10 Days in North Sulawesi: My Concern

Standard

Mungkin terlalu cepat kalau saya membuat kesimpulan-kesimpulan berdasarkan apa yang saya lihat hanya dalam 10 hari di Kotamobagu. Lagipula, menurut saya, Kotamobagu sendiri tidak bisa dijadikan patokan gambaran keseluruhan warga Sulawesi. Tapi, setidaknya di sini saya mengamati sesuatu yang menurut saya pantas diperhatikan lebih jauh lagi.

Tinggal beberapa hari di biara, sekaligus membantu Suster di asrama putri, saya memperhatikan bahwa standar pendidikan di Kotamobagu lebih rendah dibandingkan di Solo. Setidaknya itulah yang bisa saya perbandingkan. Tidak bisa dibilang karena saya dulu bersekolah di SMA favorit, SMA di sana pun termasuk salah satu SMA favorit di Kotamobagu. Tapi pemahaman siswa-siswa SMA di sana masih kalah jauh dengan siswa-siswa di Solo.

Misalnya saja, dalam matematika dan bahasa Indonesia, dua mata pelajaran yang sempat saya perhatikan. Kurangnya perhatian mereka dalam bidang pendidikan sangat disayangkan mengingat mereka sebenarnya sangat berpotensi menjadi pandai.

Kotamobagu pada khususnya, dan juga Sulawesi pada umumnya memiliki banyak potensi. Mereka memiliki sumber daya alam yang luar biasa; tempat wisata yang indah, tanah yang subur dan menghasilkan dan pertambangan yang bisa diandalkan sebagai sumber ekonomi yang mampu menyejahterakan seluruh masyarakat. Akan tetapi, kesadaran mereka memiliki kekayaan alam ini tidak dibarengi dengan kesadaran untuk memanfaatkan sebaik-baiknya.

Ada anggapan dalam masyarakat yang menganggap: “dengan begini saja kami bisa hidup layak. Buat apa meminta yang lebih?” atau “buat apa berusaha lebih banyak lagi?”. Hasilnya? Di daerah sekitar saya tinggal, banyak anak-anak muda, mungkin baru lulus SMA (atau bahkan SMP) sudah menikah dan memiliki anak. Beberapa yang belum menikah pun tidak berniat sama sekali untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Banyak keluarga hidup dari berkebun. Kebun yang hanya mengandalkan curah hujan. Kaya raya selama musim panen dan susah pada waktu musim paceklik. Tidak terpikirkan untuk membuat saluran irigasi, atau membuat sistem penanaman yang membuat mereka bisa mendapatkan pemasukan yang stabil. Bayangkan saja, harga tomat bulan lalu 130ribu dan bulan ini 30ribu. Saya rasa apabila ada manajemen yang baik, tidak akan ada fluktuasi harga sedemikian parah.

Sulawesi adalah pulau yang menyimpan begitu banyak potensi. Baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia. Keprihatinan saya adalah betapa kurangnya pengelolaan dan kesadaran akan perlunya pengelolaan ini.

Advertisements

Comments are closed.