90’s di mana dengan sebuah tamparan seseorang bisa terjengkang dan berguling-guling jauh sekali).

Saya selalu menganggap orang tua saya tidak adil karena tidak memberikan kesempatan kepada kami, dan kali ini terutama kepada La. Saya melihat tindakannya itu tidak adil kepada La karena dia tidak memberikan La kesempatan yang layak didapatnya sebagai orang dewasa yang berhak mengambil keputusan sendiri. Saya merasa orang tua saya tidak memperlakukan La seperti apa yang selayaknya dia dapatkan; yaitu sebagai orang dewasa.

Dan saya berusaha membelanya.

Saya berusaha berada di pihaknya dengan sesekali buta dengan hal-hal yang seharusnya saya lihat sebagai orang yang lebih tua darinya. Saya berusaha membuatnya merasa diperlakukan dengan seperti yang dia inginkan. Saya berusaha membuat jalannya menjadi mulus karena saya dulu mengalami jalan yang sulit dan berliku, tapi saya lupa…

Memang seperti itulah seharusnya hidup.

Si Onyed mengingatkan saya, bahwa sebagaimana pun saya ingin agar semua keinginan adik saya bisa dipenuhi, saya tidak bisa dan tidak boleh terus menerus melakukannya. Si Onyed mengingatkan bahwa bukan hanya orang tua saya sajalah yang harus belajar untuk melepaskan anaknya yang menjelang dewasa, tapi ternyata juga saya yang harus siap melihat adik-adik saya tumbuh menjadi individu yang berbeda dari saya. Salah satu cara untuk menyiapkannya tumbuh, bukan hanya dengan membekalinya dengan apa yang dia inginkan, tapi menyiapkannya untuk mendapatkan hal-hal yang ada di luar keinginannya.

Kalau saya tidak bisa melihat itu, kalau saya tidak bisa mengerti iti, kalau saya ikut-ikutan dibutakan dengan obsesi saya mewujudkan semua keinginan adik saya, maka apa bedanya saya dengan orang tua saya? Mungkin saya belum jadi orang tua, dan semua orang mengatakan bahwa kita tidak akan tahu rasanya menjadi orang tua sampai kita sendiri punya anak, tapi saya tahu rasanya menjadi seorang kakak, dan saya senang saya ditampar untuk menyadari apa yang harus dilakukan seorang kakak saat adiknya tumbuh dewasa. Setidaknya, kalau nanti saya punya anak, saya tahu apa yang harus saya lakukan…

Sore hari saat menjemput La yang baru selesai sidang, saya membeberkan kabar buruk itu pada La. Tidak pernah mudah, tapi toh ternyata tidak sesulit yang saya bayangkan tentang bagaimana saya harus menyampaikannya. Dan, hanya itulah yang akhirnya saya lakukan…

Selanjutnya?

Adik saya pasti bisa mengatasinya sendiri.

Advertisements