The Broken Mug

Standard

Beberapa bulan yang lalu, saya dan si Onyed mengunjungi sebuah pameran gadget yang dilaksanakan di sebuah mall di dekat tempat tinggal saya. Bukan mau saya tentunya, karena saya nggak suka-suka amat dengan gadget, tapi si Onyed yang sedang mencari sesuatu untuk ipadnya.

Di pameran itu, karena mengunjungi sebuah counter dan meninggalkan data diri di sana, kami mendapatkan dua buah mug promosian. Karena kembar, maka kami membagi mug itu sehingga masing-masing dari kami mendapatkan satu. Senangnya waktu itu kami punya mug kembar. Setelah itu, kami pun kembali pulang ke rumah masing-masing.

Saat hendak masuk ke unit apartemen saya, mug yang baru saja saya dapatkan kepentok kusen pintu. Mulanya saya kira hanya gagangnya saja yang pecah, tapi ternyata setelah saya buka bungkusnya, mug tersebut sudah retak hampir seluruhnya dan bahkan di bagian bibir gelasnya sudah cuil sedikit. Dasar mug murahan.

Setelah dengan tidak enak hati mengabarkan hal ini  kepada si Onyed, saya pun mengubah fungsi mug tersebut menjadi gelas untuk sikat gigi di kamar mandi. Setidaknya, pikir saya, gelas itu masih ada fungsinya.

Nah…

Beberapa hari yang lalu, si Onyed memberi tahu saya bahwa pembantu di rumahnya memecahkan gelas tersebut. Awalnya saya sudah lupa tentang gelas promosian murahan tersebut, sampai si Onyed menyebutkannya kembali (betapa kurang sensitifnya saya). Dan karena saya tidak terlalu pandai dalam menghibut (maaf saya bukan perempuan penghibur), maka saya hanya bisa bilang pada si Onyed, “ya sudah tidak apa-apa…”

Saya tidak sadar betapa atached-nya si Onyed dengan benda-benda. Saya juga suka mengoleksi memento, tapi saya tidak se-attached itu (apalagi dengan gelas murahan yang didapat gratisan di acara pameran seperti itu). Oleh karena itu, setelah urusan pembantu memecahkan gelas saya selesaikan, saya kira sudah tidak ada lagi cerita lanjutannya. Saya pun menghabiskan hari itu dan tidur dengan damai…

Pagi harinya, saya mendapatkan pesan di bb messenger saya kalau si Onyed sedang kesal karena gelasnya yang pecah itu dibuang!!

Nah! Saya baru nyadar kalau si Onyed ternyata attached banget sama benda-benda yang bahkan bukan memento. Dan itu membuat saya berpikir.

Beberapa hari yang lalu saya membuat tulisan tentang Relationship Chicken yang ternyata sempat menjadi hits (sedih banget yah, segitu aja dibilang hits, menunjukkan betapa sepinya blog ini). Betapa sulitnya seseorang melepaskan sesuatu yang membuat mereka merasa terikat, bahkan ketika sesuatu itu sudah rusak. Bagi si Onyed, itu berupa gelas, bagi yang lain, mungkin itu berupa sebuah hubungan.

Buat saya, gelas yang sudah rusak bukan lagi gelas. Gelas saya, kini sudah berubah nama dan fungsi menjadi “wadah sikat gigi” karena kerusakannya tidak seberapa. Sedangkan punya si Onyed, kini bernama “sampah”. Begitu juga sebuah hubungan. Buat yang kerusakannya tidak terlalu parah, mungkin bisa berubah menjadi persahabatan atau pertemanan, bagi yang lain hubungan itu bisa berubah menjadi “orang yang pernah dikenal” atau bahkan yang sudah lebih parah lagi berubah menjadi “orang yang dibenci”.

Tidak ada gunanya mempertahankan hubungan yang sebenarnya bukan lagi sebuah hubungan, sama eperti tidak ada gunanya mempertahankan gelas yang sudah tidak lagi berbentuk gelas (tapi sudah berupa sampah). Akan tetapi, tidak banyak yang bisa melihat bahwa gelas itu sudah berubah menjadi sampah, dalam hati berpikir masih bisa mengelem pecahan-nya supaya bisa digunakan lagi.

We’re not that desperate.

Are we?

Advertisements

2 responses

    • lho.. esensinya kan aku mesti bikin si Onyed nggak attached sama benda2 gitu lho, Neng… tapi udah kubelikan tempat pinsil kok sebagai gantinya… moga2 ga sedih lagi 😀

      Like