Monthly Archives: June 2011

Solo Bukan Jakarta!

Standard

Ribut-ribut pembangunan mall masih berlangsung terus. Pemerintah propinsi Jawa Tengah kekeh ingin mendirikan satu buah mall di lahan bekas pabrik es Sari Petojo, meskipun Pemerintah Kota Surakarta sudah menetapkan dari awal tidak akan ada lagi pembangunan mal. Apalagi mengingat lokasi lahan yang akan dibangun itu terlalu dekat dengan mal yang sudah ada yaitu Solo Square. Dan, di tengah kisruh itu, Pemprop kabarnya sempat berkata bahwa Pemkot Surakarta (dalam hal ini Pak Wali, Jokowi) sebagai orang bodoh.

Saya senang Solo bukan Jakarta. Tidak kebayang kalau mal di Solo mulai berjubel seperti di Jakarta. Hanya pemimpin yang ga punya visi jauh ke depan saja yang berpikir pemasukan dari mal akan sesuai dengan pengorbanan yang dikeluarkan. Solo sampai saat ini belum siap secara infrastruktur, kalau maksa membangun mal seperti Jakarta bukankah hanya akan mengulang kesalahan yang sama? Hasilnya pasti macet-macet yang tidak teratasi di jalan arteri (dalam hal ini: Jalan Slamet Riyadi).

Padahal, jalan arteri Slamet Riyadi itu sering ditutup setiap kali kota ini mengadakan kirab atau karnaval. Baru malam minggu kemarin saya terjebak macet di jalan selama dua jam saat Slamet Riyadi ditutup untuk Solo Batik Carnival, apa jadinya kalau nanti setiap minggu warga Solo harus mengalami hal yang sama. Apa bedanya nanti Solo sama Jakarta? Kalau ada orang bodoh di kasus ini, pasti dialah pihak yang dengan tidak bijaksana dan picik memikirkan keuntungan sesaat tanpa melihat gambaran besar dari masterplan yang disiapkan untuk kota ini.

Analoginya seperti kasus mules.

Bayangkan saja si mulut itu pemprop yang maksa mau membangun mal. Dan si perut itu pemkot yang tetap tegas menolak. Dan, sambel trasi pedas yang kami makan itu mal yang akan dibangun. Si mulut ya cuma ngrasain enaknya sambel ulek itu, ga ngerti kalau si perut nggak siap sama yang pedes-pedes. Alhasil apa kalau si mulut maksa? Ya mules lah si perut. Dan, apa yang dilakukan si mulut saat si perut mules-mules? Paling banter mengomel dan mengeluh…

Saya tidak tahu kenapa pemprop kok maksa banget, dan kekeh bahwa mal ini harus dibangun. Kelakuan maksa yang norak ini malah menimbulkan spekulasi bahwa ada yang ngithik-ithik pemprop supaya proyek mal (yang menguntungkan pihak tertentu ini) gol. Yah, berharap saja pemkot Solo masih tetap kekeh menolak, dan tetap stick to the plan.

Solo kan bukan Jakarta… Jangan sampai deh blogger Solo harus curhat soal jalanan macet di dunia maya, dan menyerobot lahan blogger Jakarta. Ya kan?

Advertisements

Oh What A Night

Standard

Saya paling benci datang ke acara pernikahan. Setidaknya selama ini saya tidak pernah mengalami datang ke acara pernikahan yang saya datangi dengan suka dan rela. Paling-paling kalau saya menawarkan diri untuk menghadiri pesta untuk menggantikan mama saya yang tidak bisa datang di Jakarta; artinya saya sedang menukar favor dengan mama saya.

Tapi, saya suka rela datang ke acara pernikahan teman saya di Solo kemarin, dan ternata menikmatinya. Tentu saja, saya datang setelah saya yakin kalau saya diundang. Satu, yang punya acara menghubungi saya langsung, dan dua, yang punya acara sesuai dengan manner, mengirimi saya surat undangan resmi.

Tanpa bermaksud tak hormat, tapi beberapa waktu sebelumnya saya baru saja TIDAK menghadiri pesta pernikahan teman yang pernah sempat dekat banget sama saya. Bukan karena saya sedang berantem sama yang brsangkutan, tapi yang  punya gawe tidak mengirimi saya surat undangan resmi, sedangkan teman saya yang kaya raya dapat undangan. Ya saya SENGAJA tidak datang lah…

For what it’s worth, temen saya yang kaya raya dan dapat undangan resmi juga ga datang ke pesta yang dihelat di hotel mewah berbintang lima itu. Mungkin sebagai bentuk solidaritasnya kepada saya. Eat that sucker…

Sebaliknya pesta kemarin seru abis. Entah saya yang seru sendiri di sana, atau memang suasananya juga lebih kekeluargaan. Saya bertemu dengan teman-teman lama saya. Bertemu dengan pacar-pacar mereka. Bertemu dengan mantan yang sudah jadi teman saya, dengan pacar yang akan segera dinikahinya. Amazing!!

Bahkan contact list saya di bb tiba-tiba nambah overnight. Ajaib…

Yang lebih menyenangkan lagi, di penghujung pesta saya baru tahu kalau nanti sebelum saya farewell-an masih ada satu wedding lagi yang akan saya hadiri. Yay!!

Hometown Challenge

Standard

Masalah yang selalu saya hadapi setiap kali saya berada di kampung halaman saya di solo adalah memastikan saya akan selalu punya waktu untuk posting. Tidak usah deh muluk-muluk berharap bisa membuat satu entry sehari. Bisa posting sekali seminggu saja sudah prestasi. Alasannya sama… tidak ada inspirasi, dan terlebih lagi, tidak ada jaringan internet yang memadai.

Boro-boro saya bisa update, ini saja saya berusaha sekuat tenaga untuk mengetik di layar sentuh, menggunakan wordpress for android. Meskipin rasanya keren bisa update dari hp, tapi sebenernya keadaan saya di sini mengenaskan. Saya yang biasa hidup dengan internet harus puasa online secara terus menerus.

Jadi, inilah tantangan yang harus saya lewati kali ini. Selaon saya harus bisa melawan kemalasan dan juga godaan untuk menggangalkan diet, saya juga harus tetap bisa posting. Moga-moga saja saya bisa menjalaninya dengan baik sampai waktunya saya berangkat nanti.

Berusahalah, Bybyq!!

Standard

Iseng banget saya copy paste ini, sementara nunggu pesawat yang terlambat 25 menit.

MAKNA WAKTU
(Anonymous Writer)

Untuk memahami makna SATU TAHUN
Tanyalah seorang siswa yang gagal dalam ujian kenaikan kelas

Untuk memahami makna SATU BULAN
Tanyalah seorang ibu yang melahirkan bayi premature

Untuk memahami makna SATU MINGGU
Tanyalah seorang editor majalah mingguan

Untuk memahami makna SATU HARI
Tanyalah seorang pekerja dengan gaji harian

Untuk memahami makna SATU JAM
Tanyalah seorang gadis yang sedang menunggu kekasihnya

Untuk memahami makna SATU MENIT
Tanyalah seseorang yang ketinggalan kereta

Untuk memahami makna SATU DETIK
Tanyalah seseorang yang selamat dari kecelakaan

Untuk memahami makna SATU MILI DETIK
Tanyalah seorang pelari yang meraih medali perak Olimpiade

—-

Untuk memahami makna DUA PULUH LIMA MENIT
Tanyalah MLTR!


25 Minutes
(Jascha Richter)

After some time I’ve finally made up my mind
she is the girl and I really want to make her mine
I’m searching everywhere to find her again
to tell her I love her
and I’m sorry ’bout the things I’ve done

I find her standing in front of the church
the only place in town where I didn’t search
She looks so happy in her weddingdress
but she’s crying while she’s saying this

Chorus:
Boy I’ve missed your kisses all the time but this is
twentyfive minutes too late
Though you travelled so far boy I’m sorry your are
twentyfive minutes too late

Against the wind I’m going home again
wishing me back to the time when we were more than friends

But still I see her in front of the church
the only place in town where I didn’t search
She looked so happy in her weddingdress
but she cryed while she was saying this

Chorus: Boy I’ve missed your kisses all the time but this is
twentyfive minutes too late
Though you travelled so far boy I’m sorry your are
twentyfive minutes too late

Out in the streets
places where hungry hearts have nothing to eat
inside my head
still I can hear the words she said

Chorus:
Boy I’ve missed your kisses all the time but this is
twentyfive minutes too late
Though you travelled so far boy I’m sorry your are
twentyfive minutes too late

I can still hear her say…….

Maling Pulsa

Standard

Sudah lama saya menggunakan layanan internet dari sebuah operator telepon selular. Bukannya karena layanan dari mereka paling sophisticated, tapi modem colok bagi saya selama saya tinggal di sini adalah opsi yang paling nyaman. Selain saya bisa berpindah-pindah tempat, saya tidak perlu pasang kabel dimana-mana selama saya tinggal nomaden. Memang saya sering mengeluhkan soal jaringan atau leletnya kecepatan internet, tapi saya tidak pernah merasa sekesal ini terhadap layanan internet mereka.

Oke. Sekali saya pernah maki-maki mereka di counter customer servicenya, dan saya harap itu adalah terakhir kalinya saya merasa dikerjain oleh operator telepon selular itu. Ternyata tidak. Mengingatkan saya bahwa saya masih tinggal di Indonesia di mana layanan konsumen adalah hal terakhir yang bisa diberikan kepada para penyedia jasa. Dimana konsumen adalah mangsa empuk yang bisa dibodohi dan kalo mengadu di internet tiba-tiba mereka terkena tuntutan pencemaran nama baik dengan dasar UU ITE.

Saya tidak usah sebutkan nama providernya, toh kebanyakan pembaca sudah tahu. Kalau belum tahu, ikuti saja cerita saya, pasti nantinya tahu sendiri…

Selama ini saya menggunakan layanan internet unlimited dengan quota 5gb. Tapi karena saya tidak pernah menghabiskan quota saya, maka saya pikir kali ini saya mau downgrade saja menjadi 1gb. Toh saya tidak sedang berencana mendownload apapun. Maka, untuk layanan 1GB seharga 50rb (belum termasuk pajak) saya mengisi pulsa saya sebesar 75 ribu rupiah.

Seperti biasa, sesuai prosedur, saya mengirimkan sms aktivasi MAU 1GB. Tapi dari sana saya mendapatkan informasi bahwa pulsa saya tidak mencukupi. Saya langsung mengecek pulsa dan ternyata pulsa utama saya tinggal 19 rupiah. Ke mana 75 ribu saya?

Saya pikir pulsa yang saya masukkan sebelumnya belum masuk, tapi kode voucher saya ternyata sudah terpakai. Saya mencoba menelepon ke customer service dan nggak bisa, karena nomer 123 hanya untuk ngecek pulsa, dan untuk layanan customer service prabayar saya harus menelepon ke 200 (yang tidak sanggup saya bayar karena pulsa saya tinggal 19 rupiah). Saya menggunakan nomer telepon lain untuk menghubungi customer service, dengan kesal tentunya.

Saat saya meminta penjelasan mengenai kenapa pulsa saya hilang, jawabannya adalah:

“Pulsanya sudah terpakai untuk pemakaian gprs normal. Karena perpanjangan otomatis 5gb pulsanya tidak mencukupi, maka langsung dipindahkan ke gprs normal.”

Oh. Jadi itu kenapa saya baru pake internet 5 menit dan pulsa saya sudah habis?

Pengen saya teriaki maling, tapi nanti saya dibilang mencemarkan nama baik. Pengen saya tuntut ke pengadilan tapi nanti biaya saya menuntut mereka lebih mahal daripada pulsa yang saya minta. See how the system “supports” the customers. Haha *sinis*. This is why our people in another country refuse to come back… This is not the home country we want to live in…

Suck

Blognya Berantakan, Byq?

Standard

Sejak beberapa bulan yang lalu, si Onyed sering bilang kalau di blog saya suka muncul popup. Saya ingat betul sejak blog saya yang dulu dihilangkan oleh Google, saya tidak lagi memasang iklan-iklan di blog saya. Setidaknya, sampai hari ini saya kok belum kepengen monetize blog saya lagi. Saya juga tidak memasang widget aneh-aneh, dan apapun yang saya curigai menyebabkan blog saya keluar popupnya sudah saya hapus pertama kali saya mendengar si Onyed mengatakannya.

Yah, saya sih agak bingung juga kenapa si Onyed tidak memasang popup blocker, soalnya kan di mana-mana browser sudah dilengkapi dengan popup blocker. Tapi, yang lebih saya bingung lagi, siapa yang memasang popup di blog saya??

Beberapa minggu lalu saya membuang beberapa script yang biasanya digunakan untuk tracking account. Saya pikir sudah tidak ada lagi popup di sini, sampai si Onyed meninggalkan comment penting yang mengatakan bahwa di blog saya masih keluar popup nya. Akhirnya hanya ada satu hal yang saya bisa curigai… theme gratisan ini mungkin sudah dilengkapi dengan script yang memunculkan popup, untuk keuntungan pemilik theme nya. Menyebalkan sekali dia…

Karena di browser saya ada popup blockernya, saya tidak tahu apakah saya sudah berhasil menyingkirkan script sialan itu, jadi sekali lagi saya mohon bantuan yang lain untuk memberi tahu saya kalau masih ada popup muncul di blog ini. Memang tampang blog ini jadi nggak secantik sebelumnya, bahkan cenderung berantakan, tapi saya rasa kenyamanan visitor harus diutamakan, ya kan? Iya kalo popupnya aman, gimana kalo popupnya ada spy ngikut? Nanti saya berdosa menulari komputer orang-orang dengan hal-hal yang tidak diinginkan…

Sementara mungkin blog saya akan tampil jelek begini. Tidak apa-apa kan? Sambil saya jalan-jalan cari theme yang bagusan yang bisa digunakan untuk nampang lagi… ada ide WP theme apa yang bisa saya pakai?

 

SENSOR!!

Standard

Dalam sebuah artikel oleh Judy Blume di sebuah website yang saya dapat linknya dari @openculture di twitter, penulis yang sudah saya kenal namanya sejak sekitar sepuluh tahun lalu ini membahas tentang sensor dan book banning. Saya sudah mengenal tentang sensor dan book banning ini sejak saya masih kecil, dan memang baru akhir-akhir ini saya bicarakan di beberapa forum luar. Saya tidak menyangka, masalah yang sama bukan hanya dialami dunia penulisan Indonesia saja tapi juga di dunia penulisan negara besar yang katanya bebas merdeka seperti Amerika Serikat.

Dulu, pada waktu saya kecil, sensor adalah alat penguasa untuk menyortir informasi apa saja yang bisa lolos dan dikonsumsi publik. Dengan alasan perlindungan konsumen atau menjaga generasi muda untuk tidak terpengaruh hal-hal buruk maka pita film digunting, majalah dibredel, dan buku-buku tertentu tidak pernah masuk ke pasaran. Sekarang, dengan adanya internet, informasi melenggang bebas ke dunia maya, dan badan sensor kelimpungan karena tidak bisa menyortirnya satu-persatu. Akibatnya, dibuatlah undang-undang untuk membungkam orang-orang yang hanya bisa bicara di dunia digital ini, dengan alat kekuasaan baru.

Sensor dan restriksi karya sastra, bagi saya bukan hanya membuat orang-orang makin penasaran (bukan membuat orang jadi takut membeli/membaca buku tersebut), namun juga merupakan sarana pembodohan. Sensor yang terbaik bukan dilakukan dengan pemotongan pita film, atau mengedit buku dan membelokkan kisah, atau membuang kata-kata yang dinilai vulgar, tapi dengan memberikan pendidikan yang cukup. Saya rasa bangsa ini bisa jadi pintar dan memilah-milih sendiri mana sastra dan mana pornografi, mana vulgar dan mana blak-blakan.

Dalam artikelnya tersebut Judy Blume diserang (atau bahasa halusnya: dikritik) banyak orang karena buku yang ditulisnya tersebut. Misalnya saat dalam buku yang ditujukan untuk pembaca remaja tersebut membicarakan tentang mimpi basah, masturbasi, maupun pilihan untuk tidak memeluk agama. Saya langsung teringat salah seorang teman saya yang seorang penerjemah untuk teenlit di sebuah penerbitan besar di Indonesia, yang mengeluh saat buku yang dia terjemahkan ceritanya dirombak sampai sama sekali berbeda dengan buku aslinya hanya karena mengangkat cerita tentang seks di dalamnya. Bagi saya, selain membodohi pembaca, sensor semacam itu sama sekali tidak menghargai karya penulis asli.

Betapa masyarakat (atau kelompok masyarakat tertentu, kalau tidak ingin dibilang menggeneralisasi) itu begitu manja, ingin disuapi dengan buku yang pesan moralnya ditulis dengan huruf kapital tebal besar-besar didalamnya. Padahal, dengan sedikit akal sehat, dari sebuah cerita tidak sulit mengintepretasi pesan moral di dalamnya, seperti dalam cerita Blubber oleh Judy Blume (saya bahkan punya bukunya yang ini), yang menceritakan seorang anak yang di-bully di sekolahnya.

Dalam artikelnya itu Judy Blume mengatakan bahwa seorang pemerhati mengkritiknya karena dalam bukunya si “penjahat” atau antagonis yang mem-bully, tidak mendapatkan hukumannya. Tidak seperti dalam kisah dongeng dimana yang baik selalu menang dan yang jahat selalu kalah; buku ini menunjukkan betapa susahnya kehidupan nyata, dimana mengambil pilihan yang benar itu tidak mudah. Saya langsung ingat beberapa waktu lalu Clara Ng, penulis Indonesia favorit saya juga mendapatkan kritikan serupa mengenai buku anak-anaknya, yang tidak menuliskan “pesan moral” di akhir ceritanya.

Saya kagum dengan keputusan Clara Ng bertahan dengan pilihannya. Menuliskan besar-besar pesan moral di karyanya adalah proses menggurui, bukan mendidik dan menyampaikan. Lagipula karya sastra adalah sesuatu yang sifatnya apresiatif, bergantung sepenuhnya kepada bagaimana cara pembaca/pemirsa/penonton mengintepretasi ceritanya. Sensor hanya akan menghalangi perkembangan kita yang seharusnya mulai belajar menerima keanekaragaman informasi dan intepretasi.

Yah, tapi pada akhirnya tulisan saya kali ini hanya akan berhenti sebagai pendapat saja. Saya tidak sedang berusaha untuk membuat political statement karena saya bukan politisi, atau saya ingin mengubah dunia (yak, saya mencontek sepenuhnya dari kata-kata Sarah Shahi di promo Fairly Legal-nya). Tulisan ini murni pendapat, kok, yang tidak setuju silakan saja toh orang lain juga boleh punya pendapatnya sendiri, dan nggak akan saya sensor kecuali spam di comment saya (yang otomatis kena sensor dari Akismet), ya kan?

Seminggu Ga Posting, Byq?

Standard

Yap…

Seminggu saya nggak muncul dengan satu pun postingan, dan saya tahu bahwa apapun alasannya, bolos seminggu itu tidak bisa diterima. Jadi, daripada saya menghabiskan waktu untuk beralasan, saya pikir sebaiknya saya langsung update dulu saja tentang apa yang saya lakukan selama saya nggak ngeblog.

Pertama, saya memang agak sibuk beberapa hari kemarin karena saudara sepupu saya menggelar resepsi pernikahan dan saya terlibat di dalamnya. Menyebalkan memang, tapi cerita tentang betapa menyebalkannya acara itu akan saya update di post yang lain. Tapi yang jelas acara pernikahan ini memakan beberapa hari untuk persiapan dan satu hari penuh untuk acaranya sendiri.

Lalu yang kedua, saya sedang membereskan rumah. Bukan bersih-bersih rumah seperti biasa, tapi saya memang sedang bersiap-siap untuk meninggalkan apartemen saya ini. Tidak terasa sudah hampir setahun saya tinggal di sini, dan sekarang sudah hampir habis masa kontraknya. Karena saya berencana untuk meneruskan kuliah di tempat lain, saya tidak memperpanjang kontrak di sini, dan saya harus mengangkut barang-barang saya.

Kesalahan kami adalah membiarkan banyak barang berceceran di mana-mana. Akibatnya, pada waktu kami harus membereskan barang-barang itu, kami jadi kerepotan sendiri. Beberapa kali saya mendapati ada beberapa buku atau printilan tercecer karena benda tersebut tidak berada bersama-sama dengan benda-benda lain yang sejenis. Sampai sekarang saya sudah berhasil memindahkan setengah isi rumah ke dalam box-box yang sudah saya simpan dengan aman di dalam gudang. Sisanya lagi belum sempat dibereskan, dan beberapa masih saya gunakan untuk kegiatan sehari-hari. Moga-moga saja cukup waktu, karena tidak ada yang membantu saya beberes kali ini.

Kegiatan yang lain? Saya mencoba mulai berolah raga dan ternyata cukup menyenangkan juga bangun pagi setiap harinya. Setidaknya saya tidak terlalu alergi dengan debu yang mulai menumpuk setelah saya mulai membereskan barang-barang kami. Lagipula, setelah mulai berolah raga, saya merasa ada sedikit harapan saya bisa kembali ke ukuran baju saya waktu SMA.

Dan, dengan berbagai kegiatan yang sebenarnya agak menghabiskan waktu ini, saya hanya berharap bisa mulai posting satu entry per hari lagi mulai besok. Hehehe….

One Hour Worth

Standard

Saya paling sebal disuruh menunggu orang yang kalau janjian selalu telat. Telatnya bukan sembarang telat, tapi bisa telat berjam-jam dan seringnya tanpa kabar. Bukan cuma sebal, saya benci banget menunggu orang-orang semacam ini, dipikirnya waktu dia doang yang berharga sampai dia berani menyuruh saya membuang-buang waktu menunggu dia,

Di banyak negara dengan budaya time management yang tinggi, keterlambatan lima menit saja itu berarti insult terhadap orang yang diajak janjian. Di Indonesia saja telat itu dianggap hal yang biasa, bahkan jam tangan karet lebih popular daripada jam tangan rolex. Itu kenapa kalau di luar negeri profesi pembuat jam dihargai, karena ketepatan waktu itu berharga, sedangkan di sini jam tangan adalah alat gaya (itupun gaya dengan jam tangan bajakan!).

Beberapa waktu lalu saya pernah menulis di twitter: kalau dalam satu hari kita menunggu seorang selama satu jam, maka dalam setahun kita membuang waktu selama kurang lebih tiga bulan lamanya. Bayangkan tiga bulan bengong tanpa melakukan apapun yang berarti hanya untuk menunggu orang yang tidak jelas juntrungannya, tidak ada kabar apakah akan datang atau tidak.

Yang lebih ngehe (maaf, saya tidak menemukan kata yang lebih tepan untuk menggambarkan perasaan saya mengenai hal ini), kalau misalnya kita yang sudah dibuat menunggu mulai marah-marah, orang lain bisa berpikir kita lebay. Bukan cuma itu, kalau kita main tinggal saja, nanti dibilang kita tidak menghargai orang yang sudah usaha untuk datang menemui kita. Usaha kok telat tanpa kabar? Udah telat kok masih minta dihargai?

Kalau saya seorang psikolog atau pengacara, maka saya bisa minta charge overtime karena setiap menit waktu saya berharga. Kalau saya seorang pialang saham, saya akan tuntut orang yang membuat saya menunggu karena membuat saya kehilangan beberapa ratus poin dari pasar saham hanya karena membuang satu jam saya yang berharga itu.

Datang tepat waktu bukan hanya menunjukkan penghargaan kita terhadap orang yang kita ajak janjian untuk bertemu, tapi lebih tepatnya penghargaan terhadap komitmen kita yang sudah membuat janji temu. Dalam satu jam, pikirkan berapa banyak hal yang bisa kita lakukan, berapa banyak soal yang bisa kita jawab saat ujian, berapa banyak tulisan yang bisa kita tulis…

Berapa harga satu jam untuk kamu?