Living Life Like It Should Be

Standard

Dulu saya sering berpikir, kenapa sih orang tua saya selalu mengomel kalau pola hidup saya kebalik. Maksudnya, saya sering tidur menjelang pukul delapan pagi dan baru bangun siang atau sore harinya dan beraktivitas sepanjang malam. Padahal, bahkan sampai saat ini saya merasa otak saya selalu lebih aktif pada waktu malam. Saya merasa lebih kreatif dalam menulis atau menciptakan segala sesuatunya di malam hari dan apabila saya bangun pagi, maka saya akan merasa mengantuk dan tidak bisa mengerjakan apapun saat malam hari.

Saya juga punya alasan lain yang lebih oke pada waktu itu, bahkan sampai saat ini pun masih begitu, bahwa sinyal internet jauh lebih mudah didapatkan pada waktu malam. Apalagi diantara menjelang tengah malam sampai subuh, kecepatan internet memang tidak bisa ditandingi oleh kecepatan internet pada waktu siang. Secepat apapun itu internet di siang hari.

Akhirnya saya mengerti juga setelah beberapa hari terakhir mencoba menjalani kehidupan dengan seperti yang diinginkan oleh orang tua saya. Misalnya, saya bangun pagi, dan melakukan beberapa kegiatan yang sepertinya wajar dilakukan seperti pergi ke agen pendidikan dan mengurus beberapa dokumen yang saya butuhkan. Atau, saya pergi jalan-jalan dengan adik saya yang baru saja lulus sidang dan SUDAH menyelesaikan revisi untuk laporan skripsinya. Atau, main game sepanjang hari, di siang hari dan ternyata memang tidak terlalu banyak berbeda dengan main game sepanjang malam.

Lho.

Kenapa saya tiba-tiba berubah pikiran?

Saya rasa ini ada hubungannya dengan keinginan menjadi dewasa. Ketika menyesuaikan diri bukanlah hal yang sepenuhnya salah. Dan mempertahankan prinsip dan pendapat memang seharusnya berbeda dari sekedar ngeyel tanpa alasan. Jadi, untuk mempunyai alasan yang tepat, saya harus tahu dulu apa yang saya lewatkan di malam hari kalau saya memutuskan untuk menjadi makhluk siang, bukan?

Ya. Saya memang tidak mendapatkan internet secepat di malam hari, tapi ternyata saya bisa bertahan tanpa internet sepanjang waktu. Saya masih bisa posting setelah malam tiba. Siang harinya, saya tidak perlu sibuk menaikkan level CSI Crime City saya di Facebook seperti yang saya lakukan kalau saya online sepanjang malam. Dan, hasilnya saya malah bisa menyelesaikan membaca beberapa buku, membuat syal yang bagus untuk nenek saya, dan juga membuat beberapa karya cross-stitch untuk si Onyed.

Saya bisa berkeringat sedikit menyisakan waktu untuk berbenah-benah rumah, dan mungkin juga makan lebih sehat karena pada siang hari lebih banyak pilihan katering yang bisa saya pesan. Kabar baiknya, saya tidak harus selalu memesan 14045 atau 14022 yang ada 24 jam hanya karena saya tidak bisa menemukan makanan sehat tengah malam.

Nongkrong di cafe, kalau saya sedang bosan dengan pekerjaan tangan di rumah, juga jauh lebih menyenangkan dengan kesibukan tambahan. Misalnya, saya membawa laptop dan menulis (ternyata tidak terlalu susah menulis di siang hari), atau membawa buku dan membaca. Efeknya, jauh lebih keren nongkrong di kafe dan membaca di siang hari, karena lebih banyak yang melihat kegiatan kita tersebut 😀

Dan, yang pasti, melakukan kegiatan-kegiatan di siang hari membuat saya memiliki lebih banyak pilihan. Mungkin saya tidak bisa bangun pagi, seperti pada waktu saya masih bersekolah dulu, tapi setidaknya saya bisa bangun sedikit lebih pagi daripada biasanya. Saya juga tidak berasa terlalu pengangguran di masa-masa penuh penantian ini (menanti apa? Kapan-kapan saya beritahu).

Tentu saja, saya masih suka tidur lewat tengah malam dan bangun menjelang makan siang, tapi saya tidak lagi berpikir bahwa itulah yang seharusnya saya lakukan. Kalau saya tidur larut dan bangun sangat siang, saya mulai berpikir bahwa saya bisa melakukan lebih baik. Saya rasa itu bagus juga, membuat saya sedikit lebih teratur dari sebelumnya 😀 See? Saya juga bisa posting lebih teratur tiap harinya kan?

Advertisements

Comments are closed.