Journey To The West

Standard

Awalnya saya tidak yakin kalau perjalanan menuju Inggris ini bisa disebut Journey To The West, tapi setelah saya mengecek peta, dan melihat rute perjalanan saya, sekarang saya benar-benar lega bisa menggunakan judul itu tanpa harus diprotes. Saya harap saya tidak terkena sanksi pelanggaran hak cipta 😀

Setelah menghabiskan beberapa hari yang penuh cerita di Jakarta (saya tidak akan pernah menceritakan apa yang terjadi di Jakarta. Tidak akan pernah! Jadi jangan repot-repot bertanya), saya terbang menuju ke London via Dubai. Alasan kenapa saya memilih penerbangan ini adalah karena biayanya setengah harga dari penerbangan yang langsung menuju ke Norwich. Bukankah lebih baik uangnya saya pakai buat hidup di sini daripada buat beli tiket pesawat?

Saat menuju Dubai, saya mendapatkan teman seperjalanan yang sangat menyenangkan. Dia adalah seorang mahasiswa Indonesia yang kuliah di Malaysia untuk mendapatkan gelar s1 nya. Tahun terakhirnya diselesaikannya di Inggris, tepatnya di Nottingham. Bukan hanya menjadi teman yang baik selama perjalanan, dia juga menjadi teman yang sangaaaat menyenangkan selama kami menunggu sekitar 4 jam transit di Dubai.

Perjalanan menuju ke London Heathrow lebih melelahkan. Selain karena saya tidak berhasil mendapatkan tempat duduk di dekat jendela, yaitu posisi duduk kesukaan saya, saya tidak mendapatkan teman mengobrol yang asik. Orang yang duduk di sebelah saya, terlepas dari penampakannya yang mirip-mirip Fachri Albar, tidak suka bicara dan lebih suka main game sepanjang perjalanan. Yang saya tahu hanyalah bahwa dia juga mau ke Nottingham.

Saya sempat bertanya-tanya kenapa semua orang ke Nottingham? Mana yang mau ke Norwich?

Tidak banyak orang Indonesia di sini. Bahkan sampai saat saya menulis entry ini, saya belum bertemu satu pun orang Indonesia di Norwich. Tapi, sisi positifnya adalah, karena saya tidak bertemu dengan orang Indonesia sama sekali, saya mau tidak mau berbicara dengan bahasa Inggris setiap saat. Dan memang itulah tujuan saya memilih Norwich sebagai tempat belajar. Bukan?

Sampai saat ini, saya sudah cukup akrab dengan 3 orang mahasiswa s2. Dua orang dari China, dan satu orang dari Malaysia. Masing-masing mengambil jurusan Business International, Media, dan satu lagu Musik. Keren yah?

Saya heran kenapa ada orang yang takut amat pergi jauh dari rumah. Takut amat nggak bisa make friends. Sampai-sampai mau kenalan aja harus pake comblang… seperti seseorang yang minta tolong sama agen saya, minta nomer PIN BB, supaya bisa dapet temen orang Indonesia di sini. Padahal cowok. Seriously? That’s pathetic.

Eh? Apakah saya sudah terdengar (asal) British?

Haruskah saya mulai posting dengan bahasa Inggris?

Ah tidak usaaah deh… nanti kalau Bedjo tetangga saya itu ikutan posting pake bahasa Jerman, matilah saya…

Jadi… di sinilah saya. Norwich. The Fine City. None Finer 😀

Advertisements

5 responses

  1. Pingback: Don’t Be Gay in Indonesia!?! | SuperByq

  2. ada yang membuka lembaran baru pula di sini!!
    selamat menikmati fase kehidupan yg baru ya! Udah, ga usah posting in english (kayak ngomong ma diri sendiri!!! hihihi!!)
    Semoga dapat pengalaman yg menyenangkan

    Like

    • Hai Soe!! Huhuu… Terima kasih yaa… Nggak deh nggak posting pake bahasa Inggris… kamu juga dong pake bahasa Indonesia aja 😀

      Like

  3. Herzlich Willkommen in Großbritannien, wünsche dir alles gute und viel Erfolg in deiner zukunft…. hihi… bingun kan? sutralah ndak usah posting bake bahasa enggres, bahasa kita lebih asik! aku aja ndak mau nulis pake bahasa Jerman…

    saya tidak mendapatkan teman mengobrol yang asik….
    Kamu sekarang di barat, jadi mulai tinggalkan adat timur itu dengan besar hati ya Byq, orang ndak mau diganggu dan terganggu, jadi nikmati kesendirianmu itu yak, ndak boleh protes…

    Aku tunggu cerita2 culture shock yang menggelikan dan bikin mewek-mewek yang pasti semua kita alami pada saat2 pertama datang…

    Like

    • weeeitss… aku masih bisa ngira2 beberapa kata pertama… pokoknya welcome in Great Britain… ya kan, Djo? Hehehe… Terimakasih buat sambutan hangatnya di Eropa Barat, sekarang aku senasib sama kamu, Djo, jadi perantauan di negeri orang.

      Iya juga sih, aku juga menikmati tidur, soalnya memang katanya mesti banyak tidur di pesawat supaya ga jetlag2 amat… pasti aku lanjutin ceritanya, Djo… sabar ya 😀

      Like