10 Days in North Sulawesi: The Food Fiesta

Standard

Nah, berhubung sekarang sudah selesai puasa, saya bisa mulai memajang gambar-gambar makanan tanpa harus khawatir digerebek FPI.

 

Setelah Pengucapan di Dumoga, sebuah desa di dekat Kotamobagu, para siswi asrama yang berasal dari Dumoga membawakan kami banyak makanan dari sana. Kebanyakan dari mereka membawakan kami dodol. Inilah bentuk dodol dari Dumoga.

Di perjalanan dari Manado menuju Tomohon, di sebuah tempat bernama Tinoor, banyak tempat makan yang menjual menu-menu Minahasa. Ada satu restoran ‘all you can eat’ di sana, dan inilah menu mereka. Dari atas kiri yang gambarnya agak terpotong itu adalah sup, di sebelahnya ayam dengan kuah santan, lalu di bawahnya sebelah kiri adalah sate babi, dan kanannya adalah babi (saya tidak tahu dimasak apa). Sedangkan dua yang dibawah, sebelah kiri itu adalah keong, dan kanannya adalah babi juga (tapi saya juga tidak tahu dimasak apa). Dan semuanya enak!!

Orang-orang Minahasa menyebutnya tinutuan (baca tinutu’an), tapi saya mendengar pertama kali disebut oleh Suster: Bubur Manado. Yap, ini adalah Bubur Manado yang terkenal itu. Saya tidak tahu apa saja isinya, tapi saya bisa menyebutkan diantaranya adalah daun kemangi yang ternyata tidak perlu dimakan tapi saya makan juga, sayur kangkung, nasi, tahu… dan lucunya, tinutuan ini bisa dimakan bersamaan dengan Pisang Goreng!!

Ini adalah menu makanan di rumah tante Al. Di sebelah kiri itu adalah tumis kangkung… dua di sebelah kanannya adalah sambal terkenal Minahasa: Dabu-dabu. Jangan tanya sepedas apa… Saya nangis-nangis memakannya… Tapi enak, dan saya sempat nambah *jadimalu*

Saya sempat dijanjikan makanan ini selama beberapa hari. Tidak menyangka pada akhirnya kesampaian juga mencicipi menu yang langka luar biasa ini. Di Minahasa, orang-orang menyebutnya Paniki. Paniki itu artinya kelelawar. Kali ini paniki dimasak dengan santan, dan rasanya enak sekali. Sebuah rahasia yang diberikan oleh Pastor kepada saya, bagian terenak dari paniki adalah sayapnya, karena rasanya kenyal-kenyal seperti jamur kuping.

Ini adalah mujair bakar yang saya makan di rumah Tante Al. Mujair bakar ini sangat lezat, selain karena memang Tante Al adalah salah seorang yang paling ahli memasak yang pernah saya temui, tapi juga karena memang di daerah Minahasa ini banyak suplai ikan segar, baik ikan air tawar maupun air laut. Jadi… gabungan antara koki yang hebat dan bahan makanan berkualitas menghasilkan mujair bakar terlezat yang pernah saya makan!

Advertisements

2 responses

  1. errrrr…dan selamat!! anda sukses membuat saya ngeri dengan makanan makanan yang anda posting.
    kelelawar, babi………hadeeeeh

    Like

    • Saya harusnya juga posting “Tikus masak santan” ya? Tapi saya ga sempat fotoin yang itu…

      Maaf ya… Saya ga kepikiran kalau orang bisa ngeri dengan makanan yang saya upload. Buat saya masakan Minahasa itu enak-enak siih…

      Like