Menjadi Berbeda Adalah…

Standard

Sebuah kesalahan besar!!

Saya bukan orang yang anti dengan perubahan, atau dengan keunikan manusia, tapi pengalaman atau lebih tepatnya ajaran dan didikan yang saya terima mengajarkan bahwa kita tidak boleh menjadi berbeda. Atau, setidaknya kalaupun kita berbeda dari orang lain, tidak perlu kita tunjukkan di depan umum.

Lepas dari ajakan idealis, “Be Yourself” atau “Proud to be Different”, coba pikir lagi, berapa banyak orang tua yang betul-betul menginginkan anaknya menjadi berbeda? Apabila orang tua begitu bangga anaknya menjadi tidak biasa-biasa saja, mungkin Sekolah Luar Biasa sudah menjadi begitu populernya. Mungkin, kegiatan-kegiatan yang tidak komersil tidak akan dipandang sebelah mata hanya karena tidak terlalu banyak orang menyukainya. Ternyata tidak begitu, bukan?

Sering kali kita mengambil contoh sukses orang-orang yang menjadi berbeda dan berhasil dalam hidupnya. Mereka tentu saja adalah pengecualian. Statistiknya bagaimana?

Tentu saja, sinisme saya tercipta dari apa yang saya alami sendiri. Di keluarga saya, menjadi berbeda adalah momok menakutkan. Satu hal yang selalu saya ingat tentang mengapa kami tidak boleh menjadi berbeda adalah: “malu” dan “nanti jadi pembicaraan orang”.

Coba katakan pada saya, darimana menjadi berbeda itu bisa disebut membanggakan, kalau dalam lingkungan saya menjadi berbeda dikaitkan dengan “malu”. Dan, saya berani mengatakan bahwa orang tua saya adalah golongan statistik. Kebanyakan orang tua akan malu memiliki anak yang tidak biasa. Berdandan tidak biasa, pacaran dengan tidak biasa, memiliki gaya hidup yang tidak biasa, dan hal-hal tidak biasa lainnya.

Kalau toh pada akhirnya hal-hal tidak biasa tersebut berkembang menjadi luar biasa hebat dan mengubah pendapat mereka, itu lain urusan. Tapi sebelumnya, saat menjadi berbeda dan tidak biasa adalah ciri khas mereka, berapa banyak dari orang tua yang berani mengambil resiko dan menunggu hal-hal tidak biasa itu berubah menjadi luar biasa dengan kepercayaan penuh?

Ya.

Saya memang sinis.

Saya belajar dari statistik bahwa banyak dari orang-orang yang punya potensi menjadi luar biasa berhenti menjadi berbeda dan kemudian menjadi biasa saja karena tidak ada support dari orang tua. Misalnya: salah seorang teman saya yang begitu berbakat di bidang musik. Maksud saya berbakat adalah bukan cuma bisa memainkan alat musik. Teman saya ini bisa memainkan hampir segala jenis alat musik, dari gitar, bass, drum, piano, organ, keyboard… Entah sekarang apa lagi yang sudah dia kuasai. Tidak hanya itu, dia juga bisa menciptakan lagu, bahkan memberikan saya beberapa lagu ciptaannya saat ulang tahun saya.

Delapan tahun yang lalu, saat dia lulus SMA, saya mendorongnya untuk memilih musik sebagai jalan hidupnya. Saya ingin dia menjadi berbeda dan mengambil jalan yang tidak sama dengan kami yang memilih jalur teknik atau ekonomi untuk kuliah. Lalu apa? Dia kuliah IT.

What now?

Saya selalu mendengar orang-orang meneriakkan kata-kata penyemangat “Be Yourself”, seolah-olah mereka sudah menjadi diri sendiri. Padahal, yang mereka lakukan hanyalah menjadi sama dengan orang lain, mungkin terjebak dengan arus budaya pop, atau kegiatan-kegiatan populer lainnya, dan berharap ada orang lain yang membuat trend lain yang lebih sesuai dengan jati diri mereka.

Betapa sulitnya menjadi berbeda.

Mungkin memang kita tidak boleh jadi berbeda, karena mungkin menjadi berbeda itu adalah sebuah kesalahan paling besar…

Advertisements

Comments are closed.