Let’s Get Married

Standard

Bagi banyak orang, pernikahan dianggap sebagai salah satu tonggak sejarah dalam kehidupan mereka. Sesuatu yang dapat diceritakannya, diwariskannya sebagai kisah yang dapat diteruskan kepada anak cucu. Bahkan, bagi beberapa orang mengategorikan pernikahan sebagai salah satu golden moment kehidupan. Meskipun saya tidak terlalu memikirkan tentang hal itu, tapi berada di pesta pernikahan teman-teman saya membuat saya jadi banyak merenung juga.

Bukan berarti saya kemudian latah jadi kepingin ikut menikah juga. Saya bukan memikirkan tentang pernikahannya, tapi bagaimana tonggak sejarah itu diukir.

Bagi saya, setiap kali seseorang mengukir sejarah hidupnya, maka dia semakin maju satu langkah menuju ke kedewasaan. Misalnya, lulus SMA, lulus kuliah, kerja pertama kali, menikah, punya anak… semua kejadian yang membentuk seseorang menjadi lebih dewasa. Dan bagi saya… saya sekarang sedang tertinggal jauh.

Bukan hanya tertinggal jauh untuk urusan romansa, saya tertinggal jauh di banyak hal. Saya tertinggal jauh… sekali. Saya juga ingin segera mulai mengukir sejarah saya. Tidak perlu menulis biografi dengan nama saya sendiri, tapi setidaknya saya ingin mengubah sesuatu di hidup saya.

Jujur saja, saya bosan dengan comfort zone saya saat ini.

Salah satu alasan mengapa saya ingin segera keluar dari negeri ini dan memulai perkuliahan saya adalah karena saya ingin segera memulai sesuatu yang baru. Sesuatu yang milik saya sendiri. Sesuatu yang tidak bisa diusik orang lain. Sesuatu yang saya harapkan bisa menjadi tonggak sejarah yang memulai perubahan dalam hidup saya.

Tentu saja untuk sebuah hal besar, ada banyak hal yang harus dikorbankan. Seperti orang yang memutuskan untuk menikah dan mengorbankan sedikit kebebasan mereka. Saya mengorbankan beberapa hal yang menurut saya penting, namun worth untuk ditukarkan dengan masa depan yang saya inginkan.

Beberapa orang mempertanyakan apa yang saya lakukan saat ini. Mereka merasa saya terburu-buru mengambil keputusan atau emosional dalam menentukan. Beberapa merasa tidak percaya dengan jalan yang saya ambil. Tapi kalau dikembalikan lagi kepada mereka, apakah mereka mau menanggung masa depan saya? Apakah mereka mau menjamin masa depan saya? Kalau mereka tidak bisa menjamin sesuatu untuk diri saya, maka pertanyaan-pertanyaan itu tak perlulah dikemukakan.

Lebaran kemarin, beberapa teman menyerukan betapa menyebalkannya mendapatkan pertanyaan wajib tahunan, “Kapan akan menikah?”

Memang saat ini menikah bukanlah prioritas saya, dan mungkin menikah memang tidak pernah benar-benar berada dalam daftar hal yang wajib saya jalani. Tidak sekarang. Mungkin tidak dalam beberapa tahun mendatang. Bisa jadi sepuluh tahun mendatang? Seandainya bisa, mungkin saya akan menjawab mereka yang bertanya pada saya mengenai kapan saya akan menikah dengan:

“Why so serious, Tante?”

Advertisements

Comments are closed.