Kebaya Kartini

Standard

Pada waktu saya lulusan kemarin, saya dibikinkan kebaya untuk acara wisuda. Kebaya itu berwarna putih dengan motif garis samar dan bordiran bunga di bagian leher dan bagian bawah kebaya tersebut. Kebaya sederhana semacam ini biasanya disebut dengan Kebaya Encim; karena pada jaman dulu banyak encim-encim (wanita-wanita Cina yang sudah berumur) mengenakan kebaya semacam ini. Tapi, banyak yang mungkin belum tahu bahwa Kebaya Encim disebut oleh beberapa kelompok sebagai Kebaya Kartini; karena Kartini sering terlihat mengenakan kebaya semacam ini. Bahkan bisa dibilang, ciri khas Kartini adalah Kebaya Encim ini.

Lalu kenapa kalau lagi hari Kartini, orang-orang merasa penting menggunakan kebaya mewah dengan broklat mahal, mendandani anak-anak mereka dengan baju-baju daerah yang bermacam-macam jenisnya (dan dilombakan pula); bukan hanya yang perempuan, tapi juga yang laki-laki. Benar-benar nggak nyambung sama sekali, bukan? Mungkin dalam hal ini, saya setuju dengan tetangga blog saya si Soe, yang juga menginspirasi tulisan saya hari ini.

Kadang-kadang saya kasihan dengan negara ini, dan merasa nelangsa kalau ingat para pahlawan dan pejuang nasional dulu. Dengan diberikannya pelajaran sejarah di sekolah, betapa anehnya kalau banyak orang (setidaknya yang saya kenal) tidak tahu apa-apa mengenai sejarah bangsa ini. Okelah, banyak yang bilang kalau sejarah bangsa ini sudah banyak diputarbalik faktanya, tapi setidaknya hal-hal yang mendasar seperti kenapa ada keraton Jogja dan Solo atau siapa pahlawan dari Makassar bukan sejarah yang berbahaya kalau dipelajari.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang mengenal sejarah bangsanya. Bukannya saya tidak tahu kalau sejarah ditulis oleh para pemenang, tapi siapapun pemenangnya kita selalu bisa belajar banyak dari sejarah. Kebenarannya, kesalahannya, kebaikannya maupun keburukannya.

Saya tidak tahu kenapa muncul tradisi mengenakan pakaian adat yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan Kartini. Coba. Apa maknanya mengenakan pakaian adat? Apa mau mencontoh poto Kartini di buku sejarah mengenakan baju adat jawa?

Tidak tahukah para pembuat tradisi ini kalau Kartini sebenarnya adalah perempuan yang tidak bisa diam dan seandainya pada jaman itu sudah populer jeans dan kaos oblong, mungkin beliau akan memilih mengenakan baju nyaman itu? Atau, jangan-jangan Kartini lebih suka mengenakan blazer dan rok bahan yang chic dan modern? Kenapa? Karena sebenarnya Kartini bukan perempuan yang senang dengan kerangkeng budaya. Karena dibalik Kebaya Encim-nya, Kartini adalah ROCKSTAR pada jamannya. Pikirannya moderen dan melaju ke depan.

Ke depan.

Ke masa depan.

Lha kok sekarang, bukannya ngajari anak-anak dengan pikiran-pikiran maju, di Hari Kartini anak-anak diajari untuk melihat ke belakang tanpa diberitahu apa yang harus dilihat dari masa lalu. Diajari untuk mengenakan baju adat untuk mengenang perjuangan Kartini tanpa pernah tahu sebenarnya apa yang diperjuangkan. Mungkin orang tua yang menyuruh anaknya berdandan ala puteri keraton seperi Kartini dulu memang tidak tahu apa yang sebenarnya diperjuangkan Kartini. Nggak ngerti kalau Kartini menginginkan modernisasi.

Kebaya Kartini membuat saya jadi merana. Saya selalu diingatkan betapa kacaunya sejarah negeri ini sampai-sampai orang-orangnya saja malas mempelajarinya. Betapa sejarah yang seharusnya bisa diceritakan berulang-ulang seperti dongeng penyemangat yang menarik hanya terdengar seperti kisah membosankan yang wajib dipelajari. Kenapa?

Advertisements

2 responses

  1. gini lho ya….. orang (negara) lain belajar sejarah, buat di ambil sari nya, untuk referensi dalam melangkah ke depan.
    kalo orang (negara) indonesia, belajar sejarah untuk bikin trauma anak-anak, suruh nge hapalin segala data, yang ga berguna bagi masa depan…..

    Like

    • Lho.. sebenernya kan tujuannya belajar sejarah untuk memang diambil sarinya. Yang salah tidak diulangi, yang jaya diulangi lagi. Nanti kalo komen soal metode, larinya lagi-lagi ke kurikulum lah, Jeung…

      Like