Teror Pendidikan?

Standard

Hari ini saya mendengar TV, saat sedang menonton salah satu tayangan televisi nasional kita, katanya teror tidak melulu yang bersifat fisik. Hal-hal yang terasa mengancam dan meresahkan dapat dikategorikan sebagai teror, dan narator yang membawakan acara tersebut mengatakan bahwa rakyat Indonesia juga kadang kala (atau sering?) merasa diteror oleh pemerintah. Dari teror harga barang yang terus naik, sampai teror kurangnya rasa aman untuk menjalankan ibadah menurut agamanya masing-masing…

Saya masih bisa mengikuti arah pembicaraan narator tersebut sampai saya mendengar bahwa masyarakat merasa diteror dengan Ujian Nasional. Oh ya?

Katanya, masyarakat merasa terteror dengan Ujian Nasional sampai mereka yang ketakutan tidak lulus, atau orang tua yang ketakutan anaknya tidak lulus, atau guru-guru yang takut anak didiknya tidak lulus “tidak menghiraukan nurani (kalau tidak salah begitulah media tersebut menggambarkan)” dan berbuat curang.

Mendengar kenyataan yang menakutkan itu, entah bagian mana yang meneror saya. Apakah karena UN yang bagi saya tidak susah-susah amat itu ternyata menjadi teror untuk mayoritas pelajar di negeri ini? Atau apakah karena pelajar di negeri ini dianggap begitu lemahnya sehingga begitu mendapat kesulitan mengerjakan ujian langsung berpaling ke jalan pintas? Ataukah karena ternyata sistem dan support system (guru dan orang tua) malah mengijinkan bahkan mendukung kecurangan itu? Atau karena media massa malah menganggap standar yang diterapkan pemerintah itu sebagai teror?

Saya rasa kali ini saya tidak bisa sepenuhnya menyalahkan pemerintah. Memang mental bangsa ini yang harus diubah. Saya rasa masyarakat menjadi manja karena sedikit-sedikit demo minta maunya mereka dituruti. Kalau Ujian Nasional di Indonesia dianggap sulit, lihat ke Jepang sana!

Di Jepang (baca komik sana, kalo males browsing), Ujian Nasional tidak kalah menyeramkannya bagi para pelajar Jepang. Tingginya tingkat bunuh diri di kalangan remaja sebagian juga disebabkan karena depresi ingin masuk ke perguruan tinggi yang bagus dan mendapat nilai Ujian Nasional yang gemilang. Tapi, alih-alih mencontek, para pelajar Jepang belajar, ikut bimbel, atau pelajaran tambahan di sekolah, dan kalau tetap gagal juga… ikut lagi tahun depan.

Saya bukannya tidak simpatik, atau tidak berusaha berempati dengan keadaan masyarakat bawah. Bahkan saya mengerti kok kalau pendidikan menjadi teror karena biaya pendidikan yang tidak kecil, tetapi kalau yang dianggap sebagai teror adalah standar kelulusan, maka betapa menyedihkannya bangsa ini. Mau sampai kapan menjadi bangsa bodoh? Bahkan Kuba yang negara komunis saja standar pendidikannya lebih tinggi daripada ini…

Bukannya saya mau mengkritik media ya, tapi saya rasa media terlalu memanjakan rakyat dengan berita yang kurang berimbang apabila menganggap wajar kalau masyarakat yang terteror oleh sulitnya Ujian Nasional kemudian berlaku curang untuk dapat lulus. Bagi saya, standar kelulusan itu penting, dan bahkan kalau bisa dinaikkan lagi untuk meningkatkan mutu pendidikan di negara ini. Don’t get me wrong, I do care with my own way….

Advertisements

Comments are closed.