13 Tahun Yang Lalu

Standard

Saya tidak ingat apakah saya pernah menceritakan ini di blog atau belum. Mungkin saya pernah menceritakannya di sini atau di blog saya sebelumnya, atau saya belum pernah menuliskannya sama sekali. Saya benar-benar tidak ingat, tetapi saya selalu membahasnya berulang-ulang bersama adik-adik saya setiap bulan Mei, dan setiap kali tragedi Mei 1998 dibahas di televisi.

Saya tidak ingat apakah hari itu saya pergi ke sekolah atau tidak, tapi siang itu nenek saya membuat bubur ketan hitam. Saya agak curiga karena orang tua saya memaksa saya dan adik-adik saya memakan bubur ketan hitam itu, yang meskipun enak tapi terasa sangat tidak biasa. Lately saya baru tahu kalau ada maknanya memakan bubur ketan hitam, entah artinya menangkal bahaya atau menghindari hal-hal buruk. Saya ingat di televisi, berita tentang turunnya mantan presiden Soeharto dan juga kerusuhan yang terjadi di Jakarta terus menerus disiarkan di televisi.

Jakarta terasa begitu jauh, meskipun saya punya beberapa saudara yang tinggal di sana. Saya mendengar orang tua saya berkata bahwa salah satu saudara sepupu jauh saya yang kuliah di salah satu universitas swasta di Jakarta melarikan diri dari rumah kosnya bersembunyi dari kejaran perusuh dan penjarah. Saya tahu tante-tante saya selamat karena mereka tinggal di perumahan yang relatif lebih aman. Tapi, saya tidak tahu bahwa Jakarta ternyata tidak sejauh itu.

Tidak jauh dari rumah saya di Solo adalah tumah peristirahatan Harmoko, mantan menteri penerangan pada masa orde baru. Rumah berbentuk joglo itu adalah salah satu sasaran amuk massa yang ternyata tanpa kami ketahui sedang berjalan ke arah kompleks perumahan kami. Papa ingin membawa kami langsung ke bandara dan kabur sejauh mungkin tapi kami terlambat pada waktu itu, karena para perusuh sudah datang. Akhirnya papa menyembunyikan satu koper berisi surat-surat berharga dan uang cash yang ada untuk berjaga-jaga.

Saya tidak bisa membayangkan perasaan orang tua saya memiliki empat orang anak yang masih kecil-kecil waktu itu. Setelah sebuah gedung bioskop tidak jauh dari rumah saya dibakar, massa mulai menuju ke rumah kami. Beberapa orang sudah berjaga di depan, berharap tidak ada hal buruk terjadi, dan saya tidak tahu apa yang terjadi di depan tapi saya mendengar suara kaca pecah dan orang-orang berteriak-teriak di jalanan depan rumah. Orang tua saya sudah panik kalau-kalau rumah kami dibakar, tapi ternyata tidak, orang-orang yang berjaga di depan rumah bisa menghalau perusuh itu.

Saya tidak ingat bagaimana kami diungsikan dari sana. Entah saya dinaikkan sepeda motor atau mobil. Entah saya pergi sendiri atau bersama-sama dengan seluruh keluarga saya. Entah nenek saya ikut kami pergi atau menunggu di rumah. Saya seperti kehilangan memori tiba-tiba. Atau saya terlalu takut untuk mengingat keseluruhan cerita?

Yang saya ingat saya berada di rumah sakit tidak jauh dari kompleks perumahan kami dan menyewa kamar untuk mengungsi di sana. Seorang tetangga kami juga berada di sana melakukan hal yang sama. Menjelang sore, keesokan harinya ada isu bahwa rumah sakit juga menjadi sasaran kerusuhan, namun tidak terbukti. Beberapa pabrik di sekitar dibakar dan saya masih ingat langit berubah warna menjadi merah dan hitam, dan kami sudah siap lari kapanpun dibutuhkan.

Saya tidak ingat bagaimana saya kembali ke rumah. Saya tidak ingat bagaimana pertama kali saya kembali ke sekolah setelah kejadian itu. Saya tidak ingat apa yang saya katakan kepada teman-teman saya yang tokonya dijarah atau dibakar. Saya juga tidak tahu apa yang saya rasakan kepada teman-teman saya yang pribumi. Saya tidak ingat bagaimana saya pulih, saya bahkan tidak tahu saya sudah pulih atau belum.

Tiga belas tahun lalu, apa yang terjadi denganmu?

Advertisements

Comments are closed.