Monthly Archives: May 2011

Sudah Setengah Jalan?

Standard

Kemarin salah seorang teman yang sudah lama tidak muncul, menyapa saya. Seperti biasa, seperti yang sudah saya duga, dia memanggil kalau lagi ada masalah. Bukannya dia teman yang jahat, yang kalau lagi ada problem baru muncul memanggil saya, tapi memang dia adalah orang yang hanya bisa memulai bicara kalau sudah kepepet. Kepepet masalah hanyalah salah satunya. Dan kebetulan, satu-satunya orang yang dia tahu bisa memprediksi dan mencari jalan keluar (menurutnya) adalah saya.

Sebenarnya masalah teman saya ini sudah dimulai jauh sebelum saya mengetahuinya. Jujur saja, menurut saya pun dia sudah tahu bahwa dia akan terlibat masalah, karena awalnya dia ngumpet-ngumpet dari saya mengenai apa yang dilakukannya. Bukannya dia terlibat hal kriminal atau gimana, tapi dia pacaran sama cewe yang dia tahu bakal bikin dia repot sendiri. Begonya lagi (maaf saya tidak bisa tidak menggunakan kata yang lebih halus lagi) dia meninggalkan sebuah pekerjaan dengan penghasilan tetap di negeri Singa dan menjadi pengangguran di pulau dewata. Freelancer adalah pengangguran paruh waktu kan? ๐Ÿ˜€

Sekarang, bukan hanya dia dikekang oleh pacarnya, tapi bahkan dia juga tidak punya penghasilan tetap karena dilarang bekerja. Saya tidak mengerti ke mana hilangnya teman saya yang dulu punya ambisi untuk jadi mandiri dan mapan itu, dan kenapa sekarang muncul seorang penakut pengangguran yang bersedia hidup dikempit ketiak istrinya. Mau makan cinta sih boleh… Mending kalau love lifenya adem ayem… Orang ke tiga, ke empat dan kelima bergerilya menunggu waktu mereka putus.

Dua tahun lalu, saat teman saya itu memutuskan untuk berangkat ke Singapura untuk bekerja, saya, dan Si Onyed juga mulai membuat tujuan masa depan. Saya ingin sekolah tinggi, bekerja dengan gaji yang cukup dan bisa menabung untuk dana pensiun. Si onyed pingin punya usaha yang menghasilkan duit sebanyak-banyaknya supaya bisa menghidupi dirinya dan keluarga. Maka, sejak itu kami mulai membangun mimpi itu. Saya, si onyed dan teman saya itu…

Harus diakui, bahwa perjalanan tidak semudah yang diharapkan. Harus diakui bahwa kami mulai melakukan modifikasi-modifikasi dalam menempuh perjalanan itu. Saya yang sempat mau jadi online businesperson memutuskan untuk sekolah dulu yang bener baru bisnis belakangan. Saya bahkan mulai investasi di sebuah usaha kecil-kecilan milik teman saya di Solo. Si Onyed mengetahui bahwa memulai usaha sendiri itu tidak mudah tanpa modal cukup mulai membangun bisnis kecil-kecilan sambil mempelajari bisnis orang tuanya yang sudah lebih dulu mapan. Sekarang untuk memperluas network, si Onyed berencana belajar bahasa ke Cina sekaligus mencari supplier untuk usahanya.

Tetapi apapun yang saya dan si Onyed lakukan saat ini, dengan segala modifikasi cara kami melakukannya, kami tetap fokus dengan tujuan akhir kami nanti. Sedangkan, teman yang saya ceritakan itu berbeda. Dia hilang fokus, dan bahkan mulai masuk pada fase mencari-cari alasan untuk tinggal di zona nyaman yang dia kira aman.

Salah seorang financial planner favorit saya selalu berkata kepada klien yang meminta bantuan untuk bikin rencana keuangan padanya: “tujuan lo apa?”

Sebuah pertanyaan yang sangat tepat ditujukan kepada seorang yang bingung. Kalau teman saya itu tidak tahu apa yang dia tuju (atau dia sebenarnya tahu tapi terlalu malu untuk mengatakannya pada saya) maka percuma mencari solusi. Yang ada, teman saya itu hanya akan pusing sendiri tanpa tahu apa yang harus diselesaikannya.

Saya tidak tahu apakah teman saya itu membaca entry ini atau tidak. Saya tidak tahu apakah dia masih suka bolak balik mampir ke blog ini atau tidak. Tapi paling tidak meskipun dia tidak membacanya saya berharap entry kali ini akan selalu mengingatkan saya dan siapapun yang membaca blog saya ini untuk ingat dan fokus. Karena saya sudah setengah jalan menuju apa yang ingin saya capai. Kamu, sudah sampai mana?

Update-an Akhir Bulan

Standard

Akhirnya saya kehabisan ide mau menulis apaan semenjak Miki dipulangkan ke Solo. Meskipun saya selalu mendapat info dari Solo kalau Miki dalam keadaan sehat dan lebih senang, tapi akibatnya saya tidak tahu apa yang sehari-hari dilakukannya, jadi yah cerita saya tentang Miki jadi terbatas mengenai apa yang saya dengar dari mama dan adik-adik saya yang sudah lebih dulu ada di Solo.

Saya baru sadar ini sudah menjelang pertengahan tahun semenjak saya mendapatkan banyak undangan pernikahan. Ada apa dengan bulan Juni, dan kenapa banyak orang memilih menikah di bulan tersebut? Kalo budaya barat sih, katanya bulan Juni diambil dari nama dewa Juno, dewa cinta. Oh ya? Saya juga ga tau sebenernya gimana, tapi seandainya Junojuno itu benar pun saya merasa tidak ada hubungannya juga karena semua yang mau merit bulan depan (yang saya kenal) semuanya Cina!

Dipikir-pikir, cepat juga tahun ini berjalan. Tiba-tiba saja sudah bulan Mei. Rasanya kok saya belum ngapa-ngapain, dan masih banyak dari list resolusi tahun baru saya yang belum saya laksanakan. Misalnya saya mau menurunkan berat badan, dan saya mau hidup lebih sehat. Meskipun saya mulai bisa mengurangi rokok, tapi untuk dibilang hidup sehat rasanya kok masih jauh…

Oleh karena itu, sudah dua hari ini saya memutuskan untuk bangun jam 6 pagi dan melakukan power walk selama setengah jam untuk memulai hari. Setidaknya sebuah awal yang diniati lebih baik daripada kebanyakan kepingin tanpa realisasi kan? Target-target hidup pun saya mulai susun kembali, dan seperti biasa si Onyed jadi korban kecerewetan saya tentang itu.

Saya membeli HP baru. Setelah lama saya berkeluh kesah tentang signal bb yang timbul tenggelam di tempat tinggal saya, saya kali ini tidak beli bb lagi. Selamat tinggal blackberry. Halo android.

Jempol besar saya ini memang kurang bersahabat dengan gadget-gadget yang beraliran layar sentuh. Tapi, entah kenapa kok saya naksir banget sama benda yang satu ini sampai saya tidak pikir panjang untuk membelinya. Kali ini, bukan saja saya harus menyesuaikan diri dengan layar sentuh, saya juga buta sama sekali dengan feature-feature di android itu. Moga-moga saja, meskipun saya sudah tidak muda lagi, saya belum memasuki tahap gagap teknologi total…

Saya juga mulai belajar masak. Bukan apa-apa, ternyata belajar masak banyak untungnya buat saya. Selain saya terlihat keren dengan tambahan domestic skill semacam itu, saya juga bisa menghemat uang jajan saya dan menyantap makanan yang lebih sehat dan bersih. Kecil kemungkinannya saya akan meracuni diri sendiri, dan yang pasti waktu saya kuliah nanti saya bisa menabung karena menghemat uang akomodasi. Sejauh ini saya cuma bisa masak itu-itu saja… Tapi tenang! Saya sudah ndonlot resep di hape baru saya supaya saya bisa masak dengan lebih beragam.

Percayalah, nanti bukan cuma si onyed saja yang akan jadi kelinci percobaan saya. Papa mama dan adik-adik saya harus merasakan juga. Muahahahaha….

Customer Is The King?

Standard

Saya pikir hari ini saya tidak akan berhasil membuat satu entry karena sudah beberapa hari ini saya tidak mendapatkan inspirasi. Apalagi, mengingat persediaan tulisan saya sudah habis dan saya hanya bisa mengandalkan apa yang terjadi hari ini. Tapi, ternyata saya bisa menemukan bahan tulisan setelah malam tiba, saat saya pergi berbelanja kebutuhan sehari-hari di sebuah supermarket besar di dekat tempat tinggal saya.

Sering kita mendengar para penyedia jasa mengatakan bahwa pembeli adalah raja. Tentu saja, para penjual jasa hanya bisa mengandalkan kepuasan pelanggan akan servis dari mereka, bukan hanya masalah harga dan kualitas barang. Tapi, bagaimana dengan penyedia barang seperti supermarket?

Berapa kali kita pernah mengalami membayar barang belanjaan dengan kasir yang sibuk bercanda dan bergosip dengan temannya yang bertugas memasukkan barang ke dalam kantong plastik. Berapa kali kita pernah mendengar kasir atau resepsionis atau seorang sales menjawab pertanyaan kita dengan ogah-ogahan atau tidak memperhatikan karena mereka sibuk dengan HP nya? Atau dijawab dengan jutek karena ketidak tahuan kita mengenai hal-hal baru di sana?

Lebih spesifik lagi…

Beberapa minggu lalu saya membeli jamur di supermarket tersebut, dan karena jamur tersebut sudah dalam kotak, saya tidak perlu menimbangnya lagi. Tadi, saya berniat untuk membeli jamur yang sama, tapi ternyata kali ini kita harus menimbangnya dulu. Siapa yang tahu kalau tiba-tiba saja aturan membayarnya diganti seperti itu? Saya tidak keberatan menimbang lagi, atau membatalkan karena malas mengantri, tapi si kasir itu hanya bertanya dengan jutek:

“Belum ditimbang?”

Exactly like that.

Beberapa tahun lalu saya pernah melihat di sebuah forum yang sekarang sudah tutup, sebuah pembicaraan mengenai servis dari penyedia barang. Ada dua mini market yang selalu bersaing ketat, di mana ada mini market A, pasti dalam radius 10 meter di sekitarnya ada mini market I. Waralaba mini market ini memang sudah terkenal saingan harga dan kelengkapan jenis barang, sampai akhirnya saya tahu bahwa ternyata mini market A lebih disukai karena layanan kasirnya jauh lebih baik daripada mini market I.

Kenapa?

Mini market A pernah melakukan semacam customer review untuk layanan mereka. Caranya, kalau pelanggan tidak puas dengan layanan mereka, maka mereka memasukkan sebuah kertas berwarna merah ke dalam kotak saran. Kalau pelanggan puas, maka yang dimasukkan adalah kertas berwarna hijau, sampai akhirnya sekarang meskipun tanpa kertas merah-hijau itu, semua kasir dan penjaga mini market tersenyum kapanpun ada pelanggan yang datang. Di mini market I, mereka menawarkan lebih banyak potongan harga dan harga yang lebih murah dan range produk yang lebih banyak. Tapi soal returning customer, mini market A jauh lebih menang.

Yap. Saya tidak pernah setuju kalau pembeli dijadikan raja, membuat pembeli suka berlaku seenaknya kepada penjual. Saya pernah melihat pembeli yang seolah-olah cuma mereka saja yang punya uang, dan itu membuat saya sebal juga melihatnya. Tapi, service adalah bagian dari apa yang ingin mereka jual kepada customer, bukan?

Letters From Home

Standard

Ternyata kekhawatiran saya yang berlebihan tidak beralasan. Kemarin malam, Mon dan Mama saya memberi kabar bahwa Miki sudah sampai dengan selamat di Solo. Bukan hanya sehat dan segar bugar, dia juga langsung bisa berbaur dengan dua teman barunya, Caca dan Beri.

Bagus lah. Saya jadi kaya ibu-ibu yang khawatir saat mengirim anak balitanya pergi untuk liburan. Takut sakit atau sedih karena pergi jauh, dan ternyata anaknya malah hepi bukan main karena mendapat teman untuk bersenang-senang.

Menurut Mon, kalau Caca terlihat sangat hepi dengan si pendatang baru, si Beri terlihat takut pada si Miki. Heran. Apa yang perlu ditakutkan dari Miki? Kalau Caca sih, kita udah tau ya kalau dia sangat mudah berteman dengan pendatang baru dan sangat penyayang.

Satu cerita tentang Caca sebelum dia kami beli. Caca kami beli pada saat dia sudah agak besar, karena waktu dia masih kecil tidak banyak yang menginginkan Caca. Di rumah pemilik lamanya, Caca menjadi penolong saudara-saudaranya yang dikurung kandang, dengan… Membukakan kandang buat saudara-saudaranya. Bukan cuma lebih pintar dari anjing lainnya, Caca juga sangat suka bermain (untuk ukuran anjing jenis pemburu).

Sampai sekarang Caca selalu bisa menunjukkan kemampuan intelegensi lebih dari teman-temannya. Dia berperan sebagai “tante” buat bayi-bayi semacam Beri dulu, dan Miki sekarang. Bahkan untuk anjing ukuran besar macam Vali dan Kensy pun, Caca masih bisa ngemong mereka waktu mereka masih bayi.

Saya sudah berpesan supaya Miki tetap mengkonsumsi obatnya karena itu antibiotik. Saya tidak tahu bagaimana kemarin paman saya dan Mon melakukannya. Mungkin nanti saat saya ke Solo saya bisa melihat tangan mereka juga luka-luka karena pertarungan mereka dengan Miki. Siapa tahu?

The Comfort(er) Zone

Standard

Baru saja saya membicarakan tentang membuat keputusan yang sulit, dan kemarin saya mendengar di televisi bahwa ada sebuah survey yang mengatakan bahwa sebesar 36% dari 1200 responden memilih almarhum presiden Soeharto sebagai presiden yang paling disukainya. Saya tidak tahu berdasarkan apa surveyor tersebut memilih sample, tapi ini benar-benar contoh yang bagus untuk apa yang saya katakan kemarin. Seandainya saya mendengar ini lebih cepat maka mungkin saya bisa membuat entry saya kemarin lebih keren lagi.

Saya tidak memungkiri bahwa pada jaman Soeharto, pembangunan berjalan dengan cepat, dan kriminalitas cenderung lebih rendah daripada yang saya tahu sekarang. Subsidi berlimpah dan inflasi relatif rendah dibandingkan sekarang, rakyat miskin hidup lebih santai meskipun mereka sengaja dibuat buta akan penyalahgunaan kekuasaan dan politik. Dengan kedaan negara kita pada saat ini, mahalnya biaya hidup, tingginya harga bahan pokok dan bahan bakar, dan gonjang ganjing di tingkat elit politik, saya bisa membayangkan beberapa orang menginginkan kembalinya masa-masa Soeharto tersebut.

Padahal, saya merasa kita sudah berada di jalur yang benar. Tidak ada yang mengatakan bahwa jalur yang benar akan menjadi jalan yang mudah, dan pada titik-titik tertentu keadaan bisa menjadi sangat sulit. Misalnya saat ini, ketika perbaikan belum mulai terlihat dan perubahan-perubahan yang diharapkan belum mulai nampak kasat mata, kita mulai merasa, mungkin lebih baik kita kembali ke masa silam.

Sama seperti kata seorang single mother pengangguran yang mulai merasa lebih baik hidup berkecukupan bersama suaminya yang abusive. Sama seperti perempuan kesepian yang merasa lebih baik pacaran dengan orang yang tidak disukainya daripada menghabiskan malam minggu sendirian atau menjadi nyamuk diantara teman-temannya yang sudah punya pacar. Sama seperti seorang pecandu yang merasa lebih baik kembali menggunakan obat-obatan daripada mencoba sembuh dan mengalami sakau yang menyakitkan di panti rehabilitasi.

Mungkin pada masa ini hal-hal tidak semenyenangkan yang kita harapkan. Tapi, jalan menuju ke sesuatu yang baik tidak selalu mulus dan menyenangkan, kan? Kadang kala kita akan keseleo, dan jalan terpincang-pincang, atau tersesat dan berbutar-putar di tempat yang sama, tapi ada saatnya kita mengebut pada saat jalan terasa agak lebih mulus. Tapi, jalan yang tidak enak ini harus dilalui, bukannya memilih berbalik dan mencari jalan mulus ke tempat yang salah.

 

The Right Decision

Standard

Kemarin saya mengantarkan Miki ke Bandung, dan mengalami hari yang cukup dramatis dan menyedihkan. Saya pikir begitu Miki saya antar ke Bandung, paman saya akan langsung membawanya ke Solo sehingga Mama saya bisa langsung memberikannya obat yang dibutuhkan. Tetapi ternyata perjalanan mereka ke Solo diundur satu hari, sehingga Miki harus bermalam di Bandung. Apakah saya kesal? Tentu saja, sedikit, karena seandainya saya tahu maka saya akan mengantar Miki keesokan harinya lagi.

Dan, bertanyalah si Onyed kepada saya, “Nyesel ga Byq?”

Pertanyaan itu dipicu karena pada hari sebelumnya si Onyed berkeras supaya saya mempertahankan si Miki di rumah saja. Mudah dikatakan karena bukan si Onyed yang berada 24 jam dengannya, dan si Onyed juga belum memikirkan betapa banyak keuntungan yang akan diperoleh Miki kalau dia berada di Solo. Dan ketika saya berkeras tetap membawa Miki ke Solo, dan akhirnya terjadilah insiden yang tidak diinginkan ini, si Onyed memberi saya pertanyaan tersebut.

Maka, bersabdalah Sang Bybyq.

Seandainya saya bisa mengulang lagi kejadian tersebut, saya akan tetap memutuskan untuk mengantarkan Miki ke Solo. Tidak ada penyesalan sedikit pun dari saya terhadap tindakan yang sudah saya ambil karena saya sudah memikirkan tindakan tersebut sebaik-baiknya, dan saya sudah menimbang baik buruknya. Saya tidak akan mengubah sedikitpun keputusan saya karena saya tahu saya sudah melakukan apa yang terbaik menurut saya.

Banyak orang mengambil keputusan yang sulit dan menyedihkan tapi mereka harus melakukannya karena itu adalah tindakan yang benar. Misalnya, kalau saya memutuskan untuk sekolah ke Inggris dan akhirnya harus menjalani hubungan jarak jauh dengan si Onyed, dan saya nanti nangis-nangis kangen. Saya tidak menyesalinya karena itu adalah tindakan yang benar. Kalau seandainya orang tua saya harus jauh dari anak-anaknya selama bertahun-tahun karena menyekolahkan kami ke Jakarta, mereka pasti akan kangen tapi mereka tidak akan menyesalinya. Karena mereka tahu mereka sudah melakukan tindakan yang benar.

Tentu saja, ada titik di mana kita mulai mempertanyakan kebenaran dari tindakan yang kita lakukan. Apakah saya seharusnya tidak sekolah ke luar, atau apakah saya seharusnya tidak mengirim Miki ke Solo, dan berpikir, saat ada kesempatan untuk menarik kembali tindakan tersebut maka kita akan melakukannya. Bodoh.

Pernah mendengar seorang istri yang sudah hampir mati digebuki suaminya, mengadukan sang suami ke pengadilan, dan ketika sang suami hampir dipenjara sang istri menarik kembali tuntutannya? Pernah dengar seorang yang tidak jadi kuliah atau melepaskan pekerjaan bagus di luar negeri hanya karena membatalkan keputusannya untuk pacaran jarak jauh? Masih banyak contoh serupa yang menunjukkan betapa menyenangkannya kembali ke zona nyaman, meskipun kesempatan untuk pindah ke zona yang lebih baik sedang terbuka lebar untuk kita.

Kesempatan yang jauh lebih baik terbuka untuk saya dan Miki. Apakah saya harus menarik kembali keputusan saya tersebut hanya karena saya kangen dengan Miki? Bukankah bodoh kalau saya menyia-nyiakan kesempatan untuk membuat hidup lebih baik untuk kami berdua hanya karena saya egois ingin membuat saya dan Miki berada di zona nyaman kami sebelumnya?

I’m Sending Miki Home

Standard

Beberapa orang yang tidak mengerti mungkin akan menganggap saya tidak sayang sama Miki, karena saya tega membuang dia begitu saja. Ya biar saja kalau mau mikir begitu karena saya tidak terlalu peduli dengan anggapan orang mengenai itu. Saya hanya berpikir bahwa di Solo, Miki akan mendapat lebih banyak teman dan lebih banyak perhatian dari orang-orang karena lebih banyak orang di Solo yang bisa merawatnya. Di Solo juga ada dokter hewan keluarga yang sudah sangat dekat dengan kami yang bisa dipanggil kapan saja ke rumah kalau-kalau ada apa-apa dengan Miki.

Bagi saya sendiri, mengirim Miki pulang ke Solo memberi banyak kesempatan bagi saya untuk merawat diri sendiri. Saya tidak punya waktu untuk diri saya sendiri kalau saya harus menjaga Miki 24 jam seperti apa yang saya lakukan sekarang. Beberapa waktu yang lalu saya melihat sebuah forum mengenai hewan dan anggota forum tersebut agak kesal pada orang yang mau memelihara anak anjing tapi tidak bisa meluangkan banyak waktu untuk merawat anak anjing tersebut.

Saya punya waktu. Tapi kalau saya harus memilih antara memberikan waktu saya untuk Miki atau untuk diri saya sendiri, pada saat ini saya harus memilih diri saya sendiri. Banyak hal yang harus saya lakukan, dan saya tidak bisa melakukannya dengan menjaga Miki terus menerus seperti ini. Saya tidak bisa menjaga diet saya, tidak bisa merawat diri saya dan rumah saya. Saya tidak bisa menyembuhkan diri saya dengan terus menerus alergi pada bulu Miki di mana-mana, dan rumah yang kotor terus menerus membuat saya gatal dan berjerawat.

Bukan saya mengkambinghitamkan Miki, karena Miki adalah seekor anjing, tapi harus saya akui ternyata saya belum siap merawat anak anjing sendirian. Kata dokter yang merawat Miki kemarin, merawat anak anjing lebih repot daripada merawat anak balita, jadi, dapat disimpulkan saya belum sanggup juga merawat anak. Tidak tanpa bantuan profesional tentunya…

Jadi…

Seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya, seharusnya Miki ikut pulang ke Solo bersama Mon dan La naik kereta api. Akan tetapi mereka berdua tidak kebagian tiket sehingga mereka harus meninggalkan Miki bersama saya sendiri di Jakarta. Selama ini kami selalu berusaha mencari bagaimana caranya Miki bisa dikirim ke Solo dengan aman, karena sejak kasus kematian St Bernard yang cukup fenomenal itu, kami menjadi agak ketakutan dengan layanan pengiriman hewan yang banyak ada di Internet. Saya juga tidak tega membiarkan Miki dikandangi terus menerus tanpa ada penjagaan orang yang sayang pada anjing…

Beberapa hari yang lalu, tepat ketika Miki diduga kena virus, saya mendapat kabar bahwa seorang paman yang tinggal di Bandung memutuskan untuk ke Solo akhir pekan ini. Kami segera memutuskan begitu Miki sehat kembali, kami akan menitipkan Miki pada paman saya tersebut. Paman saya, katanya sih dia penyayang anjing, sehingga saya tidak terlalu takut membiarkan dia membawa Miki. Setidaknya, sopir yang membawa mobilnya cukup penyayang pada anjing-anjing kami, sopir itulah yang membawa Caca dan Beri ke Bali pada waktu itu ๐Ÿ™‚

Yap… I am sending Miki home. Mungkin selama beberapa waktu tidak akan ada update mengenai Miki. Tapi segera, secepatnya pasti akan ada cerita tentang miki lagi ๐Ÿ™‚

Update Dulu Ah!

Standard

Miki sakit beberapa hari kemarin, bukan sakit yang parah mungkin sebenernya tapi cukup untuk membuat saya khawatir bukan main. Jadi setelah suatu hari saya menemukan bahwa pup nya Miki agak lembek dari biasanya, saya juga menemukan bahwa Miki selalu bersin dan tersedak dalam tidurnya. Lalu saya menelpon ke dokter malam harinya, dan membuat janji temu untuk keesokan harinya.

Keesokan paginya saya menemukan darah di pup Miki. Bukan hanya itu, pup miki terlihat lebih cair lagi. Saya langsung bertanya kepada Mama saya tentang hal tersebut dan dia bilang, darah pada pup itu biasanya berarti distemper. Lebih dari tiga anjing kami mati karena kena distemper, saya langsung nangis mendengarnya. Ya iya lah! Saya yang bersama dengan dia 24 jam di sini.

Saya langsung membawanya ke dokter hewan yang saya telepon hari sebelumnya. Dokter hewan itu mengatakan bahwa Miki belum terdiagnosa terkena virus, tapi itu dapat terjadi kalau ketahanan tubuhnya menurun. Maka, seperti bayi, Miki mendapatkan uap untuk hidungnya yang mampet dan suntikan untuk flunya, dan obat antibiotik untuk diare dan flu.

Sekarang sudah lewat dua hari sejak Miki pertama kali saya bawa ke rumah sakit dan sekarang dia baik-baik saja dan cenderung nakal. Yang paling sulit adalah memaksanya meminum obatnya karena obatnya ternyata berbentuk kapsul. Miki tidak mau memakannya sehingga saya harus membongkar kapsul tersebut dan menaburkan puyernya di dalam mulut Miki. Tapi sepertinya puyernya terasa pahit sampai Miki ngambek beberapa saat setelah saya minumkan obatnya.

Makin manja saja anjing itu. Dia tidak mau tidur kalau tidak dekat-dekat dengan saya dan menangis-nangis kalau saya masukkan ke dalam kandang. Saya baru tahu kalau ada anjing yang takut naik mobil seperti Miki, karena Caca dan Beri sangat suka berada di dalam mobil. Bahkan menikmati acara jalan-jalan dan berebut naik mobil setiap kali kami hendak berpergian. Aneh-aneh saja.

Saya menikmati nonton CSI hari ini… Lucu saja melihat JB ditembak mati oleh Nick Stokes. Yep! Justin Bieber muncul di CSI 11 untuk kedua kalinya dan kali ini dia mati. Senang rasanya membayangkan fansnya sebel nonton episode kali ini karena idola mereka mati setelah gagal jadi teroris. Yippe!

Akhir-akhir ini signal HP di rumah makin jelek saja. Apakah ini pertanda saya harus mulai ganti nomer lagi? Nggak guna juga karena saya nggak akan pakai nomer itu untuk waktu yang lama. Haha!

IELTS Preparation at Home ala Bybyq

Standard

Di blog saya yang lama (iya blog yang sudah hilang itu) saya punya satu section mengenai tips dan trik untuk pemalas. Dua diantaranya yang saya ingat pernah saya tulis di sana adalah tips dan trik menyelesaikan skripsi untuk mahasiswa malas, dan tips menghadapi sidang KP untuk mahasiswa malas. Tentu saja saya sangat senang bisa berbagi dengan para pemalas di seluruh dunia, dan sedih saat tips-tips itu menghilang dari muka bumi. Suatu hari nanyi, kalau saya sudah ingat seluruh isinya saya mungkin akan tulis ulang, tapi hari ini saya akan berbagi tips pemalas lainnya.

Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya saya mendapatkan nilai IELTS yang lumayan bagus tanpa mengikuti IELTS preparation di lembaga pendidikan bahasa inggris manapun. Selain karena saya ingin menghemat uang (tahukah anda: biaya les untuk IELTS preparation itu mahal bukan kepalang), saya juga malas pergi ke sana setiap hari (itulah kenapa tips kali ini cocok untuk pemalas). Tanpa mengambil les seharga berjuta-juta saya bisa mendapatkan nilai IELTS 7.0, setara dengan TOEFL score: 600.

Berapakah target anda?

TOEFL Paper TOEFL Computer TOEFL iBT IELTS Equivalent
625 – 680 263 – 300 113 – 120 7.5 – 9.0
600 250 100 7.0
575 232 90 – 91 6.5
550 213 79 – 80 6.0
525 196 69 – 70 5.5
500 173 59 – 60 5.0
475 152 49 – 50 4.5
450 133 39 – 40 4.0
425 113 29 -30 3.5

sumber:ย http://www.eurogates.nl/en-TOEFL-IELTS-score-conversion/

Menentukan target adalah langkah yang pertama harus dilakukan. Dengan memiliki target, akan terlihat berapa banyak usaha yang harus dilakukan. Ambil tes awal atau tes coba-coba (tryout) yang bisa dilakukan sendiri dengan membeli buku test toefl/ielts.ย Menentukan target juga menentukan seberapa jauh peningkatan yang kita butuhkan, dan ini penting karena mungkin tips ini akan tidak berguna sama sekali dan bantuan ahli akan diperlukan.

Saran saya, kalau hasil tryout kurang dari 50% nilai target, segeralah mendaftar untuk les, karena tips ini kemungkinan besar tidak akan berguna.

Listening Test

Beberapa orang menganggap listening test itu sulit. Dalam listening test, kita akan mendengar sebuah percakapan (ya iya lah dalam bahasa Inggris) dan mendapati beberapa pertanyaan berkaitan dengan percakapan tersebut. Yang membuat beberapa orang merasa kesulitan menghadapi listening test adalah bahwa dalam percakapan tersebut para pembicaranya seringkali menggunakan beberapa aksen berbeda. Beberapa lebih mudah dimengerti, beberapa yang lain terdengar medok dan sulit didengarkan kalau tidak terbiasa.

Tips untuk pemalas semestinya membuat belajar menjadi menyenangkan. Saya menggabungkan belajar dengan hobi, yaitu menonton banyak film berbahasa inggris dan mematikan teksnya (atau kalau ingin menonton menjadi lebih menyenangkan lagi, sengaja pilih film dengan subtitle kacau balau dan kita akan mendapat kesempatan untuk mencela orang lain). Kalau tidak suka menonton, tapi lebih suka mendengar radio, cari di internet radio streaming berbahasa inggris.

Untuk melatih pendengaran terhadap aksen yang berbeda-beda, kita bisa mengubah-ubah channel TV atau menonton film-film asing yang bukan hollywood punya. Coba bedakan antara mendengar Hugh Grant dan Hugh Jackman, yang satu dengan British accent, dan yang lain dengan Australian accent. Menonton reality show juga membantu, ada aksen midwest di Amerika, atau medok black community yang biasa juga muncul di lirik lagu rap dan rnb. Kalau sedang sibuk main komputer atau internetan, biarkan TV menyala, dan tetap aktifkan pendengaran, suatu saat kita bisa mendapati diri sendiri ketawa hanya karena mendengar sesuatu yang konyol di TV dan itu berarti kita mulai bisa menghadapi listening test. Lakukan ini sesering mungkin.

Reading Test

Reading test membutuhkan ketelitian dan vocabulary. Membaca koran atau majalah sebenarnya merupakan pilihan yang bagus, dan seandainya kalian tidak tertarik untuk membaca yang serius-serius, membaca gosip selebriti hollywood sana boleh juga meskipun saya tidak menyarankan. Membaca tabloid gosip mungkin menyenangkan karena selain memang pada dasarnya manusia suka bergosip, membaca tabloid gosip biasanya memang lebih mudah. Sayangnya di tabloid tidak akan ada terlalu banyak vocabulary baru yang akan kita butuhkan saat tes nanti, karena tabloid adalah bacaan ringan dan vocabnya tidak terlalu formal.

Saya suka membaca novel, maka saya menggunakan novel sebagai alat bacaan. Sekali lagi, semakin klasik novelnya, bukan novel pop seperti teenlit atau chicklit, maka semakin besar kemungkinan kita bisa menemukan vocab baru yang formal. Misalnya saya kemarin membaca around the world in 80 days karya Jules Verne. Kita bisa tahu apakah kita sukses menangani bacaan tersebut pada saat kita bisa tahu isinya dan bisa menceritakan ulang dengan bahasa apapun yang sudah kita kuasai bila ada orang lain bertanya tentang apa yang kita baca.

Writing Test dan Speaking Test

Dalam IELTS test, writing test dilakukan dengan kita menulis sebuah esai mengenai sebuah topik yang diberikan atau menceritakan sebuah gambar/grafik dengan kalimat kita sendiri. Sedangkan dalam speaking test kita akan berhadapan dengan seorang native speaker yang akan menanyai kita dalam bahasa inggris, dan dinilai berdasarkan jawaban kita. Dua test ini lebih sulit untuk dipelajari sendiri karena membutuhkan pihak lain untuk memeriksa jawaban kita, karena sifatnya jauh lebih subjektif daripada listening dan reading test.

Yang saya lakukan untuk melatih kemampuan menulis saya, adalah dengan menulis review atau artikel di beberapa website yang membayar untuk tulisan kita. Selain kita bisa menghasilkan sedikit lewat apa yang kita tulis, biasanya website-website macam itu tidak akan meloloskan tulisan kita kalau grammar kita terlalu kacau atau tulisan kita tidak cukup bisa dimengerti. Otomatis, mereka akan menyuruh kita megoreksi tulisan kita sendiri, dan itu bisa menjadi acuan seberapa jelek/bagus kemampuan kita menulis dalam bahasa inggris. Cara lain adalah dengan mengikuti forum-forum internasional, dan berinteraksi lewat tulisan dengan orang lain.

Speaking test, lebih sulit lagi. Tidak ada cara lain selain mencoba berteman dengan native speaker atau mempunyai partner untuk mengobrol dalam bahasa inggris. Tentu saja mengobrol dengan bahasa inggris dengan teman nongkrong di kafe akan membuat kita terdengar asal british tapi cara ini membantu kita untuk lebih percaya diri berbicara dalam bahasa inggris. Kalau kita tidak tahu bagaimana cara mengucapkannya, kita bisa membuka dictionary.com untuk mendengar bagaimana sebuah kata sulit diucapkan.

Melatih pronuciation bisa dilakukan sendiri, tapi itu tidak membantu kita untuk berbicara dalam percakapan. Caranya, selain dengan bantuan dictionary.com, kita bisa berlatih dengan membaca sebuah berita atau bacaan lain dalam bahasa inggris dengan suara lantang. Saya tidak menyarankan belajar pronunciation melalui lagu, karena tidak banyak kata baru yang bisa dipelajari lewat lagu, dan pelafalan lewat lagu tidak mengajari kita intonasi yang benar.

Retest?

Saya tidak melakukan tes ulang, tapi untuk menjamin bahwa kita bisa melewati target, kita bisa mengambil tes atau tryout sekali lagi karena biaya test IELTS dan TOEFL sangat mahal.

Nah… itulah cara saya untuk mempersiapkan IELTS di rumah, sambil menonton TV dan membaca buku, dan ngobrol dengan orang-orang tanpa harus belajar setiap hari ke tempat les. Semoga kalian yang menerapkan cara ini akan sukses juga melakukannya ๐Ÿ˜€ Semoga berhasil!