A Bull Story

Standard

*menengok kembali apa yang saya tulis kemarin*

*malu sendiri*

Ngapain juga saya mellow sendiri seperti kemarin itu? Benar-benar tidak jelas…

Setelah lama saya tidak posting, hari ini saya menemukan topik yang bagi saya cukup menarik untuk dibahas. Tidak jauh-jauh dari topik pertemanan yang kemarin membuat saya agak galau, tapi jauh lebih besar sumbangsihnya bagi kemanusiaan kalau saya membahas tentang hal ini daripada menceritakan kegalauan saya yang tidak jelas itu…

Tentu saja semuanya diawali dari kepulangan kami bertiga ke kampung halaman, dan akhirnya kami bertemu dengan teman-teman lama kami yang masih atau sudah kembali menetap di sini. Salah seorang adik saya bahkan bergabung dengan sebuah grup di blackberry, bersama dengan teman-teman SMP nya. Dari grup itu dia mendapatkan sebuah informasi yang diceritakannya kepada kami siang ini…

Salah seorang teman SMP adik saya, ternyata menyimpan dendam dan kepaitan terhadap teman-teman SMPnya yang lain. Dia tidak meng-accept teman-teman SMPnya, terutama yang cowo, di FB. Bahkan beberapa waktu lalu, ketika seorang temannya tidak sengaja melihatnya di sebuah tempat olah raga, dia langsung pergi menghindar. Kabarnya, teman SMP adik saya ini masih sakit hati karena perlakuan teman-teman cowonya semasa SMP, karena dia mengalami pem-bully-an. Kepada salah seorang temannya, dia bahkan mengadu bahwa dia sempat ingin bunuh diri karena depresi karena perlakuan teman-teman SMP nya tersebut.

Saya jadi teringat saat saya di sekolah dulu.

Saya memang bukan salah satu anak paling baik hati di sekolah, bahkan mungkin saya pernah menjadi salah satu dari mereka yang melakukan pem-bully-an. Mungkin saya memang suka melontarkan pendapat-pendapat yang mungkin di telinga saya terdengar lucu, namun terasa jahat di telinga orang lain. Mungkin beberapa tahun lalu, bahkan mungkin sampai tadi siang kami masih merasa bahwa tindakan iseng yang kami maksudkan untuk lucu-lucuan itu hanyalah keisengan anak sekolah, dan hanya sekedar penyemarak suasana. Tapi ternyata, bagi beberapa yang lain, tidak begitu ceritanya.

Mungkin karena saya tidak pernah berada di posisi di mana saya mengalami pem-bully-an, atau mungkin secara alamiah saya tidak bisa di-bully, sehingga saya tidak pernah mengerti apa yang dirasakan mereka. Sampai beberapa waktu yang lalu saya masih merasa bahwa mereka yang ‘jatuh’ karena dibully adalah mereka yang memang lemah secara mental dan karakter. Ternyata, adegan pembullyan yang selama ini hanya saya lihat di TV atau saya baca di buku, terjadi tidak jauh dari saya.

Bahkan mungkin, saya sendiri pernah melakukannya…

Jadi, saya ingin meminta maaf…

Siapapun yang pernah saya bully ketika saya masih kecil, saya minta maaf.

Kalau keisengan yang saya perbuat menyakiti hati anda, saya minta maaf. Kalau kata-kata saya membuat anda dendam pada saya, saya minta maaf. Kalau saya pernah melontarkan kata-kata tanpa peduli konsekuensinya, saya minta maaf. Kalau anda tidak puas saya minta maaf lewat blog, saya akan minta maaf secara pribadi…

Advertisements

Comments are closed.