Lebaran On The Road: The City Of Heroes

Standard

Surabaya, Kota Pahlawan.

Itulah yang saya ingat sejak kecil. Surabaya dikenal sebagai kota para pejuang. Di sana, ada Tugu Pahlawan yang tidak sempat saya kunjungi tapi saya lewati bolak balik, dan juga hotel bersejarah yang saya tinggali selama dua malam berada di sana.

Ini bukan pertama kalinya saya pergi ke Surabaya untuk berlibur. Tiga kali saya ke sana, dua kali di antaranya pergi ke Surabaya untuk menghabiskan Lebaran, ternyata sama saja dulu dan sekarang. Bukan berarti Surabaya tidak berubah, saya melihat mal-mal semakin menjamur, sudah hampir tidak ada bedanya dengan Jakarta. Tapi yang saya maksud sama saja adalah, dari dulu sampai sekarang, kalau lagi lebaran hampir tidak ada tempat yang buka untuk dikunjungi wisatawan semacam saya.

Rencana kami untuk jalan-jalan pun terpaksa ditunda, bahkan dibatalkan saat tempat yang ingin kami kunjungi ternyata tidak buka. Sayang sekali, kota besar seperti ini tidak terbuka untuk wisatawan.

Kami berputar-putar selama beberapa jam di jalan karena kami tidak bisa menemukan tempat makan. Bahkan kami harus memutar balik setelah berkendara melewati jembatan Suramadu yang menghubungkan Surabaya dan Madura yang terkenal itu, hanya karena kami tidak bisa menemukan rumah makan setelah turun dari jalan tol yang ternyata tidak semacet itu. Mal baru buka setelah jam 12 siang, dan kami mengundur acara jalan-jalan ke The House of Sampoerna karena libur di hari yang kami rencanakan.

Untungnya, Soe mengajak saya berputar-putar di Surabaya dengan sepeda motornya. Sebuah pengalaman yang unik menikmati kota besar tanpa hembusan asap knalpot dan sendat kemacetan. Saya tahu betul rasanya karena saya pun pernah menghabiskan lebaran di Jakarta dan rasanya memang sungguh menyenangkan sesekali lepas dari jerat kemacetan jalan raya. Duduk di atas sepeda motor, membuat punggung saya yang berkarat karena duduk terlalu lama di dalam mobil menjadi lebih lurus. Menikmati segarnya udara luar juga membuat kepala saya yang pening karena terlalu lama terhembus hawa AC menjadi lebih ringan.

Jadi, apa saja yang saya dong yang saya kunjungi di Surabaya, selain House of Sampoerna? Mal!

Hiks!

Advertisements

Comments are closed.