How Do You Hate Yourself?

Standard

Saya menanyakan hal ini selama beberapa hari, atau mungkin sudah lebih dari seminggu ini. Pertanyaan ini terasa lebih mengganggu ketika saya sedang nongkrong di WC, doing my business, sambil bengong menunggu selesainya panggilan alam tersebut. Saya tidak mengerti juga kenapa toilet telah menjadi tempat yang sangat inspiratif bagi saya. Bahkan, sejak saya masih kuliah arsitektur, toilet adalah tempat favorit saya mencari ide kalau saya sedang tidak tahu harus mengerjakan apa.

Suatu ketika, dalam posisi paling nyaman nongkrong di WC, dan saat kaki saya kesemutan setelah beberapa menit tidak bergerak, saya mendapatkan pencerahan. Mungkin pada dasarnya semua orang membenci dirinya sendiri, tentu saja, karena perbedaan antara benci dan cinta itu setipis kertas, mungkin seseorang terlalu membenci dirinya sendiri sampai dia tidak sadar bahwa dia membenci dirinya dan mengira perasaan benci pada diri sendiri itu adalah perasaan cinta. Aneh? Tidak juga, karena ternyata dalam kehidupan sehari-hari banyak kisah percintaan serupa; you think that’s love, but that isn’t.

Sering saya mendengar di televisi, atau di majalah, orang-orang berkata kepada media betapa mereka cinta kepada diri mereka sendiri. Saking cintanya mereka melakukan banyak hal kepada diri mereka. Mereka membebani tubuh mereka dengan gym supaya sehat, mereka mendadani wajah mereka supaya cantik, mereka juga mulai memilah milih makanan yang tidak enak untuk menjaga bentuk tubuh supaya tetap ramping. Buat sebagian orang mungkin itu tough love, menyakiti diri sendiri atas nama cinta, sebagian, seperti saya mulai menduga itu adalah bentuk kebencian yang tidak diakui.

Sama seperti cinta, tidak semua orang berani bertindak atas kebenciannya. Beberapa mengaku mereka cinta diri mereka dan merasa nyaman dengan bentuk tubuh mereka padahal mereka terlalu takut mengakui bahwa mereka benci dengan obesitas yang menggerogoti diam-diam. Beberapa yang lain tega melakukan tindakan ekstrim dengan menyodok-nyodok kerongkongan mereka supaya muntah demi menurunkan berat badan. Di bagian lain dari dunia ini, orang-orang memutuskan untuk memutilasi diri sendiri agar memenuhi kriteria kecantikan agar mereka bisa mencintai diri sendiri. Intinya? Mereka membenci diri mereka yang asli.

Mungkin saya juga membenci diri saya. Saya benci tulang pipi saya, saya benci pipi saya lebih tepatnya. Saya benci rambut saya, yang menempel di kepala saya, terlebih yang jatuh karena rontok. Saya benci dengan kuku jempol kaki saya yang tumbuh miring, dan saya benci dengan tubuh bagian bawah dari pinggang sampai mata kaki. Saya benci dengan tulang saya yang terlalu besar, terutama tulang hidung dan tulang punggung saya yang tidak lurus dan mengganggu kesehatan saya. Pertanyaanya adalah, apakah saya akan menjadi mencintai tubuh saya setelah saya mengubah sesuatu darinya? Atau apakah saya akan berubah sikap dan dengan cinta saya itu saya berani melakukan perubahan untuk membuat diri saya menjadi lebih baik?

Advertisements

Comments are closed.