Lebaran On The Road: The Fast and The Furious

Standard

Maksudnya adalah, The Fast Driver and The Furious Passengers. Bagaimana tidak? Liburan yang seharusnya menyenangkan karena liburan ini adalah sekaligus liburan terakhir saya bersama seluruh anggota keluarga menjadi terlalu melelahkan untuk dinikmati karena skill menyetir sopir yang kami pekerjakan malah membuat kami mabok sepanjang perjalanan. Waktu yang digunakan untuk jalan-jalan pun berkurang banyak banget karena waktu dihabiskan untuk mencari jalan karena sopir tersebut secara berkesinambungan nyasar, meskipun sudah melewati tempat yang sama berkali-kali.

Ini memang bukan pertama kalinya kami menggunakan sopir ini. Mungkin salah satu alasan kenapa kami masih menggunakan jasanya adalah karena adanya hubungan historis antara sopir ini dengan Papa saya. Dulunya mereka berteman, tapi setelah berlalunya waktu, nasib membuat kehidupan mereka menjadi berbeda. So, for the sake of the good old times, Papa saya masih suka menggunakan jasanya.

Tapi kami tidak.

Hari di mana Papa saya memutuskan untuk menggunakan sopir dalam perjalanan kali ini, kami semua sudah menduga hal semacam ini akan terjadi. Hanya saja keadaan diperparah dengan Popoh yang mendadak memutuskan untuk ikut berlibur bersama kami. Kenapa? Karena anggota keluarga kami yang berjumlah 6 orang, ditambah satu orang sopir ditambah lagi satu orang Popoh, menjadi berdelapan dipepet dalam satu mobil dengan bawaan untuk delapan hari liburan.

Road trip menjadi penderitaan, dan baru selesai setelah delapan hari, karena ternyata tidak ada hari tanpa bermobil.

Pelajaran yang dapat dipetik dari road trip kali ini, saya memilih berlibur di rumah daripada harus berlibur di jalanan, di dalam mobil yang dikemudikan oleh sopir yang itu. Ingat itu! Catat!

Advertisements

Comments are closed.