10 Days In North Sulawesi: The Byq Arrival to Kotamobagu

Standard

Sebenarnya, terpengaruh dari “Let’s get Lost” nya NGC, dan juga ulasan lengkap dari blog tetangga yang habis jalan-jalan ke Vietnam, saya jadi kepingin menghabiskan waktu berada di tempat asing. Saya jadi kepingin berkeliaran di tempat yang belum pernah saya kunjungi sama sekali sebelumnya, misalnya Bali, atau Singapura yang sudah beberapa kali saya sambangi. Kesempatan itu datang waktu saya bercakap-cakap dengan seorang Suster (Biarawati) yang dulu pernah mengajar di SMA saya di Solo.

Berangkatlah saya ke Kotamobagu.

Saya ingin sekali pamer beberapa foto yang saya dapatkan di sana, tapi yah, karena laptop saya sedang rusak, dan saya harus olahraga jempol untuk membuat entry, saya tidak bisa melakukannya sekarang. Maka, bayangkan saja seperti apa Kotamobagu itu, saya akan mencoba mendeskripsikan sebisa mungkin.

Setelah turun di bandara Sam Ratulangi, Manado, saya dijemput oleh Om Doni. Di sana, semua cowok yang sudah menikah (yang biasanya di sini dipanggil Pak) di sana dipanggil Om. Bersama Om Doni yang tampaknya masih muda itu, saya menjemput Bu Hetty, salah seorang pegawai Tata Usaha di sekolah tempat Suster sahabat saya itu menjabat kepala sekolah. Saya diam-diam saja, cuma senyam-senyum kalau diajak bicara oleh mereka. Bagaimana tidak? Saya nggak ngerti mereka ini ngomong apa…

Bu Hetty dan Om Doni bicara begitu cepat, dan tidak sepenuhnya menggunakan bahasa Indonesia. Beberapa waktu kemudian, setelah satu dua hari di sana saya baru tahu kalau mereka memang jarang berbahasa Indonesia.

Selama lebih kurang empat jam perjalanan dari Manado ke Kotamobagu, diiringi lagu-lagu Minahasa dari mp3 player Om Doni, tampak keindahan alam Minahasa. Di kanan jalan terlihat bentangan pantai yang bersih dan jernih. Udara yang masih segar membawa wangi alam membuat kami tidak perlu menyalakan AC sepanjang perjalanan. Makin lama, hawa makin sejuk, terutama setelah meninggalkan pusat kota Manado yang ramai, dan beranjak naik ke Kotamobagu yang berada di dataran yang lebih tinggi.

Menuju Kotamobagu, kami melewati beberapa desa. Tentu saja saya tidak ingat berapa banyak desa yang kami lewati karena saya tertidur di jalan. Saya benar-benar minta maaf tapi mulai saat ini saya akan selalu meng-skip cerita perjalanan bermobil demi menjaga autentisitas tulisan saya. Saya selalu ketiduran di dalam mobil. Entah kenapa…

Saat saya bangun… Kami sudah berada di pusat kota Kotamobagu. Yap, Kotamobagu adalah kota kecil yang tampak menyenangkan. Kendaraan bermotor lalu lalang dengan damai, karena tidak ada kemacetan dan polusi. Jalan arteri teraspal dengan baik, dan gereja dan masjid bersebelah-sebelahan, semua dihias-hias… Saya tidak tanya kenapa semua gerbang masuk baik rumah maupun tenpat publik dihiasi dengan rumbai-rumbai kuning seperti janur (padahal sepertinya dari tali rafia).

Gedung walikota dihias nampak siap untuk berpesta. Beberapa saat kemudian saya baru tahu bahwa walikota sering mengundang masyarakat untuk berbuka bersama di sana. Dan di sepuluh menit terakhir dalam bengong sambil melalap habis apapun yang dapat saya lihat di sana: pertokoan, pasar tumpah, orang-orang berjalan di trotoar, hiruk pikuk kota, dan kendaraan unik bernama bentor (saya ceritakan nanti), saya pun sampai ke sekolah berasrama dan biara tempat saya akan tinggal selama seminggu ke depan.

Bybyq tinggal di biara? Apa yang akan terjadi pada anak malang itu? Ikuti kisah selanjutnya dalam serial 10 hari di Sulawesi Utara Bersama Bybyq…

Advertisements

Comments are closed.