Lebaran On The Road: In History

Standard

Saya sempat pundung selama beberapa jam setelah saya gagal mengunjungi situs Majapahit di Trowulan Mojokerto. Katanya di sana kita bisa melihat peninggalan-peninggalan bersejarah, meskipun menurut Soe belum dikelola dengan baik. Saya pinginnya sih setidaknya sempat ke sana untuk melihat seperti apa peninggalan Majapahit itu, tapi ternyata kami memang belum beruntung kali ini. Setelah jauh-jauh pergi ke sana, malah hanya mendapati pagar yang tertutup.

Sampai sekarang pun saya masih tidak habis pikir kenapa situs sejarah yang dicari-cari orang saat liburan malah tidak dibuka pada waktu musim liburan. Benar-benar sebuah kesalahan fatal di dunia pariwisata saat sebuah tempat wisata tutup di saat high season. Siapa sih yang mengelola tempat itu?

Tapi untungnya meskipun saya tidak berhasil mengunjungi tempat bersejarah satu ini, saya masih bisa mengunjungi tempat bersejarah lain, meskipun yang ini tidak direncanakan. Situs bersejarah itu adalah hotel tempat saya menginap di Surabaya, Hotel Majapahit.

Hotel dengan arsitektur kolonial yang terawat baik dan masih terlihat mewah pada saat kami datang itu memang salah satu hotel yang paling keren yang pernah saya kunjungi. Bahkan sebelum saya tahu nilai historis gedung itu pun saya bisa merasakan kemewahan klasik yang tidak bisa disaingi oleh gedung-gedung dengan arsitektur modern semewah apapun itu. Di dalamnya terdapat taman yang hijau dan terawat baik, dengan lengkung-lengkung kolom yang hanya ada dalam bayangan saya dan film-film bertema kuno.

Gedung itu didominasi dengan warna putih, sedangkan kamar kami didominasi dengan warna gold dan copper. Meksipun nampak kuno, sebenarnya gedung itu difasilitasi dengan sangat modern, misalnya ada air panas, dan bahkan wifi yang tidak saya dapatkan saat saya menginap di Batu dan Tawangmangu.

Di gedung itu, dulu para pemuda menyobek bendera merah putih biru milik Belanda dan menyisakan merah putih di atas atapnya. Ingat cerita itu? Nah kejadiannya ternyata di hotel itu.

Sebenarnya saya ingin sekali bisa melihat-lihat banyak tempat bersejarah di sana, tapi sayangnya selain waktu memang tidak memungkinkan, tapi juga kebanyakan tempat bersejarah tidak (atau belum) dikelola untuk pariwisata. Misalnya, waktu saya muter-muter di Surabaya saya melihat semacam kota tua yang tidak terawat baik, yang seharusnya bisa menjadi daya tarik kota seperti Surabaya.

Penghargaan terhadap nilai sejarah itu sepertinya belum sepenuhnya menjadi kesadaran di sana. Setidaknya begitulah yang saya lihat dan saya rasakan di sana. Tidak seperti di Solo atau Bali yang mana pemerintahnya masih mati-matian mempertahankan cagar budaya. Fenomena seperti ini tidak hanya terjadi di Surabaya, tapi juga daerah-daerah lain. Perlukah bangunan-bangunan bersejarah itu diserahkan kepada pihak swasta yang peduli daripada hancur di tangan pengelola daerah yang masa bodoh?

Advertisements

Comments are closed.