Lebaran On The Road: The House of Sampoerna

Standard

Untungnya The House of Sampoerna adalah sebuah kejutan yang menyenangkan. Worth it banget datang ke Surabaya hanya untuk melihat tempat ini. Meskipun agak sulit untuk menemukannya karena lokasinya sulit terdeteksi orang-orang yang jarang datang ke Surabaya, tapi setelah datang ke sana semua kesulitan itu tidak terasa lagi. Gedung tua yang masih terawat baik ini memang mengundang untuk diulik-ulik keberadaannya.

The House of Sampoerna ini dulunya adalah pabrik pembuatan rokok yang kita kenal sekarang sebagai rokok Djie Sam Soe. Sekarang, rokok tersebut masih diproduksi di bagian belakang gedung ini, sedangkan di bagian depannya digunakan sebagai museum Sampoerna.

Begitu datang kami sekeluarga langsung disambut oleh seorang guide yang sangat ramah. Tidak hanya ramah, tapi guide ini juga sangat fasih menceritakan sejarah Dinasti Sampoerna sebagai market leader untuk rokok di Indonesia. Meskipun berbicara sangat cepat dan sesekali keserimpet lidahnya, guide ini sanggup membuat kami terpana mendengarkan betapa powerfulnya keluarga Sampoerna, sampai orang-orang penting datang untuk mengunjungi pabrik ini.

Kami juga melihat beberapa alat peraga, dan benda-benda yang mengingatkan kita pada kebesaran Sampoerna pada waktu dulu. Tidak hanya benda-benda bersejarah itu, gedung itu penuh dengan filosofi yang digunakan oleh Sampoerna dalam membangun kerajaan bisnisnya. Saya melihat Papa saya sepertinya ingin membangun sesuatu seperti itu, hanya saja tidak kesampaian :p.

Di bagian atas, kami seharusnya bisa melihat proses pelintingan rokok, hanya saja pada waktu kami datang para pekerjanya sedang mudik. Mungkin lain waktu. Di lantai atas ini juga, kami tidak diijinkan untuk mengambil gambar dalam bentuk apapun, tapi masih ada saja pengunjung yang pura-pura tidak tahu dan tetap mengambil gambar. Saya paling kesal dengan pengunjung model begini, benar-benar tidak tahu aturan. Kalau di luar negeri mungkin dia sudah ditendang dan diblacklist dari tempat itu, ditambah kameranya disita untuk waktu yang tidak terbatas.

Sebuah galeri kecil berada di bagian belakang kompleks, tertutup oleh kafe. Tema yang sedang diangkat di galeri itu adalah “Hitam Putih Indonesiaku”. Bukan hanya gambar-gambar hitam putih yang bertema nasionalisme, tapi juga lukisan yang dibuat dengan lumpur porong (lumpur lapindo) yang diwarnai hitam-putih dipamerkan di sana. Sayangnya saya tidak terlalu bisa mengapresiasi lukisan karena itu bukan keahlian saya, tapi mungkin di mata mereka yang lebih ahli lukisan-lukisan tersebut bernilai sangat tinggi.

Jadi, kesimpulannya… Kalau ke Surabaya, jangan lupa ke The House Of Sampoerna.

Advertisements

Comments are closed.