The Cover

Standard

Don’t judge a book by its cover.

Dari kecil saya sering mendengar orang-orang mengatakan hal ini kepada saya. Tapi setelah besar saya baru menyadari bahwa pepatah ini hanya ditujukan kepada cara pandang kita mengenai orang lain, sedangkan kita tidak pernah bisa mendikte bagaimana cara orang lain memandang kita. Orang yang paling sering mengajarkan tentang itu adalah orang tua saya, menjelaskan segamblang-gamblangnya bahwa meskipun kita tidak memandang orang lain melalui tampilan luarnya, orang lain selalu menilai kita dari bagaimana kita tampil.

Dan, saya yakin bukan hanya saya dan orang tua saya saja yang menyadari hal ini. Itulah sebabnya fashion terus berkembang, dan baju bagus mahal harganya. Itu kenapa orang rela berpegal-pegal mengenakan sepatu hak tinggi dan bercapai-capai pergi ke gym. Itu juga kenapa orang-orang menghabiskan waktu dan tenaga merawat diri dan memastikan bahwa, meskipun tidak cantik setidaknya enak dilihat. Dan, itulah kenapa orang tua saya selalu mengomel kalau saya selalu pakai sendal jepit kemana-mana.

Jadi, kita memang tidak boleh menilai seseorang dari luarnya, tetapi bukan berarti kita harus memaksa orang melihat kita tidak dari tampilan luar kita. Ya! Tampilan luar itu penting!

Setidaknya itu yang saya alami selama beberapa hari terakhir ketika saya sedang sering-seringnya jalan sama si Onyed.

Yah… si Bybyq ini memang agak kecentilan beberapa waktu ini dan saya sedang giat-giatnya mempraktekkan isi buku Fantastic Cosmetic yang saya beli beberapa waktu lalu, ditambah beberapa panduan dandan dari youtube. Tapi, karena biasanya saya tidak suka dandan dan tampil rapi orang-orang jadi nggak kenal sama saya. Nggak bohong. Entah apakah saya biasanya memang kucel banget, atau setelah dandan saya jadi cantik banget.

Yang pertama adalah ketika saya bertemu dengan teman-temannya si Onyed di jalan. Dengan penuh semangat saya melambai-lambaikan tangan saya di depan mereka tapi mereka tidak bereaksi, sampai saya benar-benar berdiri di depan mereka dan meyapa barulah mereka bilang: “Byq!” dengan wajah tidak percaya.

Yang kedua adalah dari pembantu di rumah si Onyed yang sudah lama mengenal saya. Dia nyuekin saya selama lima menit pertama saya pergi ke rumah si Onyed menengok keadaan bayi-bayi kelinci si Onyed yang tinggal dua itu. Setelah saya menyebutkan pesanan ketoprak saya yang biasa, dia baru sadar kalau itu saya, “Ya ampun ternyata Bybyq… aku kirain siapa..”

Baiklah.

Mungkin ada yang bertanya apa maksud si Bybyq ini menceritakan hal tidak penting semacam ini. Saya tidak ingin menuliskan di sini moral of the storynya. Biarlah masing-masing orang mengambil intisari dan pelajaran dari cerita tidak penting ini. Bukan?

Advertisements

Comments are closed.