The Other Perspective

Standard

Beberapa minggu yang lalu saya mendapatkan sebuah kiriman broadcast messenger mengatakan bahwa ada seorang pemilik petshop yang melakukan penganiayaan berat kepada empat ekor anjing St. Bernard yang mengakibatkan kematian 3 diantaranya. Saya tidak perlu menceritakan detailnya di sini, karena meskipun saya tidak yakin semua orang sudah mengetahui kasusnya, sebenarnya bukan kasus kematian anjing itu yang ingin saya bicarakan.

Ya. Sebenarnya saya memang sangat ingin menceritakan tentang kasus anjing itu karena saya suka dengan anjing. Kasus kematian anjing itu membuat saya berpikir bagaimana kalau Caca atau Berry yang menjadi korban kasus tersebut. Tapi, kejadian berikutnya membuat saya berpikir lebih dalam lagi.

Jadi… Dalam pesan yang saya terima itu, ada sebuah tautan yang mengarah menuju ke sebuah thread di sebuah forum yang cukup terkenal. Pembuat thread itu menceritakan kelalaian yang dilakukan sebuah petshop yang menyebabkan kematian tiga ekor anjingnya. Pengguna forum yang lain membaca, membalas dan pada akhirnya mulai membuat tulisan-tulisan yang tidak terlalu berhubungan dengan topik yang sedang dibahas oleh si pembuat thread tersebut.

Setelah beberapa halaman pertama yang isinya mengenai bantuan hukum, pendapat ahli dan update kasus, halaman berikutnya mulai berisi tulisan-tulisan bernada mengancam, menyerang dan bahkan mulai bersifat pembunuhan karakter. Dan, jujur saja, bukan kali ini saja saya melihat kasus serupa di forum tersebut, di mana seorang mengajukan keluh kesah terhadap pihak lain dan semua orang di sana bersatu padu melakukan pembunuhan karakter.

Beberapa kali saya mengamati, bahkan pihak yang disalahkan tersebut sebenarnya tidak sepenuhnya salah. Sering kali, biasanya terjadi di forum trading mereka, pihak penjual ditekan sedemikian rupa dan sekali lagi saya menggunakan istilah “pembunuhan karakter”, sampai akhirnya dia sama sekali tidak bisa jualan. Pada akhirnya bukan hanya pengerusakan nama baik yang keterlaluan, orang-orang ini juga menghancurkan sumber penghasilan orang lain dengan semena-mena. Saya bisa berkata, tanpa menggunakan survey yang jelas bahwa ada kasus-kasus di mana penjual-penjual ini tidak sepenuhnya salah (atau kalau bisa dibilang malah tidak salah sama sekali).

Saya benci mengatakan ini, tapi benarkah forum ini adalah cerminan kepribadian orang Indonesia yang sebenarnya? Benarkah mereka boleh merusak hidup seseorang seperti itu? Di saat ada asas praduga tak bersalah yang bertujuan melindungi orang tidak bersalah mati-matian dipertahankan oleh media, orang-orang ini seenaknya memuat nama asli, foto tanpa disensor, bahkan lebih kejam lagi mereka memasukkan foto keluarga, foto rumah tinggal, dan lain sebagainya.

Tentu saja saya tidak membela orang yang sedang dipersalahkan ini karena saya pencinta anjing, tapi pembunuhan karakter semacam ini menurut saya adalah tindakan yang sangat jahat. Mereka menghujat pembunuh anjing dengan cara membunuh pribadi orang lain, apa bedanya? Saya hanya bisa menyebutkan persamaanya, bahwa mereka sama-sama pembunuh. Bukan?

Lho… saya tidak sedang bermaksud untuk mencari kontroversi, tapi saya hanya ingin mengajukan sebuah perspektif lain saja. Orang-orang yang terlibat di character bashing itu mungkin berpikir bahwa yang mereka lakukan itu benar, tapi saya tidak melihatnya demikian. Mungkin mereka berpikir bahwa menghancurkan mata pencaharian seseorang akan membuat hidup lebih baik, tanpa menyadari mereka mungkin sedang membuat seorang anak putus sekolah karena ayahnya tidak lagi bisa bekerja, atau mungkin mereka senang saja kalau ada orang tidak bisa bekerja sama sekali karena nama baiknya dirusak dan wajahnya dimunculkan di mana-mana seolah dia adalah teroris yang harus dihindari?

Bybyq juga suka mengeluh dan mencaci maki orang kan? Mungkin iya ya? Seingat saya, saya tidak pernah menunjukkan wajah orang atau menggunakan nama asli orang yang sedang saya kata-katai di sini. Selain saya tidak mau kena tuntut di pengadilan, saya juga menyadari bahwa banyak hal bisa terjadi di masa depan dan saya tidak ingin merusak masa depan orang tersebut hanya karena tulisan saya di sini. Orang-orang mungkin tidak menyadari apa yang dapat mereka akibatkan dengan tulisan, tapi saya tahu. Been there done that. Mama saya bahkan sempat menyuruh saya berhenti ngeblog.

Ya. Saya menghargai kebebasan berpendapat kok. Kalau saya tidak menghargai kebebasan berpendapat itu saya tidak akan ngeblog dan membaca blog-blog orang lain. Tapi saya percaya bahwa kebebasan berpendapat harus dibarengi dengan tanggung jawab atas konsekuensi dari pendapat kita terutama kalau tulisan kita itu dimuat di media yang bisa diakses publik. Saya nggak rela kalau hanya karena sebagian pengguna internet yang tidak bertanggung jawab atas kebebasan berpendapat mereka, orang-orang seperti saya dan teman-teman blogger saya yang menggunakan hak kami untuk bersuara dengan (sebisa mungkin) bertanggung jawab jadi ikut dibungkam karena kena sensor.

Maaf kali ini saya bawel dan entry kali ini panjang banget. Tapi saya bicara karena saya peduli, dan saya tidak mau saya disamakan dengan para komentator asal bicara yang tidak tahu etika berpendapat di ruang publik semacam itu. Kalau ada orang yang tidak sependapat dengan perspektif saya ini, saya tidak bisa berbuat apa-apa, tapi saya berharap saya bisa membuat beberapa yang belum menyadarinya tahu apa yang sedang kita hadapi di sini. What do you think?

Advertisements

Comments are closed.