Relationship Chicken

Standard

“Are you happy, Barney?” – Marshall Erriksen

Kadang-kadang seorang sahabat harus menanyakan itu kepada seseorang yang sedang dalam sebuah hubungan serius. Seperti Marshall yang bertanya kepada Barney, apakah dia bahagia menjalani hubungannya dengan Robin, pertanyaan ini harus diajukan secara empat mata, heart to heart dan tidak ada jalan lain untuk mengubah arah pembicaraan selain terlebih dulu menjawab pertanyaan tersebut. Tentu saja, jawaban tersebut bisa bervariasi, tergantung si penjawab, dan bahkan bisa 180 derajat berbeda dari kenyataannya kalau ternyata kita bersahabat dengan seorang pathological liar.

“They are playing the relationship chicken. They are miserable together but too stubborn to admit it.” – Ted Mosby

Sering kali, ada di satu titik di mana hubungan pacaran tidak lagi membawa kebahagiaan. Bukan lagi masa-masa sulit yang harus dilalui, bukan sekedar masa jenuh yang akan menghilang begitu bulan berganti, tapi benar-benar titik dimana pasangan merasa ini adalah comfort zone, padahal bukan. Mereka tidak lagi bisa bersenang-senang, bahkan mereka bisa menjadi kesal pada saat sedang bersenang-senang, hanya karena masalah kecil yang tidak seberapa. Mereka begitu mudah terpancing ke pertengkaran, bahkan pada stadium lanjut mereka terlalu lelah untuk bertengkar dan akhirnya hanya membiarkannya begitu saja.

Tapi, setidak bahagia apapun itu, mereka tidak mau mengakuinya.

Saya pernah mendengar kalimat: “those who quit first, lose.” Mereka yang terlebih dahulu keluar, dianggap kabur dari masalah, dan dianggap sebagai pecundang. Itulah mengapa banyak orang merasa malu mengakui bahwa sebuah hubungan yang sudah tidak beres, memang sudah saatnya diakhiri. Seolah-olah mengatakan, “I’m done with this, I’m sorry but I can’t continue this relationship,” adalah pertanda bahwa yang mengatakannya adalah quitter, dan loser. Tapi tidak ada yang pernah menyadari bahwa berani memutuskan sebuah hubungan yang retak membutuhkan keberanian.

Oh. Saya tidak omong kosong. Saya pernah berhubungan dengan seorang relationship chicken sebelumnya. Membutuhkan menangis semalam untuk mengumpulkan keberanian saya memutuskannya, dan tersenyum menghadapi orang itu.

Breaking up a rotten relationship bukan seperti memutuskan seseorang begitu saja tanpa perasaan. Bukan seperti membuang baju bekas, atau sepatu yang sol-nya aus, atau menyumbangkan celana yang sudah tidak trend, atau ingin kita singkirkan karena bosan. Memutuskan hubungan bukan seperti membuang sesuatu begitu saja seperti sampah, atau menggunting rambut atau memotong kuku. Breaking up a rotten relationship bukan berarti kita berhenti mencintai orang tersebut, hanya saja hubungannya sudah tidak bisa diteruskan.

Breaking up a rotten relationship itu seperti melakukan amputasi. Kamu membuang sesuatu, dan itu begitu menyakitkannya, hanya untuk menghadapi bahwa suatu hari kamu bangun dengan tidak utuh lagi, namun dengan keadaan yang lebih baik. Breaking up a rotten relationship itu seperti menghancurkan bangunan lapuk yang berbahaya untuk ditinggali, untuk membangun mansion baru diatas reruntuhannya. Bukan hanya untuk mendapatkan sesuatu yang baru yang lebih baik, namun juga menyelamatkan kita dari tertimbun bata bangunan yang sudah tidak layak huni.

“This is so wrong!” – Lily Aldrin

Beberapa orang yang terjebak dalam “relationship chicken” terlalu takut untuk memutuskan sebuah hubungan yang tidak sehat berpikir bahwa lebih mudah mengubah daripada menghilangkannya sama sekali. Misalnya, mengubah status pacaran menjadi bertunangan atau bertunangan menjadi menikah, berharap dengan status baru bisa membuat hubungan mereka menjadi seperti baru. Atau berpikir bahwa hubungan sudah menemui jalan buntu dan sudah saat mereka membuat keputusan untuk settle down dan menjadi lebih serius.

Kesalahan besar.

Dalam film “He’s just not that into you”, orang yang menikah karena, “baiklah tidak ada lagi yang bisa kita lakukan selain menikah” berakhir dengan pernikahan tidak bahagia. Dan apa? Cerai! Buat apa? Kalau kamu mengamputasi kakimu saat masih hanya jempolmu saja yang terinfeksi, kamu masih punya kesempatan memakai sepatu Jimmy Choo di lain waktu, tapi kalau kamu menunggu sampai infeksi memakan seluruh tungkai kakimu, bahkan memakai hot pants pun rasanya sulit

Now…

Are you playing “relationship chicken”?

Advertisements

11 responses

  1. WOWWWWW… nice writing. terbuka deh kolor eh mataku dgn artikel ini.
    benar sekali kadang kita terlalu lelah untuk mendiskusikan hal2 yang remeh2 yang justru hanya menunggu bom waktu, karena ditumpuk tanpa diurai.

    Like