The Comfort(er) Zone

Standard

Baru saja saya membicarakan tentang membuat keputusan yang sulit, dan kemarin saya mendengar di televisi bahwa ada sebuah survey yang mengatakan bahwa sebesar 36% dari 1200 responden memilih almarhum presiden Soeharto sebagai presiden yang paling disukainya. Saya tidak tahu berdasarkan apa surveyor tersebut memilih sample, tapi ini benar-benar contoh yang bagus untuk apa yang saya katakan kemarin. Seandainya saya mendengar ini lebih cepat maka mungkin saya bisa membuat entry saya kemarin lebih keren lagi.

Saya tidak memungkiri bahwa pada jaman Soeharto, pembangunan berjalan dengan cepat, dan kriminalitas cenderung lebih rendah daripada yang saya tahu sekarang. Subsidi berlimpah dan inflasi relatif rendah dibandingkan sekarang, rakyat miskin hidup lebih santai meskipun mereka sengaja dibuat buta akan penyalahgunaan kekuasaan dan politik. Dengan kedaan negara kita pada saat ini, mahalnya biaya hidup, tingginya harga bahan pokok dan bahan bakar, dan gonjang ganjing di tingkat elit politik, saya bisa membayangkan beberapa orang menginginkan kembalinya masa-masa Soeharto tersebut.

Padahal, saya merasa kita sudah berada di jalur yang benar. Tidak ada yang mengatakan bahwa jalur yang benar akan menjadi jalan yang mudah, dan pada titik-titik tertentu keadaan bisa menjadi sangat sulit. Misalnya saat ini, ketika perbaikan belum mulai terlihat dan perubahan-perubahan yang diharapkan belum mulai nampak kasat mata, kita mulai merasa, mungkin lebih baik kita kembali ke masa silam.

Sama seperti kata seorang single mother pengangguran yang mulai merasa lebih baik hidup berkecukupan bersama suaminya yang abusive. Sama seperti perempuan kesepian yang merasa lebih baik pacaran dengan orang yang tidak disukainya daripada menghabiskan malam minggu sendirian atau menjadi nyamuk diantara teman-temannya yang sudah punya pacar. Sama seperti seorang pecandu yang merasa lebih baik kembali menggunakan obat-obatan daripada mencoba sembuh dan mengalami sakau yang menyakitkan di panti rehabilitasi.

Mungkin pada masa ini hal-hal tidak semenyenangkan yang kita harapkan. Tapi, jalan menuju ke sesuatu yang baik tidak selalu mulus dan menyenangkan, kan? Kadang kala kita akan keseleo, dan jalan terpincang-pincang, atau tersesat dan berbutar-putar di tempat yang sama, tapi ada saatnya kita mengebut pada saat jalan terasa agak lebih mulus. Tapi, jalan yang tidak enak ini harus dilalui, bukannya memilih berbalik dan mencari jalan mulus ke tempat yang salah.

 

Advertisements

2 responses

  1. saya rasa sih… seandainya pak Harto itu masih idup dan masih jadi presiden sampe sekarang, kehidupan kita ga bakalan “enak” kaya jaman orba. Kita enak di jaman orba, karena HUTANG. kayak orang bego yang ngutang demi kehidupan sehari-hari (hutang konsumtif), suatu saat kita bakal dihadapkan kenyataan, bahwa hutang harus di bayar, dan semua nya sudah jadi kotoran di dalam septic tank, ga bs balik.
    Kita menghadapi semua ini, karena kesalahan management jaman dulu. Tapi ya gitu…. sekarang pun kita bikin esalahn juga, tak mungkin tidak kan?? Jadi no wonder kalo rasanya sekarang2 ini berasa berat….

    cuma orang manja, dan pragmatis, yang mikir kalo jaman orba tuh lbh baik!

    Like

  2. saya rasa sih… seandainya pak Harto itu masih idup dan masih jadi presiden sampe sekarang, kehidupan kita ga bakalan “enak” kaya jaman orba. Kita enak di jaman orba, karena HUTANG. kayak orang bego yang ngutang demi kehidupan sehari-hari (hutang konsumtif), suatu saat kita bakal dihadapkan kenyataan, bahwa hutang harus di bayar, dan semua nya sudah jadi kotoran di dalam septic tank, ga bs balik.
    Kita menghadapi semua ini, karena kesalahan management jaman dulu. Tapi ya gitu…. sekarang pun kita bikin esalahn juga, tak mungkin tidak kan?? Jadi no wonder kalo rasanya sekarang2 ini berasa berat….

    cum aoang manja, dan pragmatis, yang mikir kalo jaman orba tuh lbh baik!

    Like