KARTINI

Standard

Yap… Kemarin adalah hari Kartini, dan saya menghabiskan waktu mencari-cari tahu tentang perempuan yang namanya harum dan dinyanyikan berulang-ulang dalam lagu ini. Bukan hanya saya ingin mengambil keuntungan dari perjuangan yang sudah dilakukannya dulu untuk kaum perempuan Indonesia, saya ingin lebih mengenal mengenai pribadi perempuan yang menjadi idola penulis Pramoedya Ananta Toer ini. Tentu saja saya tidak akan menuliskan biografinya di sini, karena saya tidak cukup meriset tentang Ibu Kita Kartini.

Saya jadi ingat pelajaran sejarah dulu saya dapatkan di SD mengenai pahlawan-pahlawan nasional kita. R.A. Kartini adalah satu tokoh yang wajib dipelajari; dikatakan karena kiprahnya memajukan pendidikan untuk kaum perempuan Indonesia. Tapi, setelah mempelajari tentang perempuan ini, saya jadi tidak mengerti kenapa setiap hari Kartini kita disuruh mengenakan baju adat. Jujur aja, ritual ini nggak ada hubungannya sama sekali dengan kegiatan memorial R.A. Kartini itu.

Ya. Kartini adalah seorang feminis, dan yang tidak banyak orang ketahui dia juga seorang pengajar dan pengamat budaya yang cukup kritis. Keberanian Kartini untuk melakukan otokritik membuat Kartini dianggap berbahaya oleh banyak orang pada jaman itu. Kenapa berbahaya?

Pada saat Kartini sedang semangat-semangatnya, Belanda juga sedang giat-giatnya melakukan politik devide et impera, menggunakan budaya Jawa sebagai alatnya. Dikisahkan bahwa orang Jawa itu punya semangat kepriyayian yang tinggi, dan sangat suka dengan kekuasaan, maka dipecah-pecahlah tiap daerah dengan diangkatnya raja-raja kecil/bupati untuk tiapkantong-kantong kekuasaan Belanda. Kalau si Bupati mau pangkatnya tetap aman, maka dia harus mengikuti maunya penjajah, dan segala upeti dan pajak menjadi milik si Bupati.

Kartini adalah anak Bupati Jepara, itulah kenapa dia bisa punya gelar Raden Adjeng di depan namanya. Dengan pangkat dan koneksi bapaknya dia bisa mendapatkan pendidikan yang baik. Dan di sinilah memang pentingnya pendidikan dan membaca (Kartini dikisahkan sangat suka membaca), karena dengan menjadi pintar, manusia itu (bukan hanya perempuan saja) tidak menjadi buta, dan berjalan seperti kuda yang diberi kacamata kuda, disetir oleh siapapun itu kusirnya. Dan memang dengan membaca dan belajar itu, Kartini menyadari kelemahan budayanya, bukan hanya secara politis namun bahwa budaya jawa itu menempatkan perempuan sebagai warga negara kelas dua.

Pada saat itu, perempuan tidak boleh berada di ruang depan kecuali mendapatkan undangan dari pihak laki-laki. Makan dan beraktivitas pun selalu di bagian belakang rumah, karena menurut adat memang begitulah posisi perempuan di strata sosial, di belakang. Meskipun kemudian muncul pembelaan-pembelaan bahwa posisi perempuan bukan direndahkan melainkan diberikan kewajiban yang berat sebagai pendukung dan penopang keluarga dari dalam, tapi saya rasa itu hanya pembenaran saja karena toh sebenarnya perempuan tidak diberikan pilihan ingin menjadi penopang atau menjadi pemimpin.

Pandangan-pandangan Kartini yang dianggap subversif ini, hendak diajarkannya kepada banyak perempuan, sehingga menurut Belanda, Kartini harus diredam. Tidak terbayang kalau Kartini mengajar banyak perempuan (sedangkan perempuan itu mayoritas secara jumlah), bisa-bisa timbul pergolakan karena akan muncul kekuatan yang selama ini tidak disadari oleh orang Indonesia sendiri. Belanda memaksa bapaknya Kartini mencarikan suami untuk anaknya, untuk ‘memasung’ dan ‘meredam’ semangatnya yang berapi-api untuk mengajar. Dan… berhasil!

Ancaman Belanda kepada sang Bupati Jepara itu berhasil karena Kartini merasa kasihan kepada bapaknya yang merasa tertekan dan terjepit antara rasa sayangnya kepada anaknya dan keinginannya untuk mempertahankan jabatannya sebagai Bupati. Dan setelah menikah dan dijadikan istri muda seorang pejabat, Kartini akhirnya memutuskan untuk tidak lagi melanjutkan perjuangannya untuk terus belajar dan pada akhirnya mengajar. Meskipun terlalu dangkal kalau saya mengambil kesimpulan bahwa pernikahan adalah sebuah penjara untuk perempuan, tapi pada jaman itu mungkin memang begitulah kiranya.

Pernikahan itu, oleh Kartini, dipolitisir menjadi alatnya untuk muncul ke permukaan. Di mana sebagai lajang dia tidak bisa melakukan beberapa hal karena harus menjaga image-nya, sebagai istri pejabat dia bisa bersuara lebih lantang. Itulah mulanya dia memiliki surat-surat berisi pemikiran-pemikiran yang sebenarnya ingin dia tulis sebagai buku.

Sempat beberapa lama saya berpikir ulang, kenapa Kartini begitu historisnya, padahal dia tidak berhasil mewujudkan keinginannya sedikitpun. Kartini akhirnya menikah padahal dia menentang budaya patriarkal Jawa, juga mendukung poligami (karena pernikahannya sebenarnya hanya alat politik baginya), berhenti belajar, dan batal mengajar. Saya tidak mengerti kenapa kegagalannya menjadi sesuatu yang besar? Kenapa dia disebut pahlawan perempuan padahal akhirnya dia tunduk kepada budaya yang ditentangnya sendiri?

And this is why.

Kegagalan Kartini menginspirasi banyak perempuan-perempuan lain; yang terkenal seperti Dewi Sartika dari Jawa Barat, untuk melanjutkan misinya. Bahkan menurut kata Pram, menurut risetnya sendiri mungkin, Kartini juga menginspirasi banyak kelompok-kelompok kecil perempuan untuk belajar dan setidaknya mengerti akan hak-haknya sendiri. Mungkin sekarang perjuangan itu belum terasa karena benturan budaya dan agama, tapi Kartini adalah seorang feminis, bahkan sebelum gelombang feminis di dunia dimulai. Kartini menjadi historikal karena dia adalah pelopor.

Sekarang, orang bebas mengintepretasikan sendiri makna hari kartini untuknya. Ada yang mengatakan bahwa hari Kartini adalah waktunya perempuan menilik kembali bahwa hak-haknya diperjuangkan. Ada yang bilang bahwa hari Kartini mengingatkan kembali bahwa perempuan memiliki kebebasan. Ada yang bilang bahwa di Hari Kartini perempuan harusnya bersyukur karena sekarang nasib perempuan tidak seperti dulu lagi. Suka-suka mereka yang mengintepretasikan.

Advertisements

2 responses

    • Omaigat! Salah tulis deh gue! Hahaha… abis ingetnya begitu sih, Cyin! jadi lupa nggak ngecek lagi. Langsung edit deh ya…

      Like