10 Days In North Sulawesi: Nama Saya Bybyq. Kamu?

Standard

Kalau saya tahu bahwa menginap di biara artinya menjadi selebriti lokal di sana, maka saya akan membawa lebih banyak pakaian keren untuk nampang. Nggak deng! Bukan selebriti, hanya saja memang banyak orang jadi penasaran dengan keberadaan saya. Ngapain ini cewek Cina bulat yang tidak bisa bicara bahasa Manado ada di Susteran, dan muncul ke sana kemari seperti itu?

Beberapa mengira saya masih bersaudara atau punya hubungankerabat dengan Suster sahabat saya itu. Meskipun agak sulit buat saya memahami bagaimana mereka bisa menarik kesimpulan itu. Beberapa yang lain mencetuskan ide yang lebih masuk akal buat saya, meskipun terdengar menggelikan setelah dipikir ulang. Rupa-rupanya si cewek yang baru datang dari Jawa itu mau jadi suster juga. Mungkin dia calon Suster. Wajar mereka mengira demikian mengingat wajah saya yang selalu tampak angelic. Ha! Tertipu!

Alhasil, dengan popularitas sementara yang saya dapatkan di sana, saya mengenal beberapa orang yang berkesan untuk saya. Saya akui, jujur nih, saya mungkin akan kangen sama mereka untuk beberapa waktu. Tapi, sebaiknya kita tidak perlu seemosional itu, bukan?

Pertama, tentu saja trio Suster yang ada di biara, bukan. Satu, Suster sahabat saya yang menjabat sebagai kepala SMA itu, satu Suster kepala asrama, dan satu lagi Suster kepala Yayasan sekaligus kepala SMP di sana. Saya menghabiskan setiap hari bersama mereka, dari memasak, mengajar, jalan-jalan, … Kecuali tidur dan mandi, deh. Terima kasih sudah meluangkan waktu yang sudah padat sempit dan nyaris terbirit-birit itu untuk menemani saya, dan mengajari saya sesuatu yang menarik. *sungkem*

Ada Suster, pasti ada Pastor. Dua orang pastor paling funky yang pernah saya tahu. Serius. Saya kira pastor funky dan suka food travelling cuma ada di film-film garapan hollywood. Bukan cuma itu, beberapa kalipun saya ditraktir makan enak oleh mereka. Terima kasih acara jalan-jalannya meskipun kalian berdua sedang sibuk-sibuknya. Juga terima kasih makanan-makanan enak yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Juga Pastor di Manado yang memberikan kami tempat singgah sementara selama semalam kami di Manado. *sungkem*

Warga kota Kotamobagu. Tante Al, yang mengurus pastoran, yang baik banget sama saya; juga Om Deni, suaminya. Tante Vera, yang membawa kami makan bubur Manado. Om Doni dan Om Manggek yang mengantar-ngantar kami Manado – Kotamobagu, dan Kotamobagu – Manado, yang tetap berhati-hati di Jalan meskipun semua penumpang tertidur lelap. Putri yang menangis karena saya, dan mamaknya yang senang sekali kalau Putri ketakutan melihat saya. Kalian membuat Kotamobagu tidak terlupakan. Terima kasih. *sungkem*

Staff dan Guru-guru SMP dan SMA, terutama Bu Hetty yang sangat baik hati, Bu Selvi yang memberi saya kerjaan (yang tidak saya selesaikan), Pak Felani yang banyak memberikan info tentang Kotamobagu dan Bu Jein yang super super sweet. Bentar, yang dua terakhir saya sebut langsung nama saja nanti, soalnya mereka berdua seumur sama saya. Terima kasih membuat saya makin yakin dengan dunia pendidikan. *sungkem*

Erna, Maris, Martha, Ris dan Yuli, yang bekerja di dapur bersama saya. Terima kasih mengajari saya banyak hal, dari memasak sampai bahasa Manado yang tidak saya mengerti. Terima kasih mengajari lebih banyak daripada yang saya harapkan dapat saya pelajari di sana. Terima kasih juga untuk sambutan terhangat dari kalian, dan keramahan yang menyenangkan dari kalian. Terima kasih banyak. *hugs*

Lalu ada 3 ekor hamster, Bogo, Bobi, dan Coki; anjing-anjing yang Pastor dan Suster pelihara. Semoga cepat sembuh dari penyakitnya, dan tetap sehat dan hidup sampai saya kembali lagi ke sana nanti…

Dan, terakhir anak-anak SMA-SMP, khususnya yang tinggal di asrama. Terima kasih untuk tidak meng-komplain keberadaan saya di sana. Terima kasih karena mau makan makanan yang saya bikin. Terima kasih juga untuk warm welcoming, dan kepercayaan kepada saya untuk membantu kalian belajar. Terima kasih untuk yang sudah bilang saya cantik dan pintar, you guys are my favorite. Salah satu dari anak asrama ini bahkan sudah mulai mengontak saya via SMS, jadi terbayang kan seberapa ngefans-nya mereka? *kabur sebelom ditimpuk mereka ramai-ramai*

Apakah saya akan kembali lagi ke sana suatu hari nanti? Sure I will. See you next time guys.

Advertisements

Comments are closed.