When Life is Good…

Standard

Siang kemarin Mama saya habis marah-marah. Seorang yang biasanya mengambil jahitan dari pabrik Mama saya tiba-tiba saja memutuskan bahwa dia tidak mau mengambil item-item tertentu, dan bersikap seenaknya. Pada akhirnya orang tersebut memilih tidak mengambil jahitan sama sekali, dengan alasan sibuk karena sedang banyak jahitan yang harus dikerjakan.

Sambil mengomel, Mama saya berkata: “Gitu tuh! Dulu aja waktu masih susah nggak ada kerjaan, datang mengemis-ngemis minta jahitan supaya bisa makan. Sekarang saat usahanya sudah jalan, belagu ambil jahitan pilih-pilih…”

Papa saya yang mendengar hal tersebut hanya tertawa, lalu memandang anak-anaknya. Setelah menenangkan Mama saya yang masih panas, Papa saya pun berkata: “Sudah biasa kok, orang datang pada kita saat kesulitan, tapi saat sudah jaya mereka berubah.”

Dan entah kenapa, sekali lagi dia memandang saya dan menekankan: “Orang kalo dalam keadaan jaya sikapnya berubah kok… Lihat saja…”

Saya hanya tertawa menanggapinya. Who are you talking to, Papa? I know what you’re talking about. Even I know someone like that!!

Bukannya ingin mengungkit belas kasih atau meminta balas jasa. Bagi saya, hal itu tidak sepenting kelihatannya. Bukan mengharapkan gratitude berlebihan, atau membuat mereka menghamba pada saya karena merasa berhutang budi. Hanya saja, apa salah kalau saya (atau Papa saya) berharap bahwa sikap mereka terhadap kami tidak berubah baik saat susah maupun saat senang.

Maksudnya, kalo memang sifat aslinya tengil, ya tengil aja… nggak usah jadi sok manis saat susah untuk minta tolong. Setengil-tengilnya, kalau memang lagi butuh juga dibantu kok… Bahkan orang tua saya mengatakan bahwa kakek saya yang mengajari bahwa selama kita bisa membantu, ya bantulah. Bukan karena mengharap karma baik, atau balas budi, tapi karena itu adalah hal yang benar untuk dilakukan.

Saya paling sedih setiap kali ada orang yang datang pada saat kere, dan pergi setelah mereka punya duit. Seriously, saya bukan orang kaya, begitu juga orang tua saya, jadi tidak usah menjadi benalu, apalagi untuk mensupport hidup hura-hura. Bermanis muka di hadapan saya tapi setelah mendapatkan pacar kaya, baru sadar bahwa saya tidak bisa mengimbangi tajirnya pacar mereka, lalu… POOF!!

They never talk to me anymore.

*ketawa getir*

But that’s how life works. I did the right thing to do, doesn’t mean everyone else will do the same.

Advertisements

Comments are closed.