Kicked by Andy

Standard

Saya harus mengacungi jempol untuk acara Kick Andy kemarin, karena selain membuat saya berpikir, juga membuat saya mengingat kembali banyak hal. Mungkin tidak semuanya baik, tapi bahkan memori yang buruk adalah pengingat bagi saya akan kehidupan yang sudah saya lalui selama ini. Saya berterima kasih karena Kick Andy sudah mengangkat tema ini di acaranya, dan saya berharap siapapun yang menontonnya dapat mengambil pelajaran dan hikmah dari sana.

Awalnya saya teringat nenek dan almarhum kakek saya. Setelah Indonesia merdeka, kakek saya tidak lagi berperang melawan penjajah, namun kakek dan nenek saya membuka rumahnya untuk siapapun bekas pejuang yang ditelantarkan negara, memberi mereka makan dan mengajak mereka merokok dan minum kopi. Kakek saya adalah orang yang baik hati, prinsipnya adalah, selama masih bisa membantu orang, jangan menolak untuk memberi bantuan (jelas sesuatu yang tidak mungkin bisa saya lakukan). Kakek saya bahkan tidak mau menolak tetangga yang ingin meminjam uang darinya pada saat dia sendiri sedang kere.

Saya tidak tahu kenapa, dengan apa yang pernah dilakukan oleh kakek saya, keluarga saya harus mengalami apa yang terjadi di Mei 1998. Ingatan itu juga muncul begitu saja saat acara Kick Andy tersebut memasuki sesi kedua. Saya pun ingat betapa bencinya saya kepada negara ini, karena tidak melindungi saya dan teman-teman saya yang kemudian melarikan diri ke luar kota, bahkan ke luar negeri. Saya pernah memutuskan suatu hari saya akan pergi dari negara ini, tapi saya tidak tahu bahwa suatu hari itu akan datang beberapa bulan lagi.

Ya. Saya, ayah saya dan kakek saya adalah tiga orang berbeda dari tiga generasi berbeda. Kami lahir dan besar dan mungkin juga akan mati di negara ini. Kami mengambil sikap yang berbeda terhadap negara ini. Kalau kakek saya mengambil tindakan yang sifatnya lebih physical, ayah saya tidak begitu. Ayah saya percaya bahwa sebelum dia bisa melindungi negaranya, dia harus bisa melindungi keluarganya dulu. Selama negara tidak bisa memberikan perlindungan kepada keluarganya, maka dia yang akan melakukannya. Meskipun begitu, dengan semua sikap apatis ayah saya, toh pada generasinyalah keluarga kami akhirnya menjadi WNI, mencoba untuk mempercayai negara ini.

Saya?

Saya skeptis. Saya berusaha optimis bahwa saya bisa mengubah negara ini dengan menulis, meskipun saya tahu hanya dengan keajaiban super hal itu bisa terjadi. Meskipun orang tua saya sudah wanti-wanti supaya saya tidak menulis seperti ini. Jangan-jangan suatu hari saya diciduk dan dipidana seperti Prita Mulyasari karena apa yang saya tulis… Tapi, inilah yang membedakan saya dengan ayah dan kakek saya, bukan?

Advertisements

Comments are closed.