Jakarta Jakarta

Standard

Saya tidak percaya akhirnya saya harus mengatakan ini: Saya kangen Jakarta.

Saya tidak kangen dengan jalan raya yang luas, dan macet dan sibuk setiap saat. Saya tidak kangen dengan mall dimana saya bisa membeli sepatu yang tidak pernah bisa saya temukan di Solo. Saya juga tidak kangen-kangen amat dengan restoran sushi, meskipun makanan pertama yang akan saya santap begitu menginjakkan kaki di Jakarta adalah sashimi.

Tapi setidaknya di Jakarta saya tidak dipaksa untuk ulah raga jempol setiap saat. Internet tidak mati dengan suka rela sekali dalam seminggu. Saya tidak perlu susah payah hanya untuk melanjutkan hidup blog yang semakin lama semakin ditinggalkan pembacanya ini. Oh, saya merana.

Apalagi, di Jakarta selalu ada kegiatan individual. Berbeda dengan di sini yang apa-apa selalu harus rame-rame. Saya bisa pergi makan sendiri, atau belanja sendiri, atau nonton sendiri tanpa perlu lapor siapapun. Saya bisa nongkrong sendiri di kafe tanpa ditanya, atau makan sendiri sesuai dengan jadwal saya tanpa harus menunggu kelamaan sampai maag saya kambuh. Intinya saya juga kangen sendirian.

Mungkin mengatakan saya kangen Jakarta agak berlebihan, karena sebenernya apa yang saya kangeni tidak ada hubungannya dengan kota itu. Tapi hanya di tempat itulah saya tahu saya bisa menjauh sejenak dari kehidupan kolektif yang saya rasakan di sini. Katakanlah saya ini individualis, saya memang tidak cocok hidup berkelompok dengan orang lain. Bukan saya anti-sosial, saya hanya tidak suka terlalu dekat secara intensif dengan orang lain.

Curhat nih? Mungkin saja… Tapi saya memang sudah tidak betah lagi… Tolong!

Advertisements

Comments are closed.