Monthly Archives: July 2011

Have You Seen Me Naked?

Standard

Well, I am so sorry to disappoint you but you’re not gonna see me literally naked. Seriously… this is a blog not a porn site even if you wish it is…

Come on… If you haven’t got rid of your obscene imagination out your mind, I can’t start talking about anything right now. Are we good now? Yes? So let’s move on…

Referring to the previous entry the other day, I was thinking of how much I have opened myself to my friends. How many of them know me that well, and how many of them I know as well as they know me?

I started to realize that lately I barely knew anyone. I mean, I know who they are but I never knew what they really are. It’s a shame since I knew them for a very long time. I started to understand where I was standing and how far it was from where they were, and I wondered how I became that far.

I always thought that letting myself open is giving a chance to anyone to see the fragile side of me, and I encourage people not to do that. I did okay with that until yesterday I knew that not only making me safe, closing myself up kept everyone away as well. That’s funny because I used to be the wise (wo)man who thought about it and told people how to deal with it. Even doctors can’t cure themselves!

So, fixing up a broken friendship means cleaning up a messy friendshits. I can try but it means I have to be brave an open myself a little bit. Maybe, not by letting them see me literally naked, but at least they know what kind of person they’re dealing with.

Advertisements

Everybody Needs a Punch In the Face

Standard

Dedicated to the old good fellow

When you were younger, your parents spanked you in behind to remind you what you did wrong. But when you’re older, and spanking started to be considered as domestic violence, you’re no longer listening to your parents as much as you did when you’re young. You’re lucky if you have at least one friend to always remind you when you’re misbehaving, sometimes by punching you right in the face… figuratively.

Sometimes, when you’re living in a world of your own, building your own realm, you forgot about reality. I am lucky that I still have friends who always try to bring me back stepping ground before I forgot how. I needed a punch in the face, and I got that last night.

If you heard what he said to me today, you might think my friend wanted me to be who I was, you’re wrong. No one wanted me to step back and become the old Bybyq. But the thing is, who I am now is not the better version of who I was then, and somehow I agreed with him. It’s to arrogant even for me to be defensive and finding excuses.

I did what I did, and I needed a kick in the head to wake me up. Maybe I need it even harder to motivate me to change into a better person. I think I should thank anyone who have seen me and talk to me lately because they remind me of who I was, and how good I am supposed to be.

Please don’t worry, and please don’t hesitate to shake me up because everyobdy needs a punch in the face. Well, I admit that some hard punch can knock people out but, hey… what doesn’t kill you makes you traumatize stronger, doesn’t it?

 

When Life is Good…

Standard

Siang kemarin Mama saya habis marah-marah. Seorang yang biasanya mengambil jahitan dari pabrik Mama saya tiba-tiba saja memutuskan bahwa dia tidak mau mengambil item-item tertentu, dan bersikap seenaknya. Pada akhirnya orang tersebut memilih tidak mengambil jahitan sama sekali, dengan alasan sibuk karena sedang banyak jahitan yang harus dikerjakan.

Sambil mengomel, Mama saya berkata: “Gitu tuh! Dulu aja waktu masih susah nggak ada kerjaan, datang mengemis-ngemis minta jahitan supaya bisa makan. Sekarang saat usahanya sudah jalan, belagu ambil jahitan pilih-pilih…”

Papa saya yang mendengar hal tersebut hanya tertawa, lalu memandang anak-anaknya. Setelah menenangkan Mama saya yang masih panas, Papa saya pun berkata: “Sudah biasa kok, orang datang pada kita saat kesulitan, tapi saat sudah jaya mereka berubah.”

Dan entah kenapa, sekali lagi dia memandang saya dan menekankan: “Orang kalo dalam keadaan jaya sikapnya berubah kok… Lihat saja…”

Saya hanya tertawa menanggapinya. Who are you talking to, Papa? I know what you’re talking about. Even I know someone like that!!

Bukannya ingin mengungkit belas kasih atau meminta balas jasa. Bagi saya, hal itu tidak sepenting kelihatannya. Bukan mengharapkan gratitude berlebihan, atau membuat mereka menghamba pada saya karena merasa berhutang budi. Hanya saja, apa salah kalau saya (atau Papa saya) berharap bahwa sikap mereka terhadap kami tidak berubah baik saat susah maupun saat senang.

Maksudnya, kalo memang sifat aslinya tengil, ya tengil aja… nggak usah jadi sok manis saat susah untuk minta tolong. Setengil-tengilnya, kalau memang lagi butuh juga dibantu kok… Bahkan orang tua saya mengatakan bahwa kakek saya yang mengajari bahwa selama kita bisa membantu, ya bantulah. Bukan karena mengharap karma baik, atau balas budi, tapi karena itu adalah hal yang benar untuk dilakukan.

Saya paling sedih setiap kali ada orang yang datang pada saat kere, dan pergi setelah mereka punya duit. Seriously, saya bukan orang kaya, begitu juga orang tua saya, jadi tidak usah menjadi benalu, apalagi untuk mensupport hidup hura-hura. Bermanis muka di hadapan saya tapi setelah mendapatkan pacar kaya, baru sadar bahwa saya tidak bisa mengimbangi tajirnya pacar mereka, lalu… POOF!!

They never talk to me anymore.

*ketawa getir*

But that’s how life works. I did the right thing to do, doesn’t mean everyone else will do the same.

Teror Pendidikan?

Standard

Hari ini saya mendengar TV, saat sedang menonton salah satu tayangan televisi nasional kita, katanya teror tidak melulu yang bersifat fisik. Hal-hal yang terasa mengancam dan meresahkan dapat dikategorikan sebagai teror, dan narator yang membawakan acara tersebut mengatakan bahwa rakyat Indonesia juga kadang kala (atau sering?) merasa diteror oleh pemerintah. Dari teror harga barang yang terus naik, sampai teror kurangnya rasa aman untuk menjalankan ibadah menurut agamanya masing-masing…

Saya masih bisa mengikuti arah pembicaraan narator tersebut sampai saya mendengar bahwa masyarakat merasa diteror dengan Ujian Nasional. Oh ya?

Katanya, masyarakat merasa terteror dengan Ujian Nasional sampai mereka yang ketakutan tidak lulus, atau orang tua yang ketakutan anaknya tidak lulus, atau guru-guru yang takut anak didiknya tidak lulus “tidak menghiraukan nurani (kalau tidak salah begitulah media tersebut menggambarkan)” dan berbuat curang.

Mendengar kenyataan yang menakutkan itu, entah bagian mana yang meneror saya. Apakah karena UN yang bagi saya tidak susah-susah amat itu ternyata menjadi teror untuk mayoritas pelajar di negeri ini? Atau apakah karena pelajar di negeri ini dianggap begitu lemahnya sehingga begitu mendapat kesulitan mengerjakan ujian langsung berpaling ke jalan pintas? Ataukah karena ternyata sistem dan support system (guru dan orang tua) malah mengijinkan bahkan mendukung kecurangan itu? Atau karena media massa malah menganggap standar yang diterapkan pemerintah itu sebagai teror?

Saya rasa kali ini saya tidak bisa sepenuhnya menyalahkan pemerintah. Memang mental bangsa ini yang harus diubah. Saya rasa masyarakat menjadi manja karena sedikit-sedikit demo minta maunya mereka dituruti. Kalau Ujian Nasional di Indonesia dianggap sulit, lihat ke Jepang sana!

Di Jepang (baca komik sana, kalo males browsing), Ujian Nasional tidak kalah menyeramkannya bagi para pelajar Jepang. Tingginya tingkat bunuh diri di kalangan remaja sebagian juga disebabkan karena depresi ingin masuk ke perguruan tinggi yang bagus dan mendapat nilai Ujian Nasional yang gemilang. Tapi, alih-alih mencontek, para pelajar Jepang belajar, ikut bimbel, atau pelajaran tambahan di sekolah, dan kalau tetap gagal juga… ikut lagi tahun depan.

Saya bukannya tidak simpatik, atau tidak berusaha berempati dengan keadaan masyarakat bawah. Bahkan saya mengerti kok kalau pendidikan menjadi teror karena biaya pendidikan yang tidak kecil, tetapi kalau yang dianggap sebagai teror adalah standar kelulusan, maka betapa menyedihkannya bangsa ini. Mau sampai kapan menjadi bangsa bodoh? Bahkan Kuba yang negara komunis saja standar pendidikannya lebih tinggi daripada ini…

Bukannya saya mau mengkritik media ya, tapi saya rasa media terlalu memanjakan rakyat dengan berita yang kurang berimbang apabila menganggap wajar kalau masyarakat yang terteror oleh sulitnya Ujian Nasional kemudian berlaku curang untuk dapat lulus. Bagi saya, standar kelulusan itu penting, dan bahkan kalau bisa dinaikkan lagi untuk meningkatkan mutu pendidikan di negara ini. Don’t get me wrong, I do care with my own way….

Rayaaap!! No!!

Standard

Sepertinya rumah ini memang sudah harus benar-benar direnovasi. Setelah ditinggali kira-kira lima belas tahun lamanya, dan setelah pembicaraan tentang renovasi rumah yang tidak pernah jelas bagaimana realisasinya, memang hanya tinggal menunggu waktu rumah ini memakan korban. Dan, kali ini saya tidak membicarakan renovasi setengah-setengah seperti yang dilakukan oleh orang tua saya beberapa waktu lalu, tapi perombakan total. Bongkar!!

Ya. Beberapa waktu lalu memang rumah kami terinfeksi rayap. Beberapa kusen pintu sudah habis duluan, meskipun pintunya masih tegak berdiri. Pada waktu itulah pembicaraan tentang renovasi total mulai didengungkan, tapi pada kenyataanya hanya bagian-bagian yang rusak dan lapuk saja yang diganti. Setelah pengecatan ulang dan penggantian beberapa furniture, pembicaraan tentang renovasipun hanya sekedar bumbu obrolan saat tidak tahu lagi harus ngomongin apa.

Sampai akhirnya serangan rayap berikutnya terjadi lagi. Dua kali. Yang pertama adalah kira-kira sebulan yang lalu, dan yang kedua adalah beberapa hari yang lalu. Kali ini yang jadi korban bukan kusen pintu atau jendela, atau lemari kayu kami, tapi koleksi buku-buku kami yang berharga. Beberapa buku bahkan harus dibuang karena kami takut kalau buku itu menginfeksi buku-buku yang lain kalau disimpan.

Yang lebih menyebalkan, buku-buku yang dimakan rayap bukanlah buku-buku biasa. Bukan buku novel populer yang dapat dengan mudah dibeli di toko buku, melainkan buku rangkaian ensiklopedia untuk anak-anak dengan hard cover yang sudah tidak lagi diproduksi. Sial betul. Saya bahkan belum sempat membaca keseluruhan serinya.

Sekarang, selain kami memanggil pest control service, pembicaraan mengenai renovasi total kembali diungkit. Saya tidak tahu berapa lama topik tentang renovasi ini akan bertahan, saya juga tidak tahu apakah akan benar-benar terlaksana. Moga-moga saja tidak akan ada lagi korban-korban rayap di rumah ini…

Bye bye books…

Kicked by Andy

Standard

Saya harus mengacungi jempol untuk acara Kick Andy kemarin, karena selain membuat saya berpikir, juga membuat saya mengingat kembali banyak hal. Mungkin tidak semuanya baik, tapi bahkan memori yang buruk adalah pengingat bagi saya akan kehidupan yang sudah saya lalui selama ini. Saya berterima kasih karena Kick Andy sudah mengangkat tema ini di acaranya, dan saya berharap siapapun yang menontonnya dapat mengambil pelajaran dan hikmah dari sana.

Awalnya saya teringat nenek dan almarhum kakek saya. Setelah Indonesia merdeka, kakek saya tidak lagi berperang melawan penjajah, namun kakek dan nenek saya membuka rumahnya untuk siapapun bekas pejuang yang ditelantarkan negara, memberi mereka makan dan mengajak mereka merokok dan minum kopi. Kakek saya adalah orang yang baik hati, prinsipnya adalah, selama masih bisa membantu orang, jangan menolak untuk memberi bantuan (jelas sesuatu yang tidak mungkin bisa saya lakukan). Kakek saya bahkan tidak mau menolak tetangga yang ingin meminjam uang darinya pada saat dia sendiri sedang kere.

Saya tidak tahu kenapa, dengan apa yang pernah dilakukan oleh kakek saya, keluarga saya harus mengalami apa yang terjadi di Mei 1998. Ingatan itu juga muncul begitu saja saat acara Kick Andy tersebut memasuki sesi kedua. Saya pun ingat betapa bencinya saya kepada negara ini, karena tidak melindungi saya dan teman-teman saya yang kemudian melarikan diri ke luar kota, bahkan ke luar negeri. Saya pernah memutuskan suatu hari saya akan pergi dari negara ini, tapi saya tidak tahu bahwa suatu hari itu akan datang beberapa bulan lagi.

Ya. Saya, ayah saya dan kakek saya adalah tiga orang berbeda dari tiga generasi berbeda. Kami lahir dan besar dan mungkin juga akan mati di negara ini. Kami mengambil sikap yang berbeda terhadap negara ini. Kalau kakek saya mengambil tindakan yang sifatnya lebih physical, ayah saya tidak begitu. Ayah saya percaya bahwa sebelum dia bisa melindungi negaranya, dia harus bisa melindungi keluarganya dulu. Selama negara tidak bisa memberikan perlindungan kepada keluarganya, maka dia yang akan melakukannya. Meskipun begitu, dengan semua sikap apatis ayah saya, toh pada generasinyalah keluarga kami akhirnya menjadi WNI, mencoba untuk mempercayai negara ini.

Saya?

Saya skeptis. Saya berusaha optimis bahwa saya bisa mengubah negara ini dengan menulis, meskipun saya tahu hanya dengan keajaiban super hal itu bisa terjadi. Meskipun orang tua saya sudah wanti-wanti supaya saya tidak menulis seperti ini. Jangan-jangan suatu hari saya diciduk dan dipidana seperti Prita Mulyasari karena apa yang saya tulis… Tapi, inilah yang membedakan saya dengan ayah dan kakek saya, bukan?

Jakarta Jakarta

Standard

Saya tidak percaya akhirnya saya harus mengatakan ini: Saya kangen Jakarta.

Saya tidak kangen dengan jalan raya yang luas, dan macet dan sibuk setiap saat. Saya tidak kangen dengan mall dimana saya bisa membeli sepatu yang tidak pernah bisa saya temukan di Solo. Saya juga tidak kangen-kangen amat dengan restoran sushi, meskipun makanan pertama yang akan saya santap begitu menginjakkan kaki di Jakarta adalah sashimi.

Tapi setidaknya di Jakarta saya tidak dipaksa untuk ulah raga jempol setiap saat. Internet tidak mati dengan suka rela sekali dalam seminggu. Saya tidak perlu susah payah hanya untuk melanjutkan hidup blog yang semakin lama semakin ditinggalkan pembacanya ini. Oh, saya merana.

Apalagi, di Jakarta selalu ada kegiatan individual. Berbeda dengan di sini yang apa-apa selalu harus rame-rame. Saya bisa pergi makan sendiri, atau belanja sendiri, atau nonton sendiri tanpa perlu lapor siapapun. Saya bisa nongkrong sendiri di kafe tanpa ditanya, atau makan sendiri sesuai dengan jadwal saya tanpa harus menunggu kelamaan sampai maag saya kambuh. Intinya saya juga kangen sendirian.

Mungkin mengatakan saya kangen Jakarta agak berlebihan, karena sebenernya apa yang saya kangeni tidak ada hubungannya dengan kota itu. Tapi hanya di tempat itulah saya tahu saya bisa menjauh sejenak dari kehidupan kolektif yang saya rasakan di sini. Katakanlah saya ini individualis, saya memang tidak cocok hidup berkelompok dengan orang lain. Bukan saya anti-sosial, saya hanya tidak suka terlalu dekat secara intensif dengan orang lain.

Curhat nih? Mungkin saja… Tapi saya memang sudah tidak betah lagi… Tolong!

Jabang Tetuko

Standard

Akhirnya kesampaian juga saya nonton Jabang Tetuko, setelah beberapa bulan lalu saya tidak sempat menonton pagelarannya. Dan, entah bagaimana caranya, secara ajaib, si Onyed menawarkan diri untuk menemani saya menonton pertunjukkan teatrikal ini. Bukan gayanya banget sih tapi saya senang setidaknya ada teman nonton…

Cerita Jabang Tetuko ini diambil dari kisah pewayangan, tentang lahirnya Gatut Kaca, satria dari Pringgodani. Meskipun dalam cerita kemarin tidak disebut-sebut tentang Pringgodani tapi menurut saya itu hanya masalah penyebutan nama tempat dan peristiwa yang berbeda-beda setelah melewati beberapa kali alih bahasa. Diawali dari Kala (raksasa) Pracona yang kebelet kawin dengan Dewi Drupadi (diperankan Happy Salma), sehingga mengacak-acak dunia dewa demi menuntaskan keinginannya. Tetuko, anak Bima (Werkudoro dalam istilah pewayangan Jawa) dengan Dewi Arimbi (diperankan Sita Nursanti) diambil dari tangan orang tuanya dan dikirim untuk mengalahkan gerombolan raksasa tersebut.

Dan seterusnya, dan seterusnya, kalau penasaran cari saja novel-novel atau buku yang menceritakan kisah Gatotkaca. Kalau nggak betah baca buku, kemarin saya juga lihat ada versi komiknya juga, tapi intinya saya tidak akan menceritakan bagaimana kisah lengkapnya. Bwek!

Saya acungkan dua jempol untuk pertunjukkan Jabang Tetuko ini, selain karena mengusung tema yang sangat Indonesia, juga bisa membuat si Onyed melongo diam menonton pertunjukkan berdurasi sekitar satu jam tersebut. Bumbu-bumbu komedi membuat orang awam bisa menikmati cerita ini tanpa menguap. Belum lagi bonus mendengarkan Sita Nursanti menyanyi, diiringi kerennya ilustrasi musik. Pertunjukkan Jabang Tetuko ini… Saya jadi bingung mesti saya kategorikan sebagai pertunjukkan apa…

Ada wayang orangnya. Ada wayang kulitnya. Ada sedikit film untuk adegan laga yang agak impossible. Ada nyanyi dan nari seperti opera. Ada bahasa Jawa. Ada bahasa Indonesia. Ada perang-perangan yang diperankan oleh seniman wushu segala (yang membuat adegan berantemnya nyata sekali)! Saya jadi mikir, wajar saja kalau nontonnya mahal sekali, lha wong efek panggungnya keren sekali. Saya sampai nggak sempat mengeluh tempat duduk saya nggak enak diduduki.

Ada beberapa wajah beken yang sempat saya kenali, seperti Ronald dan JFlow dari Provocative Proactive, juga Karina Suwandi yang datang menonton acara ini. Saya curiga di pertunjukkan sebelumnya lebih banyak lagi seleb yang menyempatkan diri menonton juga.

Hayo! Kapan lagi ada pertunjukkan serupa? Saya sempetin deh datang menonton (selama saya masih di Indonesia tentunya).

Marsh-Mellow

Standard

Entah karena saya memang sedang PMS atau karena pembicaraan saya dengan si Onyed beberapa hari yang lalu itu, saya jadi mellow bukan main. Ingin rasanya nyalah-nyalahin si Onyed karena membuat saya jadi berpikir macam-macam, tapi saya tidak bisa melakukannya, karena dengan begitu saya mau tidak mau mengakui kalau si Onyed membuat saya berpikir lagi. Saya nggak rela.

Intinya saya jadi menderita, karena didera pemikiran-pemikiran saya sendiri. Padahal, sepertinya sudah lebih dari lima tahun saya tidak pernah memikirkan hal-hal semacam ini. Ya, sejak saya kenal sama si Onyed itu…

Rencana keberangkatan saya ke Inggris membuka banyak kemungkinan baru, sekaligus membuka kotak pandora yang selama ini tertutup rapat. Membuka memori saya yang lama, beserta dengan ambisi yang kemarin terpendam seperti membangunkan macan tidur. Intinya, kalau dulu masalah ini baru sekedar wacana dan pertanyaan, hari ini adalah permasalahan yang harus saya pecahkan. Dan sayangnya, meskipun saya rasa saya sudah tahu jawabannya, saya menolak untuk mengakuinya.

Coba jawab saya: “Kalau kamu diharuskan memilih antara memilih “live life that you want” atau “live with the person you want to live with”, kamu bakal milih yang mana?”

Beberapa orang beruntung memiliki kehidupan yang diinginkannya bersama dengan orang yang mereka inginkan. Beberapa mengalah dan hidup bersama orang yang mereka pilih. Yang lain memutuskan untuk memilih dirinya sendiri dan menjalani hidup yang mereka inginkan.

Delapan tahun yang lalu saya membuat pilihan. Saya meninggalkan kota kelahiran saya dan meninggalkan orang-orang yang saya kenal dan pedulikan. Saya membuat pilihan untuk tidak bersama dengan orang yang saya mau, untuk menjalani hidup yang saya inginkan. Entah kenapa, pada saat itu pilihan itu terasa mudah. Hari ini saya berada di apartemen yang saya tinggali selama hampir satu tahun terakhir, yang sudah dalam keadaan kosong, membuat saya ingat bahwa mungkin kehidupan yang saya inginkan waktu itu tidak sama dengan kehidupan yang saya inginkan tahun lalu. Mungkin juga tidak sama dengan kehidupan yang saya inginkan sekarang. Bagaimana saya tahu saya akan mengambil keputusan yang tepat?

Dengan si Onyed kemarin, secara tidak langsung dan diam-diam karena gengsi sama si Onyed, saya menyepakati bahwa hidup adalah rangkaian pilihan. Tapi bagaimana saya bisa memilih sedangkan saya tahu bahwa kali ini apapun yang saya pilih akan membuat saya terluka? Ini seperti saya disuruh memilih memotong telinga kanan atau telinga kiri, sebelum Jigsaw memotong kedua telinga saya sekaligus…

Ya… Meskipun saya mellow, saya masih bisa agak psycho 😦

Curcol Ah

Standard

Numpang curhat ah. Mumpung lagi sebel ga nahan, dan mumpung ngeblog belum dilarang, dan menyampah di blog pribadi masih merupakan aktivitas yang legal.

Pokoknya saya lagi swebel!

Beberapa orang memang nggak bisa membiarkan segala sesuatu berjalan bukana untuk dirinya sendiri. It’s all about them and it has to be for them. Kalo bukan buat atau tentang mereka, ya entah gimana caranya nanti issue nya akan tentang mereka lagi. Serius deh, orang-orang kaya gini mestinya tinggal di hutan dan nggak perlu berhubungan sama manusia lain saja. Merepotkan.

Egoisnya nggak nahan.

Alhasil, orang lain harus menurunkan prioritasnya hanya karena ngalah untuk keinginan nggak penting orang-orang macam ini. Belum kalo mereka curhat dadakan, di saat kita lagi nggak kepengen sama sekali dengerin apapun tentang masalah mereka. Hell, I have my own problem, and most of the time I want my time not to listen to you whining about things I don’t really care, no matter how close we are. Serius. Sering kali saya pengen ngusir begitu saja orang-orang ini dari hidup saya.

Mengganggu.

I thought my life is miserable sejak saya harus tinggal di kota yang sambungan internetnya sekarat seperti ini. Saya salah. Saya baru benar-benar miserable saat saya harus meladeni orang-orang egois yang membuat pekerjaan rumah saya bertambah berat dua kali lipat. Sial! Sial! Sial!