Sudah Setengah Jalan?

Standard

Kemarin salah seorang teman yang sudah lama tidak muncul, menyapa saya. Seperti biasa, seperti yang sudah saya duga, dia memanggil kalau lagi ada masalah. Bukannya dia teman yang jahat, yang kalau lagi ada problem baru muncul memanggil saya, tapi memang dia adalah orang yang hanya bisa memulai bicara kalau sudah kepepet. Kepepet masalah hanyalah salah satunya. Dan kebetulan, satu-satunya orang yang dia tahu bisa memprediksi dan mencari jalan keluar (menurutnya) adalah saya.

Sebenarnya masalah teman saya ini sudah dimulai jauh sebelum saya mengetahuinya. Jujur saja, menurut saya pun dia sudah tahu bahwa dia akan terlibat masalah, karena awalnya dia ngumpet-ngumpet dari saya mengenai apa yang dilakukannya. Bukannya dia terlibat hal kriminal atau gimana, tapi dia pacaran sama cewe yang dia tahu bakal bikin dia repot sendiri. Begonya lagi (maaf saya tidak bisa tidak menggunakan kata yang lebih halus lagi) dia meninggalkan sebuah pekerjaan dengan penghasilan tetap di negeri Singa dan menjadi pengangguran di pulau dewata. Freelancer adalah pengangguran paruh waktu kan? 😀

Sekarang, bukan hanya dia dikekang oleh pacarnya, tapi bahkan dia juga tidak punya penghasilan tetap karena dilarang bekerja. Saya tidak mengerti ke mana hilangnya teman saya yang dulu punya ambisi untuk jadi mandiri dan mapan itu, dan kenapa sekarang muncul seorang penakut pengangguran yang bersedia hidup dikempit ketiak istrinya. Mau makan cinta sih boleh… Mending kalau love lifenya adem ayem… Orang ke tiga, ke empat dan kelima bergerilya menunggu waktu mereka putus.

Dua tahun lalu, saat teman saya itu memutuskan untuk berangkat ke Singapura untuk bekerja, saya, dan Si Onyed juga mulai membuat tujuan masa depan. Saya ingin sekolah tinggi, bekerja dengan gaji yang cukup dan bisa menabung untuk dana pensiun. Si onyed pingin punya usaha yang menghasilkan duit sebanyak-banyaknya supaya bisa menghidupi dirinya dan keluarga. Maka, sejak itu kami mulai membangun mimpi itu. Saya, si onyed dan teman saya itu…

Harus diakui, bahwa perjalanan tidak semudah yang diharapkan. Harus diakui bahwa kami mulai melakukan modifikasi-modifikasi dalam menempuh perjalanan itu. Saya yang sempat mau jadi online businesperson memutuskan untuk sekolah dulu yang bener baru bisnis belakangan. Saya bahkan mulai investasi di sebuah usaha kecil-kecilan milik teman saya di Solo. Si Onyed mengetahui bahwa memulai usaha sendiri itu tidak mudah tanpa modal cukup mulai membangun bisnis kecil-kecilan sambil mempelajari bisnis orang tuanya yang sudah lebih dulu mapan. Sekarang untuk memperluas network, si Onyed berencana belajar bahasa ke Cina sekaligus mencari supplier untuk usahanya.

Tetapi apapun yang saya dan si Onyed lakukan saat ini, dengan segala modifikasi cara kami melakukannya, kami tetap fokus dengan tujuan akhir kami nanti. Sedangkan, teman yang saya ceritakan itu berbeda. Dia hilang fokus, dan bahkan mulai masuk pada fase mencari-cari alasan untuk tinggal di zona nyaman yang dia kira aman.

Salah seorang financial planner favorit saya selalu berkata kepada klien yang meminta bantuan untuk bikin rencana keuangan padanya: “tujuan lo apa?”

Sebuah pertanyaan yang sangat tepat ditujukan kepada seorang yang bingung. Kalau teman saya itu tidak tahu apa yang dia tuju (atau dia sebenarnya tahu tapi terlalu malu untuk mengatakannya pada saya) maka percuma mencari solusi. Yang ada, teman saya itu hanya akan pusing sendiri tanpa tahu apa yang harus diselesaikannya.

Saya tidak tahu apakah teman saya itu membaca entry ini atau tidak. Saya tidak tahu apakah dia masih suka bolak balik mampir ke blog ini atau tidak. Tapi paling tidak meskipun dia tidak membacanya saya berharap entry kali ini akan selalu mengingatkan saya dan siapapun yang membaca blog saya ini untuk ingat dan fokus. Karena saya sudah setengah jalan menuju apa yang ingin saya capai. Kamu, sudah sampai mana?

Advertisements

7 responses

  1. sampe mana ya saya??
    hahahha! sebagai full time freelance, agak gimanaaa gitu kalo kamu bilang freelance tuh setengah pengangguran. Bukan chiiin, kami freelance ini adalah PENGANGGURAN TERSELUBUNG! hahhaha!
    Saya sih focus pada tujuan hidup, yaitu jadi bahagia! agak absurd, tapi itu yg terjelas yg bisa saya katakan sekarang, dari pada di bilang ga punya tujuan hidup, coba??
    Bagi saya, tujuan hidup saya “menyelamatkan” saya dari lembah kekacauan hidup, biarpun kadang2 saya ragu apa ngga justru menyesatkan saya?? semoga menyesatkan ke jalan yg BENAR. heheheh

    Good Luck Chiin!

    Like

    • Lha cita2ku soe, jadi freelancer… Enak kan dibilang nganggur tp ada aja kerjaan dan pemasukan, dibilang kerja tp bisa santai2 kaya nganggur… Maka kubilanglah setengah pengangguran…

      Like

  2. sampe mana ya saya??
    hahahha! sebagai full time freelance, agak gimanaaa gitu kalo kamu bilang freelance tuh setengah pengangguran. Bukan chiiin, kami freelance ini adalah PENGANGGURAN TERSELUBUNG! hahhaha!
    Saya sih focus pada tujuan hidup, yaitu jadi bahagia! agak absurd, tapi itu yg terjelas yg bisa saya katakan sekarang, dari pada di bilang ga punya tujuan hidup, coba??
    Bagi saya, tujuan hidup saya “menyelamatkan” saya ke lembah kekacauan hidup, biarpun kadang2 saya ragu apa ngga justru menyesatkan saya?? semoga menyesatkan ke jalan yg BENAR. heheheh

    Good Luck Chiin!

    Like

  3. Ah! Saya rasa baca kok.. CUMA.. mana mau dia ngaku ke kamu kalau dia baca? 🙂
    Yang pasti, biarin dia jalanin apa yang dia mau tempuh di hidupnya sekarang. Suatu saat nanti dia akan sadar sendiri kok.. dan mari saja kita berharap pada saat dia sadar nanti, semuanya belum terlambat 🙂

    Like

  4. Kamu, sudah sampai mana?>/i>
    Aku sudah sampai di Jerman Byq, kamu?
    I have to give you a warning deh kayaknya, bahwa kamu harus ingat postinganmu sendiri ini, kalo kamu dah sampai di England…
    Seperti yg di bilang pak konsulat kita di Hamburg; kenapa banyak pelajar kita yg gagal dan balik kucing sebelum waktunya? Karena mereka manja, di Indo biasa diantar sopir kemana2, makan tinggal ambil, ndak perlu bersih2, dst?
    Disini? and i think also in England, kamu harus jalan kaki dari gedung ke gedung, naik sepur, naik sepeda ungklik, ganti bis, orang yang tidak terlalu ramah, masak sendiri, bersih2 sendiri… cuaca dingin, culture schock yang pasti… Berat lho Byq… Apalagi kamu nanti akan kangen si Onyed sampai menangis berdarah-darah… But… Yes, You Can!!! *Obama mode on*

    Like

    • Yes I know dan, aku sudah siap kok, Djo! Nanti kamu ingetin terus deh supaya aku ga jadi manja dan mundur teratur setelah sampai sana. CUma satu tahun, masa aku nggak bisa sih? Ya kan? Ya kan?

      Like