Geblek-berry

Standard

Beberapa waktu lalu saya dan La adik saya pergi menonton bioskop di salah satu megaplex di mal, dekat tempat tinggal kami. Emang kami ini nggak gaul, tiap kali jalan-jalan ya paling lagi-lagi ke mal itu. Kali itu, bosan lihat-lihat toko yang barangnya tak pernah kami beli, kami memutuskan untuk menonton sebuah film hollywood yang segera akan saya bikin reviewnya.

Sebenarnya, yang paling enak menonton di hari biasa saat jam-jam nanggung semacam itu adalah karena harga tiketnya lebih murah dan nontonnya lebih sepi. Kami pun mendapat privilege memilih kursi di barisan agak belakang, dan pas di tengah-tengah. Berharap sebaris kursi itu akan menjadi milik kami.

Pernah mendengar kata apes? Apes berpadan kata dengan sial, kurang beruntung atau lebih tepatnya “hari yang luar biasa buruk”.

Nah.

Apeslah kami hari itu.

Memang betul bahwa sebagai manusia terutama yang tinggal di negara kurang tata tertib, kita tidak bisa berharap terlalu banyak dari sistem, dan manusia hasil bentukan sistem tersebut. Tepatnya, saya sedang berusaha susah payah menjelaskan betapa apesnya saya saat itu. Saya seharusnya memahami tanda-tandanya. Keapesan dimulai dari saat lagu yang diputar sebelum film diputar berhenti.

Ada kurang lebih seratus kursi di ruangan itu dan kurang dari dua puluh orang penonton di sana. Kok ya pada milih kursi di kanan kiri kami sih? Ga pake jarak satu kursi buat privasi pula.

Okelah. Sama-sama bayar, pikir kami, tidak bisa melarang orang milih tempat duduk dekat-dekat dengan kami. Tidak bisa disangkal kalau kami punya daya tarik tersendiri yang membuat banyak orang suka dekat-dekat dengan kami. Sayangnya, kami tidak suka dekat-dekat dengan orang lain, apalagi orang-orang yang tidak tahu aturan.

Sebelum lampu dimatikan, di layar terpampang beberapa aturan beretika di dalam bioskop, yang mestinya untuk beberapa manusia beradab sudah tidak perlu lagi. Misalnya: jangan menaikkan kaki di kepala kursi depannya, jangan ngobrol bikin berisik di dalam auditorium, dan matikan HP. Setidaknya matikan suaranya. Siapa yang tidak tahu aturan-aturan sederhana semacam ini? Eh ternyata ada juga loh…

Dua orang laki-laki berbaju kemeja seperti sedang madol dari kantor (iya lah, jam-jam nanggung gitu saya bilang), duduk pas di samping kiri saya. Begitu duduk mereka langsung ngobrol dengan suara keras sampai saya tahu apa saja yang mereka bicarakan. Sejenak sebelum film dimulai, satu yang duduk di sebelah saya langsung keluar untuk terima telepon, yang satu lagi menonton dengan diam. Saya belum terlalu terganggu meskipun gerakan berjalan keluar masuk cukup membuat perhatian saya tersita, teralihkan dari layar.

Di tengah-tengah film dia masuk dan duduk dengan gerakan menghentak. Saya melirik, adik saya La mendengus sebal. Teman di sampingnya memberikan ringkasan cerita mengenai film tersebut agar teman menontonnya bisa catch up ceritanya. Lagi-lagi mereka membahas film itu tanpa berusaha mengecilkan suara cempreng mereka.

Setelah itu blekberi orang yang persis duduk di samping saya berbunyi.

DING!

Bangsat!

Saya pikir, mungkin dia sedang lupa mematikan suaranya. Biasa kan orang suka lupa, tapi…

DING!

DING!

DING!

Kirain lupa, ternyata bangsat beneran. Bahkan dia ga sadar kalau saya dan La sudah sangat terganggu dengan suara bbm nya. Dan belum cukup itu saja, setelah sepuluh menit ber DINGDING, hp satunya berbunyi, dan manusia biadab yang tidak tahu etika di dalam bioskop itu mengangkat telepon dan berbicara dengan santainya.

Kalau kalian mengira setelah telepon maka dia nggak DINGDING-an lagi, maka kalian salah. Kami juga salah karena berharap dia akan tahu diri. Si biadab norak BB itu melanjutkan aktivitas DINGDING nya, tidak mempedulikan La yang dengan suara keras berkomentar:

“Nggak bisa disilent ya?”

Akhirnya 20 menit menjelang penghabisan film itu. Lebih dari setengah jam penuh derita. Saya dan La memutuskan pindah tempat duduk. Satu auditorium kosong juga, saya tidak mengganggu orang lain atau menyabotase tempat duduk orang lain. Dan 20 menit terakhir itu saya baru bisa menonton dengan tenang.

Brengsek betul.

Mungkin tidak semua orang boleh punya hp ya? Mungkin suatu hari orang_orang harus bikin surat ijin punya hp sebelom punya hp betulan, kaya SIM gitu… Ada ujiannya dulu, jadi tahu siapa yang layak punya HP dan siapa yang nggak. Diajarin dulu etika punya HP, dimana boleh berisik dengan HPnya dan dimana nggak boleh.

Seandainya…

Advertisements

4 responses