The Annoying Old Lady

Standard

Hari ini, seperti hari-hari lainnya, datanglah perempuan itu. Sebenarnya dibilang tua, tidak juga, karena usianya masih sebaya dengan mama saya yang masih tergolong muda apalagi dibandingkan dengan orang tua teman-teman saya (jaga-jaga kalau mama saya ternyata membaca blog ini). Tapi, perempuan ini tampak hampir seusia nenek saya. Kata mama saya, wajahnya terlihat tua karena beban hidupnya.

Saya tidak keberatan Mama saya membantu perempuan ini. Toh, dulu sebelum bercerai dengan suaminya, mereka berdua dapat dibilang masih berkerabat. Saya juga tidak keberatan kalau dia datang tiap hari ke tempat mama saya bekerja. Tapi, saya keberatan apabila dia mulai mengoceh dan lebih keberatan lagi kalau saya harus meladeni ocehannya.

Kurang lebih dia akan berkeluh kesah tentang sulitnya hidup yang dilaluinya. Kalau ada waktu lebih dan dia masih belum memutuskan untuk pulang maka dia akan melanjutkan ceritanya dengan menceritakan tentang anaknya yang sekarang bekerja di kota besar. Lalu, kalau masih ada waktu sisa, dia akan mulai sok bertanya-tanya pada saya dan adik-adik saya hal-hal yang menurut saya dia tidak perlu tahu. Toh selama ini, sebelum dia susah dan butuh bantuan dari keluarga kami, dia tidak pernah peduli juga dengan apa yang kami lakukan. Kenapa sekarang tiba-tiba kami harus share cerita pribadi dengan dia?

Yang lebih menyebalkan lagi adalah kalau dia mulai nimbrung pembicaraan saya dan adik-adik saya dengan mama saya. Dan, mulai mengalihkan pembicaraan yang sedang asik menjadi… membicarakan nasib dirinya sendiri. Something I don’t really care…

I think there is one thing people needs to know about me. I don’t really care when you’re whining, because it means you’re weak. Saya tidak akan kasihan dengan orang yang jatuh karena kesalahannya sendiri dan membuat orang lain harus repot menariknya sampai bangun dan berdiri di atas kakinya lagi. Saya tidak akan kasihan dengan keluhan-keluhan remeh yang terjadi karena kebodohannya membuatnya terjerat kesulitan sendiri. Bagi saya, orang yang terlalu banyak mengeluh itu menyebalkan, atau lebih tepatnya menyebalkan karena merepotkan.

Bukannya saya tidak peduli dengan orang lain. Kalau kami mau cerita dan curhat, silakan saja. Kalau kamu membutuhkan pendapat saya, saya akan berikan. Tapi kalau kamu mengeluh berulang-ulang seperti kaset rusak di hadapan saya… saya akan melakukan apa yang selalu saya lakukan terhadap koleksi kaset saya yang sudah rusak. Membuangnya ke tong sampah.

I am so sorry for being so rude today. Saya hanya berusaha mengatakan bahwa bukan mereka sajalah orang paling susah di dunia ini. Beruntung mereka masih punya orang-orang yang peduli dan mau menolong mereka waktu mereka susah, meskipun mereka tidak pernah menolong orang lain waktu mereka sedang jaya. So, if you have lots of caring people around you, stop pitying yourself…

Advertisements

Comments are closed.