The Rich And The Richer

Standard

Beberapa kali, ketika saya bercerita tentang teman-teman saya kepada orang tua saya, maka orang tua saya akan bertanya: “orang tua temanmu itu kerja apa?”

Entah kenapa bagi saya pertanyaan itu agak nggak enak didengar. Memang sih, wajar-wajar saya orang tua saya bertanya tentang teman seperti apa yang ada di sekitar anaknya, tetapi pertanyaan sekitar pekerjaan orang tua bukanlah topik yang pernah saya ungkit saat mulai berteman dengan seseorang. Saya cukup yakin, teman saya akan menceritakan keluarganya dengan sendirinya kalau dia merasa sudah cukup nyaman untuk bercerita kepada saya, bukan? Itulah kenapa, sampai saat ini ada beberapa teman yang bisa saya golongkan ‘dekat’ namun saya tidak pernah tahu apa pekerjaan orang tuanya.

Berbeda dengan saya, beberapa orang yang saya kenal merasa menanyakan pekerjaan orang tua itu sesuatu yang sangat penting, sama seperti orang tua saya. Dalam beberapa kali pertemuan saja, orang-orang tersebut sudah berhasil mengorek, dalam artian bertanya secara langsung, pekerjaan orang tua, seperti apa keadaan finansial keluarga mereka, dan lain-lain. Bukan tidak pernah saya mendengar orang-orang ini berkata, “I just know this person, and I know she/he is rich.”

Bukannya saya ga punya temen orang kaya! (kasian bener)

Salah satu teman saya sangat kaya dan punya kolam renang di rumahnya, tapi bahkan saya baru tahu tentang pekerjaan orang tuanya dan kebiasaanya jalan-jalan ke Singapore setelah enam semester satu kelas dengan orang ini. Bukannya saya nggak peduli sama teman saya ini, hanya saja… saya nggak peduli orang tuanya kerja apa asalkan anaknya asik dan bisa berteman dengan saya. Toh, saya nggak berteman sama bapaknya atau mau jadi teman nongkrong mamanya, kan? Saya main sama anaknya juga biasa aja tuh. (karena anaknya memang super humble)

Teman-teman lama saya juga mengalami nasib yang sama. Saya masih tidak tahu pekerjaan orang tua teman-teman SMA saya. Dan menurut saya, setelah dewasa, pekerjaan orang tua mereka bener-bener nggak penting untuk ditanyakan, karena yang penting saya tahu pekerjaan teman-teman saya sekarang, bukan? Saya berteman dengan mereka bukan karena mereka anak orang kaya, jadi seandainya orang tua mereka bukan orang kaya pun, tidak akan mengubah pandangan saya terhadap mereka.

Beberapa orang yang saya kenal, sangat senang bergaul dengan teman-teman yang kaya. Mereka akan sangat bangga kalau bisa bercerita bahwa mereka bisa hang out dengan teman-teman dari strata sosial A++. Mereka akan mengungkapkan betapa enaknya menjadi si A++ ini, bisa makan-makan di restoran mewah, jalan-jalan ke luar negeri, dan membeli sepatu dan tas branded. Mereka akan diam-diam merasa iri dan kepengen memiliki apa yang dimiliki si A++ ini, dan kemudian menyebut-nyebut betapa enaknya menjadi anak orang kaya.

Bener-bener…

Orang tua saya bukan orang kaya, tapi keluarga saya berkecukupan. Cukup untuk membiayai saya dan adik-adik saya sekolah, cukup untuk memberi makan kami, dan cukup untuk tabungan hari depan mereka. Dan saya rasa, saya cukup iri dengan orang tua saya, yang dua-duanya juga bukan anak orang kaya.

Sebagai penutup, saya mau menceritakan ulang apa yang pernah diceritakan oleh dosen saya dulu di semester-semester awal kami.

Ceritanya, Dosen saya sedang berada di ruang tunggu bandara, menunggu boarding sebuah maskapai penerbangan internasional. Di ruang tunggu kelas ekonomi, dia melihat salah seorang temannya melintas, dan disapalah sang Teman tersebut. Dosen saya mengajak Teman itu bergabung, tapi Teman tersebut menolak, dan mengatakan bahwa dia di ruang tunggu terpisah karena dia menggunakan tiket kelas satu. Baiklah, Dosen saya kembali duduk.

Beberapa saat kemudian Dosen saya harus ke toilet, karena pesawat yang ditunggu belum datang. Selesai melakukan aktivitas toiletnya, Dosen saya bertemu dengan si Om, yaitu ayahnya si Teman. Dosen saya menyapa si Om, karena dia cukup dekat dengan keluarga Teman itu, dan bertanya apakah si Om akan melakukan penerbangan dengan rute yang sama. Si Om, mengiyakan, namun dia tidak tahu kalau anaknya juga berada di penerbangan yang sama.

“Om, duduk di kelas satu juga dong, Teman kan duduk di kelas satu,” kata Dosen sambil beramah tamah.

Tanpa di sangka-sangka si Om menjawab,

“Ah… saya di kelas ekonomi saja. Biar saja dia duduk di kelas satu, dia kan ANAK ORANG KAYA, dan saya bukan…”

Advertisements

Comments are closed.