Hometown Rhapsody

Standard

Beberapa hari yang lalu saya pulang ke Solo untuk acara Cheng Beng. Cheng Beng adalah tradisi ziarah dan membersihkan makam leluhur untuk orang-orang Tionghoa yang dilakukan satu tahun sekali. Sudah lama saya tidak ikut acara Cheng Beng, jadi begitu tahun ini saya ada waktu, saya menyempatkan diri untuk pulang kampung.

Salah satu alasan kenapa setiap kali saya pulang kampung saya tidak pernah posting adalah saya tidak bisa menemukan inspirasi apapun di sana. Bahkan, seandainya saya punya ide pun, saya tidak pernah bisa menulis lebih dari satu paragraf selama saya berada di sana. Saya baru bisa mulai menulis lagi begitu saya sudah kembali lagi ke Jakarta. Hayo kenapa?

I don’t hate being there.

Si Onyed juga senang ada di sana.

Tapi saya stres kalau ada di sana.

Saya terbiasa tinggal jauh dari orang tua. Jujur bagi saya, tinggal jauh dari orang tua itu sangat menyenangkan. Saya tidak tahu dengan orang-orang yang lain yang senang berada dekat-dekat orang tua mereka, tapi tidak dengan saya.

Saya tidak benci dengan orang tua saya, tapi saya benar-benar tidak tahan kalau harus tinggal satu atap dengan mereka. Sebenarnya, saya tidak tahan kalau harus tinggal satu atap dengan siapa pun yang tidak sesuai dengan mau saya. Saya bahkan tidak pernah keluar kamar waktu saya masih tinggal di kos dulu hanya karena saya malas kalau harus berinteraksi dengan orang-orang yang belum tentu akan membuat saya nyaman tinggal di sana.

Tapi, tinggal satu atap dengan orang tua saya sepertinya membuat saya tertekan sepanjang waktu. Bukan hanya dengan harapan-harapan mereka yang sepertinya selalu tidak sesuai dengan keinginan saya, tapi juga dengan apa yang mereka berikan yang membuat saya merasa wajib memenuhi harapan mereka. Saya jadi selalu serba salah dan yang pasti saya tidak pernah merasa bisa menjadi diri saya sendiri selama saya ada di sana. Dan saya rasa itulah sebabnya saya tidak bisa menulis.

Menulis, bagi saya adalah momen di mana saya bisa menjadi diri saya sendiri. Meksipun saya hampir selalu menulis secara anonymous, tapi saat menulis setidaknya saya menjadi orang yang lebih jujur dibanding dengan saya di kehidupan sehari-hari. Saya hanya bisa menulis saat saya sedang menjadi diri saya, merasa nyaman dengan diri saya dan dapat berbuat seperti yang saya inginkan. Dan saya tidak bisa melakukan itu kalau saya berada di Solo.

Saya tahu orang bisa berubah. Saya juga tahu bahwa orang tua saya berusaha untuk tidak lagi menekan saya untuk menjadi apa yang mereka inginkan seperti dulu. Tapi saya sudah terlanjur tahu apa yang mereka inginkan. Saya sudah terlanjur tahu apa yang ada di dalam pikiran mereka dan apa yang mereka katakan dalam hati setiap kali mereka melihat saya. Saya tahu bahwa setiap kali mereka melihat saya, mereka diingatkan kembali bahwa saya tidak mau menjadi seperti apa yang mereka inginkan. Mengingatkan mereka betapa berbedanya saya dari apa yang mereka berusaha bentuk selama ini.

Saya tetap tidak bisa menjadi seperti yang mereka mau. Tapi saya tidak bisa menjadi diri saya sendiri juga kalau saya berada di sana. Berada di sana, tidak membuat saya senang, juga tidak membuat mereka senang. Itu kenapa saya senang kalau saya jauh dari rumah.

This is how I see it:

Setiap kali saya jauh dari rumah, saya merasa rumah itu jauh lebih dekat di hati saya daripada saat saya berada di dalam rumah itu sendiri. Rumah terasa jauh lebih ideal saat rumah itu hanya berada dalam pikiran saya daripada saat saya tinggali.

Advertisements

Comments are closed.