The Tale of The Laundry Service

Standard

Beberapa bulan ini saya selalu menggunakan jasa laundry kiloan untuk mengurus baju-baju kami sekeluarga. Bukannya saya nggak bisa nyuci sendiri, tapi keadaan tidak memungkinkan, dan terutama, saya malas juga kalau harus nyuci. Entah kenapa di semua jenis pekerjaan rumah, saya paling malas kalau yang berhubungan dengan cuci mencuci. Mencuci baju, mencuci piring… dan lanjutannya seperti menjemur, mengambil jemuran, menyetrika…

Malas betul.

Kalau misalnya saya diberi pekerjaan yang lain, misalnya ngelap-ngelap meja, atau nyapu dan ngepel. Atau saya bertugas ganti seprei, sarung bantal dan guling. Atau pekerjaan sejenisnya yang hanya sedikit melibatkan air dan baju, saya akan sangat senang melakukannya. Akhirnya, pekerjaan mencuci yang saya lakukan hanyalah mencuci pakaian dalam saya sendiri.

Agak geli kalau pakaian dalam mesti dicucikan orang lain.

Dan, sejak kami menggunakan jasa laundry kiloan itu juga lah, sudah beberapa kali kami berpindah-pindah tempat menggunakan jasa. Bukannya kami memang suka pindah-pindah atau mengejar paket promosi dari tempat laundry yang baru buka, tapi kami selalu menemukan pola yang sama yang membuat kami kepengen ganti jasa laundry.

Setiap kali kami menggunakan jasa laundry yang masih baru, mereka akan menawarkan banyak servis kepada kami. Mereka akan datang secepat mungkin ketika dipanggil, dan mengembalikan cucian secepat mungkin setelah mereka menerima cucian tersebut. Tetapi, begitu mereka sudah mulai punya banyak pelanggan, maka mulailah, penyakit yang sama yang selalu saya temui di semua jasa laundry service: dipanggil datangnya lama, bahkan bisa tidak datang tanpa pemberitahuan kenapa, dan baju yang sudah diambil, katanya akan kembali selama dua atau tiga hari, bisa sampai seminggu tidak datang-datang. Bahkan kami harus menelepon untuk menagih baju kami.

Saya jadi bingung, mereka sebenarnya niat bikin tempat menawarkan jasa atau tidak. Kok kayaknya nggak niat gitu?

Dipikir-pikir, sebenarnya kan namanya orang yang usaha di bidang jasa, mestinya mengandalkan kepuasan pelanggan, kan? Kalau pelanggan puas, pasti balik lagi menggunakan jasa mereka. Pelanggan baru nggak selamanya ada, tapi kalau pelanggan baru sudah habis dan pelanggan lama kapok (dan malah menyebarkan testimoni jelek kepada calon-calon pelanggan potensial), malah jadinya harus tutup usaha seperti salah satu jasa Laundry kiloan yang pernah kami gunakan dulu.

Gimana sih mereka ini? Mau buka usaha kok nggak belajar mengerti pelanggannya?

Advertisements

2 responses

  1. Sutralah, berbahagialah karena kamu bisa menikmati servis laundry yang aduhai kayak gitu, sementara aku cuma bisa nyengir asem kalau harus nyuci.

    Ini ndak cuma aku ya, tapi semua orang miskin yang tidak punya mesin cuci karena apartemennya terlalu kecil untuk naruh mesin cuci yang gedong itu kayak aku gini harus pergi sendiri ke laundry, masukkan koin sendiri, nunggui mesin selesai nyuci, terus memindahkan cucian sendiri ke mesin pengering, melipat baju sendiri dan selesai.
    Kenapa? karena ndak ada servis kayak gituan di kotaku.

    Dan menunggu di laundry service berpuluh-puluh menit itu membosankan lho, ya kalo pas bareng mas-mas cakep yang juga mau nyuci kan enak bisa dicolak-colek, lha kalau pas ketemu emak-emak yang suka ngerumpi dan mereka datang dengan gerombolannya satu blok, hayo….

    Sementara kamu enak, tinggal nelpon semua jadi bersih.

    Like

    • Memang enak kalo tinggal bayar baju langsung bersih, dan artinya aku ga usah nyuci sendiri, tapi untuk duit yang aku bayarkan mestinya ada tanggung jawab dan garansi dari pihak penyedia jasa dong. Mosok aku udah bayar masih harus dibikin kesel karena layananya nggak profesional.

      Menurutku yang jadi masalah di sini adalah profesionalisme para penyedia layanan jasa. Heran juga karena dulu pas kuliah aku diajarin kalau alat marketing yang paling bagus itu ya Word of Mouth. Gosip ibu-ibu arisan bagaimanapun juga lebih terpercaya daripada iklan berpuluh-puluh juta di teve.

      Emang enak, di sini banyak variasi layanan jasa, tapi jangan iri, Djo. Tinggalah di Indonesia beberapa lama, kamu akan sadar betapa nggak enaknya dilayani dengan berkelimpahan, tapi tanpa profesionalisme.

      Like