Turn Back Time

Standard

Beberapa hari yang lalu, salah seorang teman saya di twitter, menge-twit bahwa dia sedang mendengarkan lagu “Turn Back Time”-nya Aqua. Lagu yang sudah bisa dibilang tua itu dulu pernah menjadi satu lagu yang sering saya dengarkan juga. Tiap kali mendengarkan itu, selalu terpikirkan apa yang akan saya lakukan kalau saya bisa memutar balik waktu. Kemudian, sebagai efek lanjutannya, saya pun mulai merangkai “what if…”

Dari sekian banyak “what if” yang pernah muncul di kepala saya, beberapa masih membuat saya penasaran. Namun demikian, entah kenapa, setelah sebuah “what if” muncul di kepala saya, suatu hari akan muncul jawaban dari “what if” tersebut yang menunjukkan bahwa ternyata tidak perlu ada yang saya sesali…

Misalnya: Beberapa hari lalu saya mendengar kabar bahwa salah seorang teman yang pernah saya sukai waktu SMA menikah. Bukan hanya pernah saya sukai waktu SMA, saya juga menolak dia waktu kami sudah kuliah. Beberapa kali saya bertanya-tanya apa yang akan terjadi kalau keadaanya berubah, tapi tidak lama yang lalu saya mendapatkan jawabannya.

Saya bertemu dengan teman saya itu di sebuah pusat perbelanjaan, bersama dengan istrinya. Saya menyapanya karena saya sedang mengantri untuk membayar di belakangnya. Saya tidak mau kegap sedang berada di sana, mengetahui keberadaannya dan tidak menyapa, dan kemudian muncullah di jagad pergosipan kalau saya sombong atau lebih parah lagi: sakit hati karena ga diundang.

Setelah basa basi singkat (saya yakin dia sedang basa basi karena dia mengatakan saya kurusan – which is impossible karena berat saya sedang naik), saya bertanya sekarang dia tinggal di mana setelah menikah. Dia menjawab dia masih tinggal di rumah orang tuanya setelah menikah.

Seriously, saya tidak bisa bereaksi selain bengong.

Dan juga bersyukur.

Mau jadi apa saya kalau saya waktu itu pacaran sama orang ini? Bagaimana nasib saya kalau saya yang harus tinggal di rumah mertua setelah menikah?

Bukannya saya diberikan kemampuan untuk melihat masa depan, tapi ternyata kemampuan prediksi saya ternyata cukup canggih juga. Ternyata mengambil keputusan itu tidak sesulit yang saya pikirkan sebelumnya. Ternyata banyak dari keputusan-keputusan besar di dunia ini yang pada akhirnya, meskipun meragukan, tidak saya sesali. Ini adalah salah satunya.

Apa yang saya alami hari ini mengajarkan pada saya bahwa saya tidak perlu takut mengambil resiko. Saya tidak perlu khawatir dengan “what if”. Saya tidak perlu sering-sering menengok ke belakang dan menyesali apa yang pernah saya putuskan. Saya hanya perlu menjadi manusia yang bahagia, dan saya rasa semua orang juga setuju akan hal itu

Advertisements

Comments are closed.