The Hair Is Gone

Standard

Ini seharusnya menjadi entry beberapa hari yang lalu, tapi karena sambungan internet saya sedang tidak bagus maka rencana saya untuk posting dengan rajin tanpa bolong-bolong pun batal sudah.

Yap! Saya menggunting rambut saya sampai setengahnya, and it feels good.

Saya tidak tahu kenapa banyak orang suka sayang menggunting rambutnya. Bahkan bisa nangis-nangis kalau rambutnya digunting (kebanyakan nonton America’s Next Top Model). Padahal, kalau dilihat-lihat setelah digunting rambutnya, mereka terlihat jauh lebih baik.

Saya juga tidak tahu kenapa Mama saya sayang rambut saya digunting jadi pendek. Bahkan dia mengatakan bahwa, “tidak apa-apa, nanti juga panjang lagi” seolah-olah saya memang menginginkan rambut saya panjang. Padahal, bukan rambutnya sendiri yang dipotong juga…

Saya menyalahkan society.

Bisa-bisanya iklan shampo selalu menggunakan model berambut panjang lurus (dan kadang-kadang bergelombang bagus) sebagai panutan, bukan yang berambut pendek dan sehat. Saya bukan cuma ngomongin model perempuannya saja, karena bahkan sebuah merek shampo menggunakan model pria yang berambut panjang. Seolah-olah memang rambut yang masuk dalam kategori bagus itu adalah rambut yang panjang dan lurus.

Saya paling sebal dengan indoktrinasi nilai-nilai semacam itu. Cantik itu harus begini, cantik itu harus begitu. Lebih tepatnya, cantik itu harus kurus langsing, bermata bulat besar, berkulit putih berhidung mancung, berbulu mata lentik, dan berambut panjang lurus. Dan saya, yang sipit dan tidak terlalu putih, dan sedang berjuang mengembalikan berat badan normal, dan sekarang berambut pendek karena habis dari salon, tidak termasuk dalam kategori cantik?

Hah! Biar saja!

Toh, kata si Onyed, rambut pendek saya malah membuat saya terlihat MENGGEMASKAN!

Ingat itu! MENGGEMASKAN! CUTE! KAWAII!!

Saya jadi ingat beberapa bulan yang lalu saya mengobrol dengan adik saya Mon, mengenai apa itu cantik. Cantik itu tidak pernah sama definisinya antara satu orang dengan yang lain. Bukan karena kecantikan itu adalah sesuatu yang bersifat relatif, dan subjektif. Definisi cantik itu terbentuk karena apa yang ada di masyarakat sekitar kita. Cantik didefinisikan oleh budaya yang kita percayai.

Untuk orang barat, cantik itu adalah kurus langsing, berwajah tirus, berkulit terang dan berambut pirang. Untuk orang Jawa, cantik itu berambut mengombak, berkulit kuning langsat, beralis tipis dan bertubuh kecil ramping. Untuk orang asia timur, cantik itu berkulit kuning, berwajah bulat berpinggul besar dan berambut panjang hitam dan lurus. Dan hanya karena negara-negara adikuasa yang menguasai pasar adalah orang-orang barat pada saat itu, maka merekalah yang mendefinisikan kecantikan dan membuat boneka barbie sebagai contoh.

Lalu, apa definisi cantik untuk saya?

Bagi saya, cantik itu sehat. Kulit sehat. Bentuk tubuh yang sehat. Mata yang sehat (dan sayangnya mata saya sudah cacat sejak saya masih SD). Gigi yang sehat. Dan juga, rambut yang sehat.

Bagi saya, rambut panjang yang kasar dan bercabang di mana-mana itu tidak cantik. Rambut panjang yang diluruskan sampai kaku seperti ijuk itu tidak cantik. Rambut yang diwarnai sampai kering dari ujung ke akar itu tidak cantik. Dan rambut saya yang pendek dan sehat ini cantik (dan, ingat kata si Onyed: “MENGGEMASKAN!”)

What’s pretty for you?

Advertisements

2 responses

    • bajus dong… jangan disanggul, di sasak lalu dikasih bando juga lucu. Emang ada acara apa mau sanggulan? Btw mei juga aku ada acara keluarga, tapi acara gunting rambut jalan terus. Klo hair stylistnya oke kan mau rambutku panjang atau pendek tetep bisa bikin kelihatan bagus…

      Like