Monthly Archives: August 2011

10 Days in North Sulawesi: The Food Fiesta

Standard

Nah, berhubung sekarang sudah selesai puasa, saya bisa mulai memajang gambar-gambar makanan tanpa harus khawatir digerebek FPI.

 

Setelah Pengucapan di Dumoga, sebuah desa di dekat Kotamobagu, para siswi asrama yang berasal dari Dumoga membawakan kami banyak makanan dari sana. Kebanyakan dari mereka membawakan kami dodol. Inilah bentuk dodol dari Dumoga.

Di perjalanan dari Manado menuju Tomohon, di sebuah tempat bernama Tinoor, banyak tempat makan yang menjual menu-menu Minahasa. Ada satu restoran ‘all you can eat’ di sana, dan inilah menu mereka. Dari atas kiri yang gambarnya agak terpotong itu adalah sup, di sebelahnya ayam dengan kuah santan, lalu di bawahnya sebelah kiri adalah sate babi, dan kanannya adalah babi (saya tidak tahu dimasak apa). Sedangkan dua yang dibawah, sebelah kiri itu adalah keong, dan kanannya adalah babi juga (tapi saya juga tidak tahu dimasak apa). Dan semuanya enak!!

Orang-orang Minahasa menyebutnya tinutuan (baca tinutu’an), tapi saya mendengar pertama kali disebut oleh Suster: Bubur Manado. Yap, ini adalah Bubur Manado yang terkenal itu. Saya tidak tahu apa saja isinya, tapi saya bisa menyebutkan diantaranya adalah daun kemangi yang ternyata tidak perlu dimakan tapi saya makan juga, sayur kangkung, nasi, tahu… dan lucunya, tinutuan ini bisa dimakan bersamaan dengan Pisang Goreng!!

Ini adalah menu makanan di rumah tante Al. Di sebelah kiri itu adalah tumis kangkung… dua di sebelah kanannya adalah sambal terkenal Minahasa: Dabu-dabu. Jangan tanya sepedas apa… Saya nangis-nangis memakannya… Tapi enak, dan saya sempat nambah *jadimalu*

Saya sempat dijanjikan makanan ini selama beberapa hari. Tidak menyangka pada akhirnya kesampaian juga mencicipi menu yang langka luar biasa ini. Di Minahasa, orang-orang menyebutnya Paniki. Paniki itu artinya kelelawar. Kali ini paniki dimasak dengan santan, dan rasanya enak sekali. Sebuah rahasia yang diberikan oleh Pastor kepada saya, bagian terenak dari paniki adalah sayapnya, karena rasanya kenyal-kenyal seperti jamur kuping.

Ini adalah mujair bakar yang saya makan di rumah Tante Al. Mujair bakar ini sangat lezat, selain karena memang Tante Al adalah salah seorang yang paling ahli memasak yang pernah saya temui, tapi juga karena memang di daerah Minahasa ini banyak suplai ikan segar, baik ikan air tawar maupun air laut. Jadi… gabungan antara koki yang hebat dan bahan makanan berkualitas menghasilkan mujair bakar terlezat yang pernah saya makan!

Advertisements

10 Days in North Sulawesi

Standard

Untuk menepati janji saya memberikan foto-foto liburan saya, maka saya pilih beberapa foto yang cukup mewakili acara jalan-jalan saya kemarin. Sengaja saya pilih yang tidak ada muka sayanya karena saya tidak narsis.

Pemandangan Gunung Lokon yang beberapa waktu lalu aktif. Sekarang juga masih aktif, sih, tapi waktu saya di sana sedang aman-aman saja. Tidak beberapa lama setelah saya ambil gambarnya, kawah gunung ini berasap lagi. Tidak apa-apa masih aman…

 

Ini pemandangan danau Linau. Danau Linau adalah salah satu danau di Tomohon. Pemandangannya sangat bagus dan juga udaranya sejuk dan segar. Waktu saya datang ke sana, udara sedang dingin dan sedang banyak angin.

 

Di Kotamobagu, kalau kita pergi naik ke atas bukit, di sana ada rumah mantan bupati. Dari atas sana, kita bisa melihat keseluruhan Kotamobagu dari atas. Sebenarnya saya juga kepingin lihat pemandangannya saat malam hari, tapi seram juga karena jalanan ke sana sempit dan sulit dilalui mobil.

 

Dari Kotamobagu ke Guaan, salah satu stasi yang dilayani oleh Pastor, kita akan melewati danau dan tebing, juga perkebunan yang indah pemandangannya. Saya tidak sempat mengambil banyak gambar karena kami sedang bermobil, tapi pemandangan di sana memang sungguh bagus.

 

10 Days in North Sulawesi: My Concern

Standard

Mungkin terlalu cepat kalau saya membuat kesimpulan-kesimpulan berdasarkan apa yang saya lihat hanya dalam 10 hari di Kotamobagu. Lagipula, menurut saya, Kotamobagu sendiri tidak bisa dijadikan patokan gambaran keseluruhan warga Sulawesi. Tapi, setidaknya di sini saya mengamati sesuatu yang menurut saya pantas diperhatikan lebih jauh lagi.

Tinggal beberapa hari di biara, sekaligus membantu Suster di asrama putri, saya memperhatikan bahwa standar pendidikan di Kotamobagu lebih rendah dibandingkan di Solo. Setidaknya itulah yang bisa saya perbandingkan. Tidak bisa dibilang karena saya dulu bersekolah di SMA favorit, SMA di sana pun termasuk salah satu SMA favorit di Kotamobagu. Tapi pemahaman siswa-siswa SMA di sana masih kalah jauh dengan siswa-siswa di Solo.

Misalnya saja, dalam matematika dan bahasa Indonesia, dua mata pelajaran yang sempat saya perhatikan. Kurangnya perhatian mereka dalam bidang pendidikan sangat disayangkan mengingat mereka sebenarnya sangat berpotensi menjadi pandai.

Kotamobagu pada khususnya, dan juga Sulawesi pada umumnya memiliki banyak potensi. Mereka memiliki sumber daya alam yang luar biasa; tempat wisata yang indah, tanah yang subur dan menghasilkan dan pertambangan yang bisa diandalkan sebagai sumber ekonomi yang mampu menyejahterakan seluruh masyarakat. Akan tetapi, kesadaran mereka memiliki kekayaan alam ini tidak dibarengi dengan kesadaran untuk memanfaatkan sebaik-baiknya.

Ada anggapan dalam masyarakat yang menganggap: “dengan begini saja kami bisa hidup layak. Buat apa meminta yang lebih?” atau “buat apa berusaha lebih banyak lagi?”. Hasilnya? Di daerah sekitar saya tinggal, banyak anak-anak muda, mungkin baru lulus SMA (atau bahkan SMP) sudah menikah dan memiliki anak. Beberapa yang belum menikah pun tidak berniat sama sekali untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Banyak keluarga hidup dari berkebun. Kebun yang hanya mengandalkan curah hujan. Kaya raya selama musim panen dan susah pada waktu musim paceklik. Tidak terpikirkan untuk membuat saluran irigasi, atau membuat sistem penanaman yang membuat mereka bisa mendapatkan pemasukan yang stabil. Bayangkan saja, harga tomat bulan lalu 130ribu dan bulan ini 30ribu. Saya rasa apabila ada manajemen yang baik, tidak akan ada fluktuasi harga sedemikian parah.

Sulawesi adalah pulau yang menyimpan begitu banyak potensi. Baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia. Keprihatinan saya adalah betapa kurangnya pengelolaan dan kesadaran akan perlunya pengelolaan ini.

10 Days in North Sulawesi: Live in Harmony

Standard

Sebenarnya saya merencanakan hari ini untuk mulai mengupload gambar, tapi sayangnya meskipun laptop saya sudah sehat kembali *tebar confetti*, internet saya masih tetap seperti yang dulu. Hampir tidak mungkin mengupload gambar sekarang, tapi saya akan pikirkan cara lain, misalnya mencuri koneksi internet di tempat lain, atau dengan penuh keniatan memindahkan gambar-gambar tersebut ke bb saya.

Salah satu yang ingin saya upload adalah betapa meriahnya acara perayaan hari kemerdekaan di sana. Di sekolah diadakan lomba-lomba beraneka jenis, diikuti dengan gembira oleh murid-murid SMP dan SMA. Di gereja mengadakan perayaan, misa sykuran atau ibadat kemerdekaan. Di malam hari semua orang diundang makan-makan untuk berbuka di kantor Walikota; baik yang berpuasa maupun tidak.

Memang, di sana; di Manado maupun Kotamobagu, isu agama tidak menjadi masalah. Saat di beberapa tempat di Jawa pembangunan gereja dihalang-halangi. Saat di beberapa tempat di Jawa, dekat pemerintah pusat, orang-orang yang mencari nafkah membuka warung di ancam dengan gebuk karena membuka warungnya di bulan puasa. Di sana, gereja berdiri bersebelah-sebelahan dengan damai, berhadap-hadapan dengan hormat tanpa ada masalah. Warung dan rumah makan tetap buka tanpa ada yang mengancam ataupun mengobrak-abrik. Ramadan di Kotamobagu adalah bulan berkah bagi semua orang.

Beberapa tahun lalu saat menghabiskan liburan menjelang lebaran di Tasikmalaya, saya tidak bisa mendapatkan mie kesukaan saya, padahal saya tidak berpuasa. Yang jual juga ga puasa! Tapi kami tidak boleh makan, dan penjual mie tidak boleh mencari nafkah. Di Kotamobagu, penjual makanan sudah berjajar di jalan menjelang buka puasa, menyiapkan ta’jil untuk yang berpuasa, dan makanan lezat untuk yang tidak berpuasa. Betapa berbedanya, sekaligus betapa menyenangkannya suasana seperti itu.

Katanya, penduduk asli di sana, orang-orang Minahasa memang sudah lama berdamping-dampingan dalam perbedaan mereka. Meskipun minoritas, penduduk di sana yang merupakan warga keturunan Tionghoa juga berbaur dengan baik. Mereka juga terbuka dengan pendatang dari luar Sulawesi. Sayangnya, para pendatang dari luar inilah yang suka membuat masalah, dan memancing keributan…

Moga-moga nanti saya datang ke sana keadaan masih seperti yang saya ingat.

10 Days In North Sulawesi: Nama Saya Bybyq. Kamu?

Standard

Kalau saya tahu bahwa menginap di biara artinya menjadi selebriti lokal di sana, maka saya akan membawa lebih banyak pakaian keren untuk nampang. Nggak deng! Bukan selebriti, hanya saja memang banyak orang jadi penasaran dengan keberadaan saya. Ngapain ini cewek Cina bulat yang tidak bisa bicara bahasa Manado ada di Susteran, dan muncul ke sana kemari seperti itu?

Beberapa mengira saya masih bersaudara atau punya hubungankerabat dengan Suster sahabat saya itu. Meskipun agak sulit buat saya memahami bagaimana mereka bisa menarik kesimpulan itu. Beberapa yang lain mencetuskan ide yang lebih masuk akal buat saya, meskipun terdengar menggelikan setelah dipikir ulang. Rupa-rupanya si cewek yang baru datang dari Jawa itu mau jadi suster juga. Mungkin dia calon Suster. Wajar mereka mengira demikian mengingat wajah saya yang selalu tampak angelic. Ha! Tertipu!

Alhasil, dengan popularitas sementara yang saya dapatkan di sana, saya mengenal beberapa orang yang berkesan untuk saya. Saya akui, jujur nih, saya mungkin akan kangen sama mereka untuk beberapa waktu. Tapi, sebaiknya kita tidak perlu seemosional itu, bukan?

Pertama, tentu saja trio Suster yang ada di biara, bukan. Satu, Suster sahabat saya yang menjabat sebagai kepala SMA itu, satu Suster kepala asrama, dan satu lagi Suster kepala Yayasan sekaligus kepala SMP di sana. Saya menghabiskan setiap hari bersama mereka, dari memasak, mengajar, jalan-jalan, … Kecuali tidur dan mandi, deh. Terima kasih sudah meluangkan waktu yang sudah padat sempit dan nyaris terbirit-birit itu untuk menemani saya, dan mengajari saya sesuatu yang menarik. *sungkem*

Ada Suster, pasti ada Pastor. Dua orang pastor paling funky yang pernah saya tahu. Serius. Saya kira pastor funky dan suka food travelling cuma ada di film-film garapan hollywood. Bukan cuma itu, beberapa kalipun saya ditraktir makan enak oleh mereka. Terima kasih acara jalan-jalannya meskipun kalian berdua sedang sibuk-sibuknya. Juga terima kasih makanan-makanan enak yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Juga Pastor di Manado yang memberikan kami tempat singgah sementara selama semalam kami di Manado. *sungkem*

Warga kota Kotamobagu. Tante Al, yang mengurus pastoran, yang baik banget sama saya; juga Om Deni, suaminya. Tante Vera, yang membawa kami makan bubur Manado. Om Doni dan Om Manggek yang mengantar-ngantar kami Manado – Kotamobagu, dan Kotamobagu – Manado, yang tetap berhati-hati di Jalan meskipun semua penumpang tertidur lelap. Putri yang menangis karena saya, dan mamaknya yang senang sekali kalau Putri ketakutan melihat saya. Kalian membuat Kotamobagu tidak terlupakan. Terima kasih. *sungkem*

Staff dan Guru-guru SMP dan SMA, terutama Bu Hetty yang sangat baik hati, Bu Selvi yang memberi saya kerjaan (yang tidak saya selesaikan), Pak Felani yang banyak memberikan info tentang Kotamobagu dan Bu Jein yang super super sweet. Bentar, yang dua terakhir saya sebut langsung nama saja nanti, soalnya mereka berdua seumur sama saya. Terima kasih membuat saya makin yakin dengan dunia pendidikan. *sungkem*

Erna, Maris, Martha, Ris dan Yuli, yang bekerja di dapur bersama saya. Terima kasih mengajari saya banyak hal, dari memasak sampai bahasa Manado yang tidak saya mengerti. Terima kasih mengajari lebih banyak daripada yang saya harapkan dapat saya pelajari di sana. Terima kasih juga untuk sambutan terhangat dari kalian, dan keramahan yang menyenangkan dari kalian. Terima kasih banyak. *hugs*

Lalu ada 3 ekor hamster, Bogo, Bobi, dan Coki; anjing-anjing yang Pastor dan Suster pelihara. Semoga cepat sembuh dari penyakitnya, dan tetap sehat dan hidup sampai saya kembali lagi ke sana nanti…

Dan, terakhir anak-anak SMA-SMP, khususnya yang tinggal di asrama. Terima kasih untuk tidak meng-komplain keberadaan saya di sana. Terima kasih karena mau makan makanan yang saya bikin. Terima kasih juga untuk warm welcoming, dan kepercayaan kepada saya untuk membantu kalian belajar. Terima kasih untuk yang sudah bilang saya cantik dan pintar, you guys are my favorite. Salah satu dari anak asrama ini bahkan sudah mulai mengontak saya via SMS, jadi terbayang kan seberapa ngefans-nya mereka? *kabur sebelom ditimpuk mereka ramai-ramai*

Apakah saya akan kembali lagi ke sana suatu hari nanti? Sure I will. See you next time guys.

10 Days in North Sulawesi: Simple Life Kotamobagu

Standard

Jangan ketawa dulu.

Saya memang tidak menyamakan diri saya dengan Paris Hilton. Satu, saya tidak blonde seperti dia, dan saya juga tidak punya video seks seperti dia. Dua, bapak saya tidak punya jaringan hotel bintang lima di seluruh dunia seperti bapaknya. Tapi, saya merasa seperti dia di reality shownya: Simple Life.

Jujur saja nih ya, sejak kecil saya belum pernah benar-benar mengerjakan pekerjaan rumah tangga. (Please judge me). Bahkan saat pembantu di rumah pada mudik lebaran pun, saya dan keluarga akan pergi berlibur, atau tidak banyak beraktivitas di rumah demi mengurangi sampah dan pekerjaan rumah. Terlebih, selama setahun terakhir ada jasa laundry kiloan tercinta yang selalu bersedia membantu kalau dibayar. Makanan selalu bisa pesan antar, kalau kami terlalu malas untuk keluar rumah. Intinya… Begitu deh.

Saya ini anak manja ya?

Bahkan pada waktu ngekos dan tinggal sendirian di apartment pun, pekerjaan yang saya lakukan sendiri paling mentok bersih-bersih rumah (yang trakhir pun saya serahkan ke jasa cleaning service). Masak sendiri? Yah… Bisa lah, saya tidak sampai masuk RS memakan hasil eksperimen saya itu. Cuci? Selama tidak perlu menyetrika saya masih bisa melakukannya lah. Tapi, di biara ini saya harus melakukan tugas-tugas rumah tangga, membantu suster kepala asrama dan membantu diri saya sendiri.

Betapa kagoknya saya harus mengupas kentang, wortel, bawang(!!! Saya benci bawang!!!). Betapa bingungnya saya dengan memotong kecil-kecil, memotong bentuk dadu, mencacah… Bagus saya tidak memotong jari tangan saya sendiri selama bekerja di dapur asrama. Kerja keras baru akan terbayar setelah jam makan siang, dan anak-anak asrama itu makan di sana.

Tapi, kadang-kadang anak-anak itu suka ga tau diri. Udah dibikinin makanan susah-susah, sampai tangan saya kena parut juga, mereka suka susah memakannya. Sebal kalau mereka menolak memakan sayur yang kita buat karena mereka memilih makan makanan kering yang mereka bawa dari rumah. Dan itu sebabnya saya bilang sama Mama saya, saya ga mau bawa abon ke Inggris!!

Kemana-mana kami pergi jalan kaki atau naik bentor kecuali agak jauh, maka kami menggunakan mobil biara. Nah… Bentor ini nih yang asing buat saya. Bentor itu becak motor. Bentuknya persis becak. Kadang ada penutup depan seperti bajaj, kadang dibiarkan terbuka seperti becak-becak yang sering saya temui di Solo. Bedanya, alih-alih didorong dengan kekuatan betis, bentor menggunakan motor yang sudah dimodifikasi. Begitulah… Saya ingin mengupload foto bentor itu, tapi sayang sekali laptop saya belum betul juga… Moga-moga terbayang bentuk bentor itu…

Suster sahabat saya bilang bahwa di biara nanti saya akan makan seadanya. Tapi… Ternyata biara itu gudang makanan! Saya tidak tahu kenapa biarawati-biarawati di sana kok kurus-kurus, makanan berlimpah dan boro-boro seadanya… Buat saya makanan di sana tidak ada yang tidak enak. Cuma pedasnya yang luar biasa… Hari pertama di perjalanan menuju Kotamobagu, saya berhasil membuat Om Doni tertawa bahagia melihat saya kepedasan memakan dabu-dabu. Dan setelah beberapa kali kepedasan saya baru tahu ternyata semua orang di sana senang melihat pendatang seperti saya sentrap sentrup kepedasan.

Inilah daftar makanan yang sudah saya makan di sana:
– babi rica
– babi kecap
– weris (sejenis burung khas di sana)
– tikus (saya ga tau dimasak apa tapi enak banget)
– cakalang rica
– ikan putih
– mujair bakar punyanya tante Al (nanti saya ceritakan tentang tante Al)
– mujair goreng
– ayam pedas banget ga tau apa bumbunya
– bebek sama pedas banget
– gohu
– klappertart
– daun singkong (daun ubi di sana namanya)
– pucuk labu
– sayur paku
– nasi jaha
– wajik (di jawa juga ada tapi bedaaaaa!)
– tinutukan (bubur manado)
– keong
– paniki (kelelawar) masak santan

Terimakasih Minahasa!!

10 Days In North Sulawesi: The Byq Arrival to Kotamobagu

Standard

Sebenarnya, terpengaruh dari “Let’s get Lost” nya NGC, dan juga ulasan lengkap dari blog tetangga yang habis jalan-jalan ke Vietnam, saya jadi kepingin menghabiskan waktu berada di tempat asing. Saya jadi kepingin berkeliaran di tempat yang belum pernah saya kunjungi sama sekali sebelumnya, misalnya Bali, atau Singapura yang sudah beberapa kali saya sambangi. Kesempatan itu datang waktu saya bercakap-cakap dengan seorang Suster (Biarawati) yang dulu pernah mengajar di SMA saya di Solo.

Berangkatlah saya ke Kotamobagu.

Saya ingin sekali pamer beberapa foto yang saya dapatkan di sana, tapi yah, karena laptop saya sedang rusak, dan saya harus olahraga jempol untuk membuat entry, saya tidak bisa melakukannya sekarang. Maka, bayangkan saja seperti apa Kotamobagu itu, saya akan mencoba mendeskripsikan sebisa mungkin.

Setelah turun di bandara Sam Ratulangi, Manado, saya dijemput oleh Om Doni. Di sana, semua cowok yang sudah menikah (yang biasanya di sini dipanggil Pak) di sana dipanggil Om. Bersama Om Doni yang tampaknya masih muda itu, saya menjemput Bu Hetty, salah seorang pegawai Tata Usaha di sekolah tempat Suster sahabat saya itu menjabat kepala sekolah. Saya diam-diam saja, cuma senyam-senyum kalau diajak bicara oleh mereka. Bagaimana tidak? Saya nggak ngerti mereka ini ngomong apa…

Bu Hetty dan Om Doni bicara begitu cepat, dan tidak sepenuhnya menggunakan bahasa Indonesia. Beberapa waktu kemudian, setelah satu dua hari di sana saya baru tahu kalau mereka memang jarang berbahasa Indonesia.

Selama lebih kurang empat jam perjalanan dari Manado ke Kotamobagu, diiringi lagu-lagu Minahasa dari mp3 player Om Doni, tampak keindahan alam Minahasa. Di kanan jalan terlihat bentangan pantai yang bersih dan jernih. Udara yang masih segar membawa wangi alam membuat kami tidak perlu menyalakan AC sepanjang perjalanan. Makin lama, hawa makin sejuk, terutama setelah meninggalkan pusat kota Manado yang ramai, dan beranjak naik ke Kotamobagu yang berada di dataran yang lebih tinggi.

Menuju Kotamobagu, kami melewati beberapa desa. Tentu saja saya tidak ingat berapa banyak desa yang kami lewati karena saya tertidur di jalan. Saya benar-benar minta maaf tapi mulai saat ini saya akan selalu meng-skip cerita perjalanan bermobil demi menjaga autentisitas tulisan saya. Saya selalu ketiduran di dalam mobil. Entah kenapa…

Saat saya bangun… Kami sudah berada di pusat kota Kotamobagu. Yap, Kotamobagu adalah kota kecil yang tampak menyenangkan. Kendaraan bermotor lalu lalang dengan damai, karena tidak ada kemacetan dan polusi. Jalan arteri teraspal dengan baik, dan gereja dan masjid bersebelah-sebelahan, semua dihias-hias… Saya tidak tanya kenapa semua gerbang masuk baik rumah maupun tenpat publik dihiasi dengan rumbai-rumbai kuning seperti janur (padahal sepertinya dari tali rafia).

Gedung walikota dihias nampak siap untuk berpesta. Beberapa saat kemudian saya baru tahu bahwa walikota sering mengundang masyarakat untuk berbuka bersama di sana. Dan di sepuluh menit terakhir dalam bengong sambil melalap habis apapun yang dapat saya lihat di sana: pertokoan, pasar tumpah, orang-orang berjalan di trotoar, hiruk pikuk kota, dan kendaraan unik bernama bentor (saya ceritakan nanti), saya pun sampai ke sekolah berasrama dan biara tempat saya akan tinggal selama seminggu ke depan.

Bybyq tinggal di biara? Apa yang akan terjadi pada anak malang itu? Ikuti kisah selanjutnya dalam serial 10 hari di Sulawesi Utara Bersama Bybyq…

I Owe Robbie Williams My Life, and A Big Thank You for Eternity

Standard

Setelah beberapa lama melupakan betapa powerfulnya music healing, hari ini saya baru teringat ada satu lagu yang selalu membuat saya emosional setiap kali mendengarkannya. Dari judul postingan hari ini, pasti sudah tahu lagu apa yang saya maksud… Yap! Jadul banget memang lagu ini, tapi memang lagu inilah yang dari dulu membuat saya semangat… atau setidaknya merasa lebih tegar menghadapi segala sesuatu yang buruk…

Saya mah nggak ngerti-ngerti amat maksudnya Bang Robbie menyanyikan lagu ini, tapi lagu ini memang selalu berhasil membuat saya merasa sedang diajak ngobrol, dan dimengerti… This is more effective than talking to a 350K/hr shrink!

Sebenernya saya mau post lirik lagunya sekalian dengan video youtubenya, tapi berhubung saya baru dikomplain bahwa video youtube membuat lelet koneksi internet orang-orang yang membuka blog saya ini maka saya cuma post liriknya saja. Kalo mau dengerin lagunya, cari aja sendiri di youtube.

*lagi galau dan mellow, nggak mood cerita panjang lebar. Pengen karokean pake lagu ini aja*

Close your eyes so you don’t fear them
They don’t need to see you cry
I can’t promise I will heal you
But if you want to I will try

I’ll sing this somber serenade
The past is done
We’ve been betrayed
It’s true
Someone said the truth will out
I believe without a doubt, in you

You were there for summer dreaming
And you gave me what I need
And I hope you find your freedom
For eternity…
For eternity

Yesterday when you were walking
We talked about your mum and dad
What they did that made you happy
What they did that made you sad
We sat and watched the sun go down
Picked a star before we lost the moon
Youth is wasted on the young
Before you know it’s come and gone to soon

You were there for summer dreaming
And you gave me what I need
And I hope you find your freedom
For eternity…
For eternity

For eternity
I’ll sing this somber serenade
The past is done
We’ve been betrayed
It’s true
Youth is wasted on the young
Before you know it’s come and gone to soon

You were there for summer dreaming
And you are a friend indeed
And I hope you find your freedom
For eternity

You were there for summer dreaming
And you are a friend indeed
And I know you’ll find your freedom
Eventually
For eternity
For eternity

Eternity – Robbie Williams

Gara-Gara Prita, Bybyq Susah Ngeblog

Standard

Bukan baru kali ini mama saya freak out setiap kali dia ingat kalau saya suka ngeblog. Dulu, setiap kali membicarakan gosip keluarga, dia selalu mengingatkan wanti-wanti agar kisahnya tidak bocor ke media. Juga setiap kali saya bilang kalau saya mau curhat di blog saja tiap kali ada kejadian menyebalkan di customer service (manapun). Tapi gara-gara Prita, mama saya makin anti dengan yang namanya blog.

Awalnya saya mau membuat hashtag #blameprita di twitter untuk sarkastwit, tapi keduluan sama #blamethemuslims. Untungnya saya tidak meneruskan niat saya karena ternyata #blamethemuslims menjadi hashtag gone wrong yang menghebohkan jagad twitverse.

Jadi, begini ceritanya.

Setelah pengadilan kasasi memutuskan Prita bersalah, meskipun dia tidak dihukum, mama saya seperti MUNGKIN banyak orang lain merasa takut. Takut ngeluh, takut ngadu, takut komplain apalagi di media terbuka. Takut kalau-kalau mereka juga bisa kena jerat UU ITE. Secara khusus, mama saya takut kalau saya terlalu vokal di dunia maya, hidup saya bisa dipersulit di dunia nyata.

Saya jadi teringat apa yang dikatakan oleh teman saya, yang sudah ganti pseudonym lagi… Bahwa menjadi anonim adalah hal paling menyenangkan di dunia maya. Saya pun berpikir begitu. Kalau tidak, apa gunanya saya membuat pseudonym yang susah dibaca seperti Bybyq? Tapi, sebagai natural born popular, saya tidak bisa berbuat banyak… (Tolong jangan bunuh saya, dan jangan hack blog ini).

Bukannya saya gagah berani. Saya juga ogah kalau harus berhadapan dengan hukum hanya karena mengeluh menemukan lalat tergoreng crispy di kremes yang saya makan kemarin siang (true story!), atau mengomel mengenai internet yang tidak pernah berjalan normal di rumah saya sampai jempol saya bengkak karena ngeblog lewat hp terus (another true story!). Saya juga malas kalau saya harus kena denda ratusan juta rupiah karena dianggap mencemarkan nama baik seseorang atau sebuah perusahaan yang sudah lebih dulu mencemarkan nafsu makan saya, misalnya.

Akan tetapi, kalau saya diam saja, saya akan stres dan itu tidak baik untuk kesehatan. Siapa yang akan menunjang biaya kontrol saya ke psikolog, termasuk biaya bolak balik Jakarta-Solo? Siapa yang akan membelikan saya es krim untuk pelipur lara saya setiap harinya? Apakah gara-gara Prita saya harus berhenti ngeblog dan menanggung beban batin itu semua sendirian?

(Kak Irma dan Bung Monty, tolong saya. Apa yang harus saya lakukan?)