10 Days in North Sulawesi: Live in Harmony

Standard

Sebenarnya saya merencanakan hari ini untuk mulai mengupload gambar, tapi sayangnya meskipun laptop saya sudah sehat kembali *tebar confetti*, internet saya masih tetap seperti yang dulu. Hampir tidak mungkin mengupload gambar sekarang, tapi saya akan pikirkan cara lain, misalnya mencuri koneksi internet di tempat lain, atau dengan penuh keniatan memindahkan gambar-gambar tersebut ke bb saya.

Salah satu yang ingin saya upload adalah betapa meriahnya acara perayaan hari kemerdekaan di sana. Di sekolah diadakan lomba-lomba beraneka jenis, diikuti dengan gembira oleh murid-murid SMP dan SMA. Di gereja mengadakan perayaan, misa sykuran atau ibadat kemerdekaan. Di malam hari semua orang diundang makan-makan untuk berbuka di kantor Walikota; baik yang berpuasa maupun tidak.

Memang, di sana; di Manado maupun Kotamobagu, isu agama tidak menjadi masalah. Saat di beberapa tempat di Jawa pembangunan gereja dihalang-halangi. Saat di beberapa tempat di Jawa, dekat pemerintah pusat, orang-orang yang mencari nafkah membuka warung di ancam dengan gebuk karena membuka warungnya di bulan puasa. Di sana, gereja berdiri bersebelah-sebelahan dengan damai, berhadap-hadapan dengan hormat tanpa ada masalah. Warung dan rumah makan tetap buka tanpa ada yang mengancam ataupun mengobrak-abrik. Ramadan di Kotamobagu adalah bulan berkah bagi semua orang.

Beberapa tahun lalu saat menghabiskan liburan menjelang lebaran di Tasikmalaya, saya tidak bisa mendapatkan mie kesukaan saya, padahal saya tidak berpuasa. Yang jual juga ga puasa! Tapi kami tidak boleh makan, dan penjual mie tidak boleh mencari nafkah. Di Kotamobagu, penjual makanan sudah berjajar di jalan menjelang buka puasa, menyiapkan ta’jil untuk yang berpuasa, dan makanan lezat untuk yang tidak berpuasa. Betapa berbedanya, sekaligus betapa menyenangkannya suasana seperti itu.

Katanya, penduduk asli di sana, orang-orang Minahasa memang sudah lama berdamping-dampingan dalam perbedaan mereka. Meskipun minoritas, penduduk di sana yang merupakan warga keturunan Tionghoa juga berbaur dengan baik. Mereka juga terbuka dengan pendatang dari luar Sulawesi. Sayangnya, para pendatang dari luar inilah yang suka membuat masalah, dan memancing keributan…

Moga-moga nanti saya datang ke sana keadaan masih seperti yang saya ingat.

Advertisements

Comments are closed.