SENSOR!!

Standard

Dalam sebuah artikel oleh Judy Blume di sebuah website yang saya dapat linknya dari @openculture di twitter, penulis yang sudah saya kenal namanya sejak sekitar sepuluh tahun lalu ini membahas tentang sensor dan book banning. Saya sudah mengenal tentang sensor dan book banning ini sejak saya masih kecil, dan memang baru akhir-akhir ini saya bicarakan di beberapa forum luar. Saya tidak menyangka, masalah yang sama bukan hanya dialami dunia penulisan Indonesia saja tapi juga di dunia penulisan negara besar yang katanya bebas merdeka seperti Amerika Serikat.

Dulu, pada waktu saya kecil, sensor adalah alat penguasa untuk menyortir informasi apa saja yang bisa lolos dan dikonsumsi publik. Dengan alasan perlindungan konsumen atau menjaga generasi muda untuk tidak terpengaruh hal-hal buruk maka pita film digunting, majalah dibredel, dan buku-buku tertentu tidak pernah masuk ke pasaran. Sekarang, dengan adanya internet, informasi melenggang bebas ke dunia maya, dan badan sensor kelimpungan karena tidak bisa menyortirnya satu-persatu. Akibatnya, dibuatlah undang-undang untuk membungkam orang-orang yang hanya bisa bicara di dunia digital ini, dengan alat kekuasaan baru.

Sensor dan restriksi karya sastra, bagi saya bukan hanya membuat orang-orang makin penasaran (bukan membuat orang jadi takut membeli/membaca buku tersebut), namun juga merupakan sarana pembodohan. Sensor yang terbaik bukan dilakukan dengan pemotongan pita film, atau mengedit buku dan membelokkan kisah, atau membuang kata-kata yang dinilai vulgar, tapi dengan memberikan pendidikan yang cukup. Saya rasa bangsa ini bisa jadi pintar dan memilah-milih sendiri mana sastra dan mana pornografi, mana vulgar dan mana blak-blakan.

Dalam artikelnya tersebut Judy Blume diserang (atau bahasa halusnya: dikritik) banyak orang karena buku yang ditulisnya tersebut. Misalnya saat dalam buku yang ditujukan untuk pembaca remaja tersebut membicarakan tentang mimpi basah, masturbasi, maupun pilihan untuk tidak memeluk agama. Saya langsung teringat salah seorang teman saya yang seorang penerjemah untuk teenlit di sebuah penerbitan besar di Indonesia, yang mengeluh saat buku yang dia terjemahkan ceritanya dirombak sampai sama sekali berbeda dengan buku aslinya hanya karena mengangkat cerita tentang seks di dalamnya. Bagi saya, selain membodohi pembaca, sensor semacam itu sama sekali tidak menghargai karya penulis asli.

Betapa masyarakat (atau kelompok masyarakat tertentu, kalau tidak ingin dibilang menggeneralisasi) itu begitu manja, ingin disuapi dengan buku yang pesan moralnya ditulis dengan huruf kapital tebal besar-besar didalamnya. Padahal, dengan sedikit akal sehat, dari sebuah cerita tidak sulit mengintepretasi pesan moral di dalamnya, seperti dalam cerita Blubber oleh Judy Blume (saya bahkan punya bukunya yang ini), yang menceritakan seorang anak yang di-bully di sekolahnya.

Dalam artikelnya itu Judy Blume mengatakan bahwa seorang pemerhati mengkritiknya karena dalam bukunya si “penjahat” atau antagonis yang mem-bully, tidak mendapatkan hukumannya. Tidak seperti dalam kisah dongeng dimana yang baik selalu menang dan yang jahat selalu kalah; buku ini menunjukkan betapa susahnya kehidupan nyata, dimana mengambil pilihan yang benar itu tidak mudah. Saya langsung ingat beberapa waktu lalu Clara Ng, penulis Indonesia favorit saya juga mendapatkan kritikan serupa mengenai buku anak-anaknya, yang tidak menuliskan “pesan moral” di akhir ceritanya.

Saya kagum dengan keputusan Clara Ng bertahan dengan pilihannya. Menuliskan besar-besar pesan moral di karyanya adalah proses menggurui, bukan mendidik dan menyampaikan. Lagipula karya sastra adalah sesuatu yang sifatnya apresiatif, bergantung sepenuhnya kepada bagaimana cara pembaca/pemirsa/penonton mengintepretasi ceritanya. Sensor hanya akan menghalangi perkembangan kita yang seharusnya mulai belajar menerima keanekaragaman informasi dan intepretasi.

Yah, tapi pada akhirnya tulisan saya kali ini hanya akan berhenti sebagai pendapat saja. Saya tidak sedang berusaha untuk membuat political statement karena saya bukan politisi, atau saya ingin mengubah dunia (yak, saya mencontek sepenuhnya dari kata-kata Sarah Shahi di promo Fairly Legal-nya). Tulisan ini murni pendapat, kok, yang tidak setuju silakan saja toh orang lain juga boleh punya pendapatnya sendiri, dan nggak akan saya sensor kecuali spam di comment saya (yang otomatis kena sensor dari Akismet), ya kan?

Advertisements

Comments are closed.