10 Days in North Sulawesi: The Aftermath

Standard

Perjalanan saya ke Kotamobagu ini meninggalkan banyak kesan dan kenangan. Tentu saja, sepadan dengan 10 hari yang telah saya jalani di sana. Saya tidak hanya belajar hal-hal yang tidak pernah saya pelajari sebelumnya di sini, tapi juga memahami banyak hal yang penting untuk kehidupan saya. Saya tidak hanya menjalin hubungan yang lebih baik dengan Suster yang sudah saya kenal sejak lama, tapi saya juga berkenalan dan berhubungan dengan banyak teman baru.

Saya tidak hanya diajari untuk lebih peduli, namun juga memahami betapa berbedanya keadaan di sana dengan di mana saya berasal. Saya diajari untuk menghargai perbedaan, dan terutama saya diajari untuk memahami diri saya sendiri.

Selama di sana, saya sempat merindukan kebebasan, merindukan internet, merindukan teknologi (karena komputer saya rusak), dan hal-hal yang selama ini saya anggap fatal dan vital bagi saya. Namun setelah beberapa hari tanpa semua itu, dengan pekerjaan setiap hari, dengan bertemu orang-orang baru, dengan menyibukkan diri, ternyata saya bisa bertahan hidup. Hebatnya lagi, dengan segala komplain saya tentang bututnya jaringan BIS di sana, saya masih sanggup bersenang-senang di sana.

Selama berada di sana, saya semakin mengenal diri saya sendiri. Semakin tahu apa yang saya inginkan, semakin yakin dengan apa yang saya percayai (dan apa yang TIDAK saya percayai). Saya diajari untuk mengambil keputusan-keputusan sulit, hal yang juga disarankan oleh psikolog saya dalam rangka membantu saya menjadi orang yang lebih tegas dan bertanggung jawab terhadap pilihan-pilihan yang saya ambil.

Saya pulang dari sana, tidak hanya dengan oleh-oleh klappertart dan juga foto-foto kenangan. Tidak hanya dengan membawa cerita untuk dibagikan, namun juga dengan pengalaman-pengalaman baru yang mendewasakan. Saya tidak akan ceroboh mengatakan bahwa saya sudah berubah menjadi manusia baru setelah perjalanan selama 10 hari ini, tapi setidaknya saya mendapatkan hal-hal baru yang membuat saya sedikit lebih kaya dari sebelumnya.

Yap!

Saya jadi ingat seorang teman mengatakan “travel often. getting lost might help you find yourself.”

And it did.

Advertisements

Comments are closed.