Jer Basuki Mawa Beya

Standard

Bahasa, menurut saya adalah salah satu produk budaya yang paling beradab. Berbeda dengan seni gerak atau rupa, bahasa menurut saya dapat menceritakan lebih banyak mengenai filosofi dari suatu budaya setempat. Itulah mengapa, mungkin, waktu saya masih SD dulu, pemerintah daerah mewajibkan Bahasa Jawa sebagai muatan lokal dari kurikulum pendidikan sekolah dasar di Solo (atau malah Jawa Tengah, ya?).

Sama seperti mempelajari Bahasa Indonesia, saat mempelajari Bahasa Jawa, kami mendapat bacaan-bacaan, local proverbs, dan pengenalan struktur kalimat (Bahasa Jawa juga tidak mengenal past tense). Bedanya, kalau mempelajari Bahasa Jawa, kami tidak hanya belajar dengan aksara latin, tapi juga aksara jawa. Sampai sekarang, kalau ke Solo, kalian masih bisa melihat orang-orang menggunakan aksara Jawa untuk nama jalan, petunjuk tempat dan beberapa nama toko. Kalau dilihat-lihat bentuknya tidak jauh beda dari aksara hindi atau thai, mungkin karena ada kesamaan akar budaya (mengingat Jawa dulu pernah menjadi pusat kerajaan Hindu-Buddha).

Jer Basuki Mawa Beya adalah salah satu local proverbs yang paling saya ingat. Alasannya, selain karena mengandung kata “Basuki” yang mudah diingat (Alm. Basuki saat itu sedang boom melalui sinetron Si Doel Anak Sekolahan), tapi karena memang mudah diartikan. Apalagi mengingat kata-katanya tidak terdengar seperti bahasa Jawa yang biasa saya gunakan.

Jer Basuki Mawa Beya berarti untuk mendapatkan kesuksesan, seseorang harus berkorban atau mengeluarkan biaya. Sayangnya, sampai hari ini saya tidak pernah mendengar adanya penjelasan pengorbanan atau biaya seperti apa yang dilakukan supaya seseorang bisa sukses. Akhirnya, saat kemudian orang-orang mengartikan sendiri maksud peribahasa ini, jadilah mereka menghalalkan segala cara untuk kesuksesan.

Bukan sekali dua kali saya mendengar orang mengatakan ini untuk hal-hal negatif. Kalau mau sukses harus mengeluarkan biaya: menyogok pihak berwenang. Kalau mau berkuasa harus mengeluarkan biaya kampanye: menyogok pemilik suara. Kalau mau sukses secara finansial harus mengeluarkan sedikit biaya: membayar orang pajak untuk menutup kasus pajak. Mungkin saya terdengar terlalu menggeneralisasi, atau mungkin saya salah, tapi bukankah itu yang selama ini terjadi?

Sayangnya lagi, kalau untuk menyukseskan sesuatu yang baik, peribahasa ini sepertinya dilupakan. Ingin orang masyarakat pinter-pinter misalnya, lupa kalau pendidikan itu butuh biaya. Ingin masyarakat aman, lupa kalau polisi dan tentara juga butuh memberi makan keluarganya. Ingin pengangguran berkurang, tidak ingat kalau membuka lapangan pekerjaan membutuhkan modal.

Uang, seperti yang kita tahu, adalah masalah yang sensitif di negeri ini. Alokasi dana yang salah hampir pasti akan membuat berbagai kelompok merasa terganggu. Bahkan, bagi saya yang masih bisa memberi makan Miki tiga kali sehari saja masalah uang bisa sangat mengganggu, saya rasa bagi mereka yang tidak bisa makan satu kali sehari uang bisa membuat mereka lebih dari emosional.

Jer Basuki Mawa Beya. Saya percaya bahwa peribahasa itu tidak salah. Saya percaya kok kalau mau sukses harus melakukan banyak pengorbanan. Pertanyaanya sekarang: apa ukuran suksesmu?

Advertisements

Comments are closed.