Parking Pepita

Standard

Sepertinya Pepita punya masalah dengan tempat parkir di tempat saya tinggal. Sebenarnya, bukan salah Pepita tetapi salah kami para pengemudi yang suka parkir sembarangan dan hasilnya…

Beberapa minggu yang lalu, saya parkir tidak pada tempatnya. Saya mengambil dua slot parkir di basement paling bawah apartemen tempat tinggal saya. Saya tidak bangga dengan itu, apalagi sebagai hasilnya Pepita mengalami kasus vandalisme.

Saya tidak tahu siapa yang melakukannya dan saya juga tidak peduli sih sebenarnya, karena pihak asuransi akan segera mengganti dan menyelesaikan masalah Pepita ini. Bagian pintu kanan dan kiri mobil saya diberet cukup dalam, menandakan si pelaku kesal sekali dengan cara parkir saya. Aneh ya? Dipikir itu bisa membuat saya rugi, sedangkan itu hanya membuat perusahaan asuransi harus mengeluarkan uang. Seratus orang seperti itu, dan inflasi di negara ini akan meningkat lebih cepat daripada yang diprediksikan.

Sudahlah, saya pikir saya memang juga salah parkir.

Yang kedua kejadiannya hari ini, dan apabila dibandingkan aksi vandalisme ala preman yang dialami Pepita di kejadian pertama, kejadian kedua ini terasa seperti lawak.

Kemarin Mon dan La kembali ke Jakarta setelah menghabiskan beberapa waktu di Solo. Mereka akan berada di sini kira-kira satu minggu setelah urusan pernikahan saudara sepupu saya selesai. Kemarin Mon pergi menggunakan Pepita, karena mobilnya sendiri sudah dijual dan sekarang setelah dia lebih banyak menghabiskan waktu di Solo maka dia memiliki mobil sendiri di Solo.

Pagi tadi, saya baru tahu kalau Mon parkir di tempat yang tidak semestinya, dan ketika kami mau pergi hari ini ternyata ban Pepita dirantai pada beton! Untuk melepaskan rantai itu, Mon dan La mendatangi seorang satpam di sana. Agak horor juga waktu satpam menyuruh mereka ke posko keamanan. Saya menduga kami akan kena denda berapa gitu karena parkir tidak pada tempatnya.

Saya tidak tahu apa yang terjadi di sana karena saya sedang beli minuman dan tissue untuk acara jalan-jalan kami seharian ini. Tapi ketika kembali, mereka malah ketawa-ketawa. Ternyata mereka disuruh menandatangani sebuah pernyataan di atas meterai yang menyatakan:

“Saya berjanji tidak akan parkir di sembarang tempat lagi…”

Serius deh… memangnya mereka nggak bisa membuat surat perjanjian yang lebih baik daripada itu ya? Maksud saya, membuat surat perjanjian dengan diawali dengan “saya berjanji” itu mengingatkan saya pada hukuman menulis 100 kali waktu kami masih SD. “Saya berjanji akan rajin mengerjakan PR”, “Saya berjanji tidak akan mencolok mata teman saya” atau “Saya berjanji tidak akan kabur dari kelas kalau disuruh membaca”. Ya kan? Nggak keren banget kedengarannya.

Untunglah hari ini kami mendapatkan tempat parkir dengan mudah karena kami pulang di jam yang tidak biasa, jadi kami tidak perlu parkir di tempat yang tidak jelas. Kenapa sih pihak pengelola apartemen ini nggak bisa membuatkan tempat parkir yang nyaman?

Advertisements

Comments are closed.