Monthly Archives: April 2011

Manjali & Cakrabirawa

Standard

Title: Manjali & Cakrabirawa

Author: Ayu Utami

Language: Indonesia

Publisher: Gramedia Pustaka Utama

 

Synopsis:

Manjali & Cakrabirawa is the second book of the Bilangan Fu series.

Yuda went for a cliff climbing training session for the military, therefore he left his girlfriend Marja with his bestfriend Parang Jati. He didn’t know that meanwhile, there was a love triangle happened between the three bestfriends, but that wasn’t his biggest problem at that moment.

Marja, spent few days with the angelic eyed Parang Jati felt something she never felt before. She didn’t know that Parang Jati actually felt the same, even they have one same thing kept them away from each other, their love to Yuda. Both Marja and Parang Jati went to an excavation area of the ancient temple and they soon learned the mystery of Manjali and Cakrabirawa.

 

Review:

Manjali & Cakrabirawa feels like the softer side of the Bilangan Fu series. Not only because the story was told from Marja’s side, but it was also lighter in the plot. It wasn’t written like journal like bilangan Fu, instead it was flowing and if you like more romance, you will be satisfied here. For me, personally, Manjali & Cakrabirawa is the anticlimax for Bilangan Fu, but for some people it might be different because the story was so different and it has no relation from the Bilangan Fu’s plot.

Even the characters were no longer described as detail as they are in the Bilangan Fu, it had more historical and myths stories in it. Sometimes even they mixed up so well you don’t know which was one. I think it is wise that the author write this as the second book because after the deep philosophic thinking with Bilangan Fu, Manjali & Cakrabirawa was so much entertaining. I even found myself smiling once or twice reading this book.

I really don’t want to choose between these two series, because they are really different, but if I had to choose I’d say I like Bilangan Fu better. But still, I love the book and would recommend it if anyone ever asked if it’s worth every penny.

Sekilas Update

Standard

Kemana Bybyq menghilang selama 3 hari?

Setelah long weekend itu saya tiba-tiba tidak bernafsu untuk posting. Menurut saya itu adalah tindakan yang cukup bijaksana selain karena saya tidak ingin membuat postingan-postingan jayus, saya juga tidak ingin membuat saya mengatakan sesuatu yang tidak enak didengar ataupun dibaca. Pertama, karena saya sedang merasa kesal dengan sesuatu yang terjadi di blog ini, yang kedua karena saya memang tidak ada ide untuk menulis apapun.

Saya disibukkan dengan banyak kegiatan tidak penting. Saya latihan masak memasak, yang ternyata kata si Onyed (yang menjadi kelinci percobaan saya) tidak jelek juga. Saya juga latihan dandan, yang entah karena si Onyed takut saya ngambek atau memang dia jujur, dikatakannya tidak nampak aneh di muka saya. Saya juga berhasil hidup teratur dengan tidur menjelang tengah malam dan bangun saat matahari belom terlalu tinggi. Hebat?

Satu masalahnya.

Tidak menulis membuat saya menjadi cerewet, dan si Onyed menjadi korbannya. Mungkin sebenarnya hal-hal yang saya ingin katakan kepada si Onyed itu adalah apa yang ingin saya tulis, hanya saja saya mungkin terlalu malas untuk merangkai kata-katanya dalam tulisan. Saya membuat si Onyed bosan dengan ceramah saya yang panjang lebar dan obsesi saya tentang sejarah dan budaya yang akhir-akhir ini menjadi agak terlalu berlebihan.

Akhirnya saya dan si Onyed menghabiskan beberapa hari terakhir itu dengan berjalan-jalan nongkrong dari satu tempat ke tempat yang lain. Sebenarnya kegiatan yang sama di banyak tempat berbeda, yaitu kami mengoceh, dan tibalah saatnya saya merasa saya kangen menulis.

Salah satu alasan saya kenapa saya sempat ngambek menulis adalah karena si Onyed bilang tulisan saya kadang boring. Yah, saya juga akui sih saya sering menulis hal-hal ga penting dan most of the time menggurui. Saya memang kepengen jadi guru, tapi bukan berarti saya harus menggurui semua orang kan? Dan dia menyebutkan salah satu personal blog milik seorang celebrity blogger yang terkenal karena itu lucu.

Saya tidak ingin terkenal karena melucu di blog saya. Meksipun memang teryata survey membuktikan bahwa pembaca blog di Indonesia lebih suka kalau membaca blog yang lucu dan menyenangkan. Mungkin karena sudah terlalu banyak hal menyebalkan di negara ini sehingga berpikir adalah hal terakhir yang ingin mereka lakukan saat membaca hidup orang lain di sebuah blog. Sayangnya saya tidak bisa melakukan itu, bukan karena saya tidak mau, tapi memang karena saya tidak lucu. Saya pernah membuat tulisan tentang itu.

Tapi, membaca kembali tulisan saya saat itu, dan membaca komen-komen orang lain di sana, saya jadi ingat juga bahwa meskipun saya tidak lucu, masih ada yang menyukai blog ini apa adanya. So, I’m back blogging. Lagipula, konyol rasanya ngambek ngeblog setelah merayakan satu tahun usia blog ini, ya kan?

How Do You Hate Yourself?

Standard

Saya menanyakan hal ini selama beberapa hari, atau mungkin sudah lebih dari seminggu ini. Pertanyaan ini terasa lebih mengganggu ketika saya sedang nongkrong di WC, doing my business, sambil bengong menunggu selesainya panggilan alam tersebut. Saya tidak mengerti juga kenapa toilet telah menjadi tempat yang sangat inspiratif bagi saya. Bahkan, sejak saya masih kuliah arsitektur, toilet adalah tempat favorit saya mencari ide kalau saya sedang tidak tahu harus mengerjakan apa.

Suatu ketika, dalam posisi paling nyaman nongkrong di WC, dan saat kaki saya kesemutan setelah beberapa menit tidak bergerak, saya mendapatkan pencerahan. Mungkin pada dasarnya semua orang membenci dirinya sendiri, tentu saja, karena perbedaan antara benci dan cinta itu setipis kertas, mungkin seseorang terlalu membenci dirinya sendiri sampai dia tidak sadar bahwa dia membenci dirinya dan mengira perasaan benci pada diri sendiri itu adalah perasaan cinta. Aneh? Tidak juga, karena ternyata dalam kehidupan sehari-hari banyak kisah percintaan serupa; you think that’s love, but that isn’t.

Sering saya mendengar di televisi, atau di majalah, orang-orang berkata kepada media betapa mereka cinta kepada diri mereka sendiri. Saking cintanya mereka melakukan banyak hal kepada diri mereka. Mereka membebani tubuh mereka dengan gym supaya sehat, mereka mendadani wajah mereka supaya cantik, mereka juga mulai memilah milih makanan yang tidak enak untuk menjaga bentuk tubuh supaya tetap ramping. Buat sebagian orang mungkin itu tough love, menyakiti diri sendiri atas nama cinta, sebagian, seperti saya mulai menduga itu adalah bentuk kebencian yang tidak diakui.

Sama seperti cinta, tidak semua orang berani bertindak atas kebenciannya. Beberapa mengaku mereka cinta diri mereka dan merasa nyaman dengan bentuk tubuh mereka padahal mereka terlalu takut mengakui bahwa mereka benci dengan obesitas yang menggerogoti diam-diam. Beberapa yang lain tega melakukan tindakan ekstrim dengan menyodok-nyodok kerongkongan mereka supaya muntah demi menurunkan berat badan. Di bagian lain dari dunia ini, orang-orang memutuskan untuk memutilasi diri sendiri agar memenuhi kriteria kecantikan agar mereka bisa mencintai diri sendiri. Intinya? Mereka membenci diri mereka yang asli.

Mungkin saya juga membenci diri saya. Saya benci tulang pipi saya, saya benci pipi saya lebih tepatnya. Saya benci rambut saya, yang menempel di kepala saya, terlebih yang jatuh karena rontok. Saya benci dengan kuku jempol kaki saya yang tumbuh miring, dan saya benci dengan tubuh bagian bawah dari pinggang sampai mata kaki. Saya benci dengan tulang saya yang terlalu besar, terutama tulang hidung dan tulang punggung saya yang tidak lurus dan mengganggu kesehatan saya. Pertanyaanya adalah, apakah saya akan menjadi mencintai tubuh saya setelah saya mengubah sesuatu darinya? Atau apakah saya akan berubah sikap dan dengan cinta saya itu saya berani melakukan perubahan untuk membuat diri saya menjadi lebih baik?

Kebaya Kartini

Standard

Pada waktu saya lulusan kemarin, saya dibikinkan kebaya untuk acara wisuda. Kebaya itu berwarna putih dengan motif garis samar dan bordiran bunga di bagian leher dan bagian bawah kebaya tersebut. Kebaya sederhana semacam ini biasanya disebut dengan Kebaya Encim; karena pada jaman dulu banyak encim-encim (wanita-wanita Cina yang sudah berumur) mengenakan kebaya semacam ini. Tapi, banyak yang mungkin belum tahu bahwa Kebaya Encim disebut oleh beberapa kelompok sebagai Kebaya Kartini; karena Kartini sering terlihat mengenakan kebaya semacam ini. Bahkan bisa dibilang, ciri khas Kartini adalah Kebaya Encim ini.

Lalu kenapa kalau lagi hari Kartini, orang-orang merasa penting menggunakan kebaya mewah dengan broklat mahal, mendandani anak-anak mereka dengan baju-baju daerah yang bermacam-macam jenisnya (dan dilombakan pula); bukan hanya yang perempuan, tapi juga yang laki-laki. Benar-benar nggak nyambung sama sekali, bukan? Mungkin dalam hal ini, saya setuju dengan tetangga blog saya si Soe, yang juga menginspirasi tulisan saya hari ini.

Kadang-kadang saya kasihan dengan negara ini, dan merasa nelangsa kalau ingat para pahlawan dan pejuang nasional dulu. Dengan diberikannya pelajaran sejarah di sekolah, betapa anehnya kalau banyak orang (setidaknya yang saya kenal) tidak tahu apa-apa mengenai sejarah bangsa ini. Okelah, banyak yang bilang kalau sejarah bangsa ini sudah banyak diputarbalik faktanya, tapi setidaknya hal-hal yang mendasar seperti kenapa ada keraton Jogja dan Solo atau siapa pahlawan dari Makassar bukan sejarah yang berbahaya kalau dipelajari.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang mengenal sejarah bangsanya. Bukannya saya tidak tahu kalau sejarah ditulis oleh para pemenang, tapi siapapun pemenangnya kita selalu bisa belajar banyak dari sejarah. Kebenarannya, kesalahannya, kebaikannya maupun keburukannya.

Saya tidak tahu kenapa muncul tradisi mengenakan pakaian adat yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan Kartini. Coba. Apa maknanya mengenakan pakaian adat? Apa mau mencontoh poto Kartini di buku sejarah mengenakan baju adat jawa?

Tidak tahukah para pembuat tradisi ini kalau Kartini sebenarnya adalah perempuan yang tidak bisa diam dan seandainya pada jaman itu sudah populer jeans dan kaos oblong, mungkin beliau akan memilih mengenakan baju nyaman itu? Atau, jangan-jangan Kartini lebih suka mengenakan blazer dan rok bahan yang chic dan modern? Kenapa? Karena sebenarnya Kartini bukan perempuan yang senang dengan kerangkeng budaya. Karena dibalik Kebaya Encim-nya, Kartini adalah ROCKSTAR pada jamannya. Pikirannya moderen dan melaju ke depan.

Ke depan.

Ke masa depan.

Lha kok sekarang, bukannya ngajari anak-anak dengan pikiran-pikiran maju, di Hari Kartini anak-anak diajari untuk melihat ke belakang tanpa diberitahu apa yang harus dilihat dari masa lalu. Diajari untuk mengenakan baju adat untuk mengenang perjuangan Kartini tanpa pernah tahu sebenarnya apa yang diperjuangkan. Mungkin orang tua yang menyuruh anaknya berdandan ala puteri keraton seperi Kartini dulu memang tidak tahu apa yang sebenarnya diperjuangkan Kartini. Nggak ngerti kalau Kartini menginginkan modernisasi.

Kebaya Kartini membuat saya jadi merana. Saya selalu diingatkan betapa kacaunya sejarah negeri ini sampai-sampai orang-orangnya saja malas mempelajarinya. Betapa sejarah yang seharusnya bisa diceritakan berulang-ulang seperti dongeng penyemangat yang menarik hanya terdengar seperti kisah membosankan yang wajib dipelajari. Kenapa?

Bilangan Fu

Standard

Title: Bilangan Fu

Author: Ayu Utami

Language: Indonesia

Publisher: Gramedia Pustaka Utama

 

Synopsys:

Bilangan Fu is the first part of two books in Bilangan Fu series.

Yuda is a young man shaped in modern society. He didn’t believe in anything but himself and always looked down to villagers and people who believed in urban legend. The only thing interests him was mountain climbing, and Parang Jati, his new twelve-fingered friend.

Parang Jati is a mysterious man with angelic eyes and unstoppable devotion to the nature. Not only he could make Yuda, a modern kid who want to conquer the nature to see the mountain climbing the whole different way, but gave Yuda and his girlfriend Marja, with new point of view in looking at the mystery of life.

The love triangle between Yuda, Parang Jati and Marja happened under the surface of their tight friendships. Together the three of them tried to solve the problem in the society, and the curious matter of Bilangan Fu.

 

Review:

Ayu Utami is one of my favorite Indonesian authors. The supernatural-spiritual tales on the story, featured with urban legend and folktales are her signature which made the story very Indonesia. She wouldn’t hesitate to bring the fictional character as close to the real events, made each characters feels so realistic.

The story was written with a flashback plot, as if it was a journal of Yuda. Of course it means the whole story was seen from Yuda’s point of view, which I think is wise because Yuda is the link between the three best friends and the connection between the three and the whole story.

Even the problem was stated boldly in the story, Ayu Utami still gave the readers the space to develop their own interpretation of it. The author didn’t separate the good, and the bad character, but describe them with flaws and quality, and let them make mistakes. The story grow, and even for me the ending was not as what I wanted I can’t imagine a better closure for the story.

Would I recommend it? Of course I will. If you have read Saman and Larung and you loved it, or you have read Cantik Itu Luka by Eka Kurniawan, and you like them, you might love this one too.

HAPPY EASTER

Standard

Ternyata banyak hari besar berdekatan dengan ulang tahun superbyq tahun ini. Bukan hanya hari kartini yang dekat-dekatan dengan ulang tahun blog saya ini, ternyata tahun ini ulang tahun Superbyq.com juga dekat dengan hari raya paskah. I used to celebrate it, but not this year, for one and another personal reasons 😀

Jadi, saya hanya mau mengucapkan Selamat Paskah bagi yang merayakannya.

Saya tidak punya banyak cerita tentang Paskah saat ini tapi semoga siapapun yang merayakan paskah mendapatkan hari libur yang penuh makna.

KARTINI

Standard

Yap… Kemarin adalah hari Kartini, dan saya menghabiskan waktu mencari-cari tahu tentang perempuan yang namanya harum dan dinyanyikan berulang-ulang dalam lagu ini. Bukan hanya saya ingin mengambil keuntungan dari perjuangan yang sudah dilakukannya dulu untuk kaum perempuan Indonesia, saya ingin lebih mengenal mengenai pribadi perempuan yang menjadi idola penulis Pramoedya Ananta Toer ini. Tentu saja saya tidak akan menuliskan biografinya di sini, karena saya tidak cukup meriset tentang Ibu Kita Kartini.

Saya jadi ingat pelajaran sejarah dulu saya dapatkan di SD mengenai pahlawan-pahlawan nasional kita. R.A. Kartini adalah satu tokoh yang wajib dipelajari; dikatakan karena kiprahnya memajukan pendidikan untuk kaum perempuan Indonesia. Tapi, setelah mempelajari tentang perempuan ini, saya jadi tidak mengerti kenapa setiap hari Kartini kita disuruh mengenakan baju adat. Jujur aja, ritual ini nggak ada hubungannya sama sekali dengan kegiatan memorial R.A. Kartini itu.

Ya. Kartini adalah seorang feminis, dan yang tidak banyak orang ketahui dia juga seorang pengajar dan pengamat budaya yang cukup kritis. Keberanian Kartini untuk melakukan otokritik membuat Kartini dianggap berbahaya oleh banyak orang pada jaman itu. Kenapa berbahaya?

Pada saat Kartini sedang semangat-semangatnya, Belanda juga sedang giat-giatnya melakukan politik devide et impera, menggunakan budaya Jawa sebagai alatnya. Dikisahkan bahwa orang Jawa itu punya semangat kepriyayian yang tinggi, dan sangat suka dengan kekuasaan, maka dipecah-pecahlah tiap daerah dengan diangkatnya raja-raja kecil/bupati untuk tiapkantong-kantong kekuasaan Belanda. Kalau si Bupati mau pangkatnya tetap aman, maka dia harus mengikuti maunya penjajah, dan segala upeti dan pajak menjadi milik si Bupati.

Kartini adalah anak Bupati Jepara, itulah kenapa dia bisa punya gelar Raden Adjeng di depan namanya. Dengan pangkat dan koneksi bapaknya dia bisa mendapatkan pendidikan yang baik. Dan di sinilah memang pentingnya pendidikan dan membaca (Kartini dikisahkan sangat suka membaca), karena dengan menjadi pintar, manusia itu (bukan hanya perempuan saja) tidak menjadi buta, dan berjalan seperti kuda yang diberi kacamata kuda, disetir oleh siapapun itu kusirnya. Dan memang dengan membaca dan belajar itu, Kartini menyadari kelemahan budayanya, bukan hanya secara politis namun bahwa budaya jawa itu menempatkan perempuan sebagai warga negara kelas dua.

Pada saat itu, perempuan tidak boleh berada di ruang depan kecuali mendapatkan undangan dari pihak laki-laki. Makan dan beraktivitas pun selalu di bagian belakang rumah, karena menurut adat memang begitulah posisi perempuan di strata sosial, di belakang. Meskipun kemudian muncul pembelaan-pembelaan bahwa posisi perempuan bukan direndahkan melainkan diberikan kewajiban yang berat sebagai pendukung dan penopang keluarga dari dalam, tapi saya rasa itu hanya pembenaran saja karena toh sebenarnya perempuan tidak diberikan pilihan ingin menjadi penopang atau menjadi pemimpin.

Pandangan-pandangan Kartini yang dianggap subversif ini, hendak diajarkannya kepada banyak perempuan, sehingga menurut Belanda, Kartini harus diredam. Tidak terbayang kalau Kartini mengajar banyak perempuan (sedangkan perempuan itu mayoritas secara jumlah), bisa-bisa timbul pergolakan karena akan muncul kekuatan yang selama ini tidak disadari oleh orang Indonesia sendiri. Belanda memaksa bapaknya Kartini mencarikan suami untuk anaknya, untuk ‘memasung’ dan ‘meredam’ semangatnya yang berapi-api untuk mengajar. Dan… berhasil!

Ancaman Belanda kepada sang Bupati Jepara itu berhasil karena Kartini merasa kasihan kepada bapaknya yang merasa tertekan dan terjepit antara rasa sayangnya kepada anaknya dan keinginannya untuk mempertahankan jabatannya sebagai Bupati. Dan setelah menikah dan dijadikan istri muda seorang pejabat, Kartini akhirnya memutuskan untuk tidak lagi melanjutkan perjuangannya untuk terus belajar dan pada akhirnya mengajar. Meskipun terlalu dangkal kalau saya mengambil kesimpulan bahwa pernikahan adalah sebuah penjara untuk perempuan, tapi pada jaman itu mungkin memang begitulah kiranya.

Pernikahan itu, oleh Kartini, dipolitisir menjadi alatnya untuk muncul ke permukaan. Di mana sebagai lajang dia tidak bisa melakukan beberapa hal karena harus menjaga image-nya, sebagai istri pejabat dia bisa bersuara lebih lantang. Itulah mulanya dia memiliki surat-surat berisi pemikiran-pemikiran yang sebenarnya ingin dia tulis sebagai buku.

Sempat beberapa lama saya berpikir ulang, kenapa Kartini begitu historisnya, padahal dia tidak berhasil mewujudkan keinginannya sedikitpun. Kartini akhirnya menikah padahal dia menentang budaya patriarkal Jawa, juga mendukung poligami (karena pernikahannya sebenarnya hanya alat politik baginya), berhenti belajar, dan batal mengajar. Saya tidak mengerti kenapa kegagalannya menjadi sesuatu yang besar? Kenapa dia disebut pahlawan perempuan padahal akhirnya dia tunduk kepada budaya yang ditentangnya sendiri?

And this is why.

Kegagalan Kartini menginspirasi banyak perempuan-perempuan lain; yang terkenal seperti Dewi Sartika dari Jawa Barat, untuk melanjutkan misinya. Bahkan menurut kata Pram, menurut risetnya sendiri mungkin, Kartini juga menginspirasi banyak kelompok-kelompok kecil perempuan untuk belajar dan setidaknya mengerti akan hak-haknya sendiri. Mungkin sekarang perjuangan itu belum terasa karena benturan budaya dan agama, tapi Kartini adalah seorang feminis, bahkan sebelum gelombang feminis di dunia dimulai. Kartini menjadi historikal karena dia adalah pelopor.

Sekarang, orang bebas mengintepretasikan sendiri makna hari kartini untuknya. Ada yang mengatakan bahwa hari Kartini adalah waktunya perempuan menilik kembali bahwa hak-haknya diperjuangkan. Ada yang bilang bahwa hari Kartini mengingatkan kembali bahwa perempuan memiliki kebebasan. Ada yang bilang bahwa di Hari Kartini perempuan harusnya bersyukur karena sekarang nasib perempuan tidak seperti dulu lagi. Suka-suka mereka yang mengintepretasikan.

Mengeluh Time

Standard

Yap! Sudah waktunya saya mengeluh. Setelah sekian lama saya nggak bisa posting dari komputer, dan harus menguatkan jempol saya (lagi) karena internet yang nggak beres-beres itu, akhirnya saya bisa online lagi di komputer. Dan, tentu saja, yang pertama kali saya lakukan untuk merayakan kembali normalnya internet saya, ya dengan mengeluh ini.

Beberapa bulan yang lalu, lebih tepatnya di awal-awal saya menulis di blog ini, saya sangat sering mengeluh mengenai betapa leletnya kecepatan internet saya, tapi saya tidak menyangka akhir-akhir ini bahkan saya tidak bisa membuka blog saya sendiri. Alhasil, keinginan saya untuk membuat tampilan blog saya menjadi baru pun tertunda sampai hari ini. Nggak apa-apa sih, bukan sesuatu yang penting banget, tapi yang membuat kesal adalah, saya jadi susah posting saja.

Untungnya si Onyed datang ke rumah saya hari ini.

Bukannya si Onyed bersusah payah membetulkan jaringan internet di sini, tapi… saya pernah cerita nggak sih kalau si Onyed punya chemistry yang aneh dengan segala sesuatu yang bersifat elektronik? Nggak pernah ya? Kayaknya memang ga pernah deh…

Jadi… Si Onyed itu memang punya chemistry yang aneh dengan segala sesuatu yang berbau elektronik (dejavu?). Segala sesuatu yang sifatnya elektronik akan jadi beres kalau dia yang pegang. Dari laptop, handphone, DVD player, TV, segala macam gadget dari mp3 player sampe GPS, dan segala jenis benda elektronik lainnya. Saya tidak tahu kenapa, tapi sepertinya dia memang tertakdir untuk menjadi seorang montir peralatan elektronik. Sayangnya dulu dia males sekolah jadi dia nggak pernah masuk ke jurusan teknik elektro untuk mengembangkan bakatnya itu.

Pernah suatu ketika geblekberi saya nggak bisa dipakai selama beberapa hari karena nggak pernah dapat jaringan. Saya mati-nyala-mati-nyalain lagi, seperti yang biasa sukses untuk memecahkan masalah jaringan ngadat, tapi tidak kunjung berhasil juga. Si Onyed memegang geblekberi itu sebentar, mematikannya, dan menyalakannya lagi sama seperti yang saya lakukan dan hasilnya… sigeblekberi itu menyala lagi. Aneh?

Lebih aneh lagi… saya sedang mendownload software untuk geblekberi saya. Tiga atau empat kali saya lakukan dengan jaringan 3G yang mestinya paling lancar jaya, tapi tidak sukses juga. Saat sigeblekberi itu saya berikan kepada si Onyed, jaringan 3G berubah jadi EDGE, saya pikir kekuatan electromagic si Onyed sudah habis pada saat itu. Dengan tenangnya si Onyed melakukan proses mendownload seperti yang saya lakukan, persis nggak ada bedanya (lha wong dia mentor saya kok!). Bedanya hanya satu: di saat saya dengan jaringan 3G selalu gagal download, si Onyed dengan EDGE sukses hanya dengan satu kali percobaan.

Dan hari ini pun begitu… Dengan kekuatan electromagicnya, si Onyed bahkan ga perlu menyentuh laptop saya. Tiba-tiba aja, jaringan internet dari modem colok saya yang biasanya menunjukkan indikator lemot, tiba-tiba kedip-kedip dengan ceria, menunjukkan internetnya lagi lancar jaya.

Saya sempat berpikir kalau dalam diri si Onyed ini ada semacam daya listrik yang membuat benda-benda elektronik jadi bersahabat dengan dirinya. Pantas saja kalau sedang jalan-jalan di mall dengan si Onyed, saya sering kesetrum pas gandengan. Mungkin ga sih?

Yah… Intinya, meksipun saya melewatkan entry untuk hari kartini (nggak papa, saya bikin postingan panjang tentang Kartini, satu tahun lalu), saya masih bisa online saat ini dan mengganti background blog saya dengan karya si Onyed. Haha!

Standard

I felt bad.

I believe I have said many times before that I hate waiting. Therefore, if it was up to me, I would have taken any other way to avoid waiting. Too bad, it wasn’t up to me. So here I am, waiting.

I wasn’t talking about a person, so for those who have assumed that I was complaining about someone, I can assure that whatever you had on your mind was wrong. Unbelievable how someone could have such a negative thought about other person. *tsk* I was waiting for two things; one, a result of a test I had taken several weeks ago, and an answer.

Well… I didn’t want to tell you what they were, just yet, because I don’t want to jinx it. They are big things for me and if I failed it would be a heartbreaking experience all over again. So, although I can’t tell you what I was waiting for, wish me luck because I might need it this time.

Oh. Yeah.

And that made me feel bad about myself.

I used to be so confident, if not conceited, that nothing (I repeat: NOTHING) in this world I can’t do if I want to do it. And I always said, that I don’t need luck.

And today I asked you to wish me luck? I am pathetic! Really. Am I really that desperate?