One Hour Worth

Standard

Saya paling sebal disuruh menunggu orang yang kalau janjian selalu telat. Telatnya bukan sembarang telat, tapi bisa telat berjam-jam dan seringnya tanpa kabar. Bukan cuma sebal, saya benci banget menunggu orang-orang semacam ini, dipikirnya waktu dia doang yang berharga sampai dia berani menyuruh saya membuang-buang waktu menunggu dia,

Di banyak negara dengan budaya time management yang tinggi, keterlambatan lima menit saja itu berarti insult terhadap orang yang diajak janjian. Di Indonesia saja telat itu dianggap hal yang biasa, bahkan jam tangan karet lebih popular daripada jam tangan rolex. Itu kenapa kalau di luar negeri profesi pembuat jam dihargai, karena ketepatan waktu itu berharga, sedangkan di sini jam tangan adalah alat gaya (itupun gaya dengan jam tangan bajakan!).

Beberapa waktu lalu saya pernah menulis di twitter: kalau dalam satu hari kita menunggu seorang selama satu jam, maka dalam setahun kita membuang waktu selama kurang lebih tiga bulan lamanya. Bayangkan tiga bulan bengong tanpa melakukan apapun yang berarti hanya untuk menunggu orang yang tidak jelas juntrungannya, tidak ada kabar apakah akan datang atau tidak.

Yang lebih ngehe (maaf, saya tidak menemukan kata yang lebih tepan untuk menggambarkan perasaan saya mengenai hal ini), kalau misalnya kita yang sudah dibuat menunggu mulai marah-marah, orang lain bisa berpikir kita lebay. Bukan cuma itu, kalau kita main tinggal saja, nanti dibilang kita tidak menghargai orang yang sudah usaha untuk datang menemui kita. Usaha kok telat tanpa kabar? Udah telat kok masih minta dihargai?

Kalau saya seorang psikolog atau pengacara, maka saya bisa minta charge overtime karena setiap menit waktu saya berharga. Kalau saya seorang pialang saham, saya akan tuntut orang yang membuat saya menunggu karena membuat saya kehilangan beberapa ratus poin dari pasar saham hanya karena membuang satu jam saya yang berharga itu.

Datang tepat waktu bukan hanya menunjukkan penghargaan kita terhadap orang yang kita ajak janjian untuk bertemu, tapi lebih tepatnya penghargaan terhadap komitmen kita yang sudah membuat janji temu. Dalam satu jam, pikirkan berapa banyak hal yang bisa kita lakukan, berapa banyak soal yang bisa kita jawab saat ujian, berapa banyak tulisan yang bisa kita tulis…

Berapa harga satu jam untuk kamu?

Advertisements

One response