Bintang Porno Main Film

Standard

Beberapa hari yang lalu saya menonton salah satu acara pagi di sebuah televisi swasta nasional yang isinya kebanyakan tentang berita. Topiknya adalah “Serbuan Bintang Porno”, yang intinya membicarakan banyaknya bintang porno yang dipekerjakan di film-film nasional kita.

Sudah rahasia umum kalau produksi film nasional akhir-akhir ini mulai menurun kualitasnya, dengan banyak film-film yang tidak jelas juntrungannya. Jumlah film kelas dua (atau bahkan kelas tiga ini) benar-benar tidak  bisa diimbangi dengan film kelas A yang layak diikutsertakan dalam festival-festival film internasional; seperti Madame X yang kemarin sempat dinominasikan dan memenangkan beberapa kategori dalam Asian Movie Award. Sekarang, para produsen film, menggunakan pemain film porno untuk mengungkit penjualan mereka. Teknik marketing.

Sebenarnya, film yang diproduksi bukanlah film porno. Bahkan menurut beberapa yang sudah menonton, tidak ada porno-pornonya sedikit pun. Menggunakan nama bintang film porno di dalam film tersebut hanyalah untuk mengungkit ‘buzz’ dan membuat film dengan kualitas dibawah rata-rata menjadi dibicarakan karena menggunakan pemain dengan popularitas diatas rata-rata. Dan, itulah yang dibicarakan di bincang-bincang di acara TV tersebut.

Sayangnya, menurut saya, meskipun pihak televisi berusaha mencitrakan dirinya sebagai pihak netral yang memoderasi bincang-bincang tersebut, namun saya melihatnya tidak demikian. Menurut saya, host acara tersebut terlalu berat sebelah dan menyerang pihak produser film, dan meskipun secara tidak langsung membela si pengamat film tapi jelas bahwa sebelum bincang-bincang dimulai pun mereka sudah punya pendapat sendiri, tidak peduli apapn hasil diskusi tersebut.

Yang saya lihat, si Pengamat Film (PF) itu sebenarnya tidak pintar-pintar amat. Okelah dia mungkin idealis, tapi idealis bukan berarti pintar. Dia bahkan tidak mengerti maksud si Bapak Produser (BP) yang menjelaskan panjang lebar bahwa menggunakan bintang film porno adalah sebuah taktik marketing yang mereka gunakan untuk menembus pasar asia.

IYA! Saya juga mengerti kalau filmnya bagus, pasar asia bahkan internasional pun bisa ditembus. Tapi, kalau film dengan kualitas di bawah rata-rata bisa menembus pasar asia, harus berani berbesar hati bilang bahwa taktik marketingnya hebat juga dong! Kalau misalnya bisa pakai bintang film sekelas Julia Roberts untuk main di film Indonesia, ya tentu saja orang yang nonton lebih banyak lagi, tapi Julia Roberts mana mau main film di sini kalau film Indonesia belom ada nama sama sekali di dunia internasional (bahkan asia). Bagi saya, meksipun saya ngga pernah nonton filmnya, dan nggak berniat juga nonton film-film itu, tapi membuat film jelek Indonesia bisa membukakan jalan di pasar asia, adalah tindakan yang cukup heroik.

Si PF berulang-ulang bilang:
“Kita kan tahu kalau Miyabi itu bintang film porno. Kalau memakai Miyabi di film, penonton berharap bisa melihat yang porno-porno juga. Dan ketika menemukan bahwa tidak ada yang porno-porno, penonton jadi kecewa…”

Sebuah generalisasi yang keterlaluan. Sampai hari ini saya belom pernah tahu bagaimana mukanya Miyabi. Saya juga tahu bahwa banyak di Indonesia ini orang-orang yang tidak tahu seperti apa sih tampangnya Miyabi itu. Banyak orang yang menonton karena kontroversinya membuat penasaran: seperti apa sih Miyabi yang dibicarakan itu? Banyak yang menonton karena: Asik bisa liat Miyabi. Ada juga yang menonton dengan alasan: Asik bisa bikin review penuh penghinaan di blog.

Kalau dia boleh membuat generalisasi penonton Indonesia semacam itu, saya juga boleh menarik kesimpulan sementara bahwa si Pengamat Film yang sok pintar itulah yang sebenarnya kecewa setelah menonton film Miyabi dan tidak menemukan adegan porno di sana. Penonton Indonesia mana sih yang sekarang mencari film porno di bioskop? Di saat media untuk film porno sekarang sangat beragam, dari DVD pinggir jalan sampai internet, dengan tingkat privasi menonton film porno yang lebih terjamin (di rumah gitu!).

SIAPA YANG PENGEN NONTON FILM PORNO DI BIOSKOP RAME-RAME KAYA GITU?

Iya sih, saya akan sangat senang kalau si BP mengubah teknik marketingnya jadi sedikit lebih berkelas gitu. Instead of hiring porn stars, mulailah menghire sutradara atau penulis cerita yang punya level lebih tinggi. Saya yakin penonton juga bisa memilih mana yang ditonton untuk dinikmati dan mana yang ditonton untuk dihina. Tapi, semales-malesnya saya mendengar alasan terbata-bata si BP ini, saya tetep lebih eneg mendengar komentar sok tau sok pintar dan sok idealisnya PF.

Seriously, saya baru tahu Sora Aoi sudah main serial di Thailand. Buat saya pekerja film adalah pekerja film. Porn atau non-porn hanyalah genrenya. Memangnya orang ga boleh pindah genre? Siapa tahu para porn-stars itu sekarang bosan main film porno karena selalu masuk angin setelah shooting, sehingga mereka sekarang pengen main film yang tidak porno lagi?

Jadi orang kok pikirannya porno melulu?

Advertisements

2 responses

  1. lemme guess, 811 show bukan?. kalo iya, waktu itu komentar2nya si PF memang absurd :)), bukan lawan diskusi yang seimbang buat BP dan hostnya.

    Like