Marsh-Mellow

Standard

Entah karena saya memang sedang PMS atau karena pembicaraan saya dengan si Onyed beberapa hari yang lalu itu, saya jadi mellow bukan main. Ingin rasanya nyalah-nyalahin si Onyed karena membuat saya jadi berpikir macam-macam, tapi saya tidak bisa melakukannya, karena dengan begitu saya mau tidak mau mengakui kalau si Onyed membuat saya berpikir lagi. Saya nggak rela.

Intinya saya jadi menderita, karena didera pemikiran-pemikiran saya sendiri. Padahal, sepertinya sudah lebih dari lima tahun saya tidak pernah memikirkan hal-hal semacam ini. Ya, sejak saya kenal sama si Onyed itu…

Rencana keberangkatan saya ke Inggris membuka banyak kemungkinan baru, sekaligus membuka kotak pandora yang selama ini tertutup rapat. Membuka memori saya yang lama, beserta dengan ambisi yang kemarin terpendam seperti membangunkan macan tidur. Intinya, kalau dulu masalah ini baru sekedar wacana dan pertanyaan, hari ini adalah permasalahan yang harus saya pecahkan. Dan sayangnya, meskipun saya rasa saya sudah tahu jawabannya, saya menolak untuk mengakuinya.

Coba jawab saya: “Kalau kamu diharuskan memilih antara memilih “live life that you want” atau “live with the person you want to live with”, kamu bakal milih yang mana?”

Beberapa orang beruntung memiliki kehidupan yang diinginkannya bersama dengan orang yang mereka inginkan. Beberapa mengalah dan hidup bersama orang yang mereka pilih. Yang lain memutuskan untuk memilih dirinya sendiri dan menjalani hidup yang mereka inginkan.

Delapan tahun yang lalu saya membuat pilihan. Saya meninggalkan kota kelahiran saya dan meninggalkan orang-orang yang saya kenal dan pedulikan. Saya membuat pilihan untuk tidak bersama dengan orang yang saya mau, untuk menjalani hidup yang saya inginkan. Entah kenapa, pada saat itu pilihan itu terasa mudah. Hari ini saya berada di apartemen yang saya tinggali selama hampir satu tahun terakhir, yang sudah dalam keadaan kosong, membuat saya ingat bahwa mungkin kehidupan yang saya inginkan waktu itu tidak sama dengan kehidupan yang saya inginkan tahun lalu. Mungkin juga tidak sama dengan kehidupan yang saya inginkan sekarang. Bagaimana saya tahu saya akan mengambil keputusan yang tepat?

Dengan si Onyed kemarin, secara tidak langsung dan diam-diam karena gengsi sama si Onyed, saya menyepakati bahwa hidup adalah rangkaian pilihan. Tapi bagaimana saya bisa memilih sedangkan saya tahu bahwa kali ini apapun yang saya pilih akan membuat saya terluka? Ini seperti saya disuruh memilih memotong telinga kanan atau telinga kiri, sebelum Jigsaw memotong kedua telinga saya sekaligus…

Ya… Meskipun saya mellow, saya masih bisa agak psycho 😦

Advertisements

Comments are closed.