Gara-Gara Prita, Bybyq Susah Ngeblog

Standard

Bukan baru kali ini mama saya freak out setiap kali dia ingat kalau saya suka ngeblog. Dulu, setiap kali membicarakan gosip keluarga, dia selalu mengingatkan wanti-wanti agar kisahnya tidak bocor ke media. Juga setiap kali saya bilang kalau saya mau curhat di blog saja tiap kali ada kejadian menyebalkan di customer service (manapun). Tapi gara-gara Prita, mama saya makin anti dengan yang namanya blog.

Awalnya saya mau membuat hashtag #blameprita di twitter untuk sarkastwit, tapi keduluan sama #blamethemuslims. Untungnya saya tidak meneruskan niat saya karena ternyata #blamethemuslims menjadi hashtag gone wrong yang menghebohkan jagad twitverse.

Jadi, begini ceritanya.

Setelah pengadilan kasasi memutuskan Prita bersalah, meskipun dia tidak dihukum, mama saya seperti MUNGKIN banyak orang lain merasa takut. Takut ngeluh, takut ngadu, takut komplain apalagi di media terbuka. Takut kalau-kalau mereka juga bisa kena jerat UU ITE. Secara khusus, mama saya takut kalau saya terlalu vokal di dunia maya, hidup saya bisa dipersulit di dunia nyata.

Saya jadi teringat apa yang dikatakan oleh teman saya, yang sudah ganti pseudonym lagi… Bahwa menjadi anonim adalah hal paling menyenangkan di dunia maya. Saya pun berpikir begitu. Kalau tidak, apa gunanya saya membuat pseudonym yang susah dibaca seperti Bybyq? Tapi, sebagai natural born popular, saya tidak bisa berbuat banyak… (Tolong jangan bunuh saya, dan jangan hack blog ini).

Bukannya saya gagah berani. Saya juga ogah kalau harus berhadapan dengan hukum hanya karena mengeluh menemukan lalat tergoreng crispy di kremes yang saya makan kemarin siang (true story!), atau mengomel mengenai internet yang tidak pernah berjalan normal di rumah saya sampai jempol saya bengkak karena ngeblog lewat hp terus (another true story!). Saya juga malas kalau saya harus kena denda ratusan juta rupiah karena dianggap mencemarkan nama baik seseorang atau sebuah perusahaan yang sudah lebih dulu mencemarkan nafsu makan saya, misalnya.

Akan tetapi, kalau saya diam saja, saya akan stres dan itu tidak baik untuk kesehatan. Siapa yang akan menunjang biaya kontrol saya ke psikolog, termasuk biaya bolak balik Jakarta-Solo? Siapa yang akan membelikan saya es krim untuk pelipur lara saya setiap harinya? Apakah gara-gara Prita saya harus berhenti ngeblog dan menanggung beban batin itu semua sendirian?

(Kak Irma dan Bung Monty, tolong saya. Apa yang harus saya lakukan?)

Advertisements

Comments are closed.