Monthly Archives: October 2011

Birthweek: The Beginning

Standard

I believe I have told you before in the previous entry that suddenly I started to think a lot about my birthday here in Norwich. Not that I wanted to make a festive birthday celebration, but I was thinking of being kind to myself because of what I have been doing so far. I really needed to appreciate myself. A lot.

So, when I heard that Coldplay was going to have a small gig in my campus, I decided that the gig was going to be a birthday gift from me for myself. But, unfortunately, in that fateful morning, I couldn’t get the ticket. Like what I said before, it was a small gig, so there were only few could get the ticket, and according to the rumors, the ticket sold out only in several hours.

Lots of student who queued got really angry, because there were many outsider came and bought the ticket. But that wasn’t what made me angry… it was because I couldn’t even give myself something good for my own birthday. I started to feel sorry for myself, and drowned to the most pitiful state, which I didn’t need to do. Little did I know it was the beginning of all troubles for the next days.

First of all, I really got drunk. And, there were so few I could remember about what happened that night. I am pretty sure I did something stupid, I don’t need to explain here in the public area, but you know how stupid anyone when they got really drunk. And, when I am thinking about it now… I feel so silly that I have done that, because it was not supposed to be like that.

And then, I lost my glasses. That was the second hit, because I really love that glasses. No, I don’t have any emotional attachment to that glasses, but it was my favorite glasses, and it was the cheapest glasses I have ever bought. So it meant a lot to me. But I couldn’t find it anywhere in one morning… Like what I have said, I just couldn’t remember anything. Even until now.

Desperation struck me, and I lost my mood to celebrate my birthday. I didn’t talk about to anyone. I just wanted to sleep my birthday away… But this is still the beginning…

Advertisements

Jealous Much?

Standard

Saya ga suka kalo orang lain iri dengan apa yang saya miliki atau saya dapatkan. Atau sekedar iri saja tanpa alasan. Atau cemburu buta pada saya.

Beberapa orang bilang, “you’re so lucky”. Atau “lucky bitch” di belakang saya, dan mungkin saya geer, tapi tidak sedikit yang mengatakan itu. Luck mereka bilang?

Dulu setiap kali ujian, semua orang mengatakan, “wish me luck.” Atau mereka saling mengucapkan “good luck” satu dengan yang lain. Saya? Kadang kalau saya cukup dekat dengan orang-orang yang mengucapkan “good luck” pada saya, “thanks, but I don’t need luck.”

Dulu waktu lagi sering-seringnya main billiard dengan teman-teman, paling males kalo dibilang menang karena hoki (luck). Bukan pujian sama sekali. Kemenangan sama sekali ga ada artinya, karena kamu bukan menang karena skill >_<. Akhirnya toh kita mengakui bahwa orang bodoh kalah sama orang pinter, tapi orang pinter kalah sama orang hoki. -_-”

Tapi bagi saya no such thing as luck. One good thing comes with other things to make it balanced. Setidaknya begitulah yang saya percayai.

Misalnya, kalau ada satu orang menang lotere, maka ada satu juta orang lain yang kalah. Atau, kalau kalau satu orang menemukan dompet di jalan, berarti ada satu orang lain kehilangan dompetnya. Atau yang efeknya ke diri sendiri: oh kamu beruntung nyontek ga ketauan kali ini, besok kamu akan lakukan hal yang sama. Atau oh I’m so lucky I don’t need to practice.

Bahkan kritik aja nih ya buat lagi “Lucky”. Lucky you’re in love with your best friend? You just don’t know how complicated it could be if you’re ever break up.

Kadang orang-orang memang ga bisa mikir panjang.

Waktu saya bilang saya ada di Inggris untuk kuliah, mereka bilang saya beruntung. Beruntung dari mana? Ada jalan yang saya tempuh untuk mencapai tempat ini. Ada hal-hal yang saya perjuangkan dengan kerja keras. Berapa banyak argumen yang saya lontarkan untuk meloloskan proposal saya? Berapa banyak hal yang harus saya tinggalkan di Indonesia demi apa yang saya inginkan di sini? Dan, mereka bilang saya beruntung?

Mungkin dibanding beberapa orang lain, jalan saya termasuk lebih mudah. Tapi tidak ada keberuntungan. Saya tidak percaya keberuntungan. Luck. Saya percaya semua datang satu paket dengan usaha. Saya percaya hukum sebab-akibat.

So please don’t be jealous. Jangan sama saya. Jangan pada siapa pun.

500 days of Byq

Standard

Oke… Saya mengakui bahwa judul entry saya kali ini memang tidak kreatif. Biasanya juga judul entry saya tidak kreatif, tapi kali ini bukan cuma tidak kreatif, tapi juga obvious mengenai apa yang akan saya bicarakan kali ini. Ini semua adalah salah Mr. Atheist dan teori barunya mengenai karakter dalam film (500) Days of Summer. Katanya, gwe mengingatkan dia pada Summer, dalam cerita film tersebut.

Awalnya saya tidak terlalu bernafsu nontonnya. Biasa, lagi jomblo, lagi hepi, males juga nonton lovey dovey drama. Takut mupeng juga sih. Tapi tapi tapi, Mr Atheist ini sampe kekeh banget saya harus nonton. Bukan cuma dicariin link buat download, saya juga dikasih download manager (mungkin dia tau saya males banget download 20+ part film itu). Karena ke-kekeh-an nya lah makannya saya akhirnya mendowonload semuanya.

Sebelom saya selesai mendownload, saya sempat chat dengan salah seorang teman saya yang sekarang lagi di Indonesia. Saya pun bilang bahwa saya sedang disuruh download film tersebut karena KATANYA saya mirip dengan si Summer. Saya tanyalah dia sudah nonton atau belum, dan dia reaksinya adalah: “Oh iya, bener juga yah. Nonton gih, biar lo liat sendiri lo tuh kaya apa…”

PLAK!!!

Saya tidak ingin membuat spoiler, tapi saya memang tidak rela kalau saya disamakan dengan karakter Summer ini. Saat menontonnya pertama kali, saya berpikir… oh, she’s kind of cool. Tapi lalu, saya mulai bertanya-tanya, did I treat anyone like she does? Saya bertanya pada Mr. Atheist dan dia bilang, “yap I was his Summer…”

PLAK!!!

I thought I have got enough punched this year but apparently I was wrong. Kalo kemaren saya diingatkan bahwa saya tidak cukup baik pada diri saya sendiri, maka kali ini saya diingatkan bahwa saya ternyata tidak cukup berbuat baik pada orang lain. Malah… I probably hurt many people who loved me. Hanya karena saya seenaknya sendiri melakukan hal-hal yang saya suka.

Karena galau, maka waktu Miss Musician SMS saya malam itu, saya pun curcol ke dia. Saya ngadu kalau saya disama-samain sama Summer, dan nanya apakah dia sudah nonton film tersebut. Bukannya mendapat pembelaan, saya malah dapat balasan kaya gini: “i agree with them. Hehe just kidding. Actually I don’t think you are that bad like summer but I can understand why they said that…”

PLAK!!!

She could understand huh? Bahkan orang yang baru kenal saya selama 3 minggu saja bisa bilang kaya gitu? Oh tidak…

Challenge 25

Standard

Berbeda dengan di Indonesia, di sini minuman beralkohol dijual bebas, dan harganya pun tidak terlalu mahal. Jadi, pada dasarnya siapa saja yang berusia di atas 18 tahun bisa mengkonsumsinya. Yap! Di sini, 18 tahun adalah usia legal meminum minuman beralkohol, bukan 21 seperti di Indonesia.

Akan tetapi, banyak supermarket menggunakan istilah Challenge 25. Maksudnya Challenge 25 adalah, kalau kamu tidak terlihat seperti berusia 25 tahun ke atas, maka untuk membeli minuman beralkohol itu kamu akan diminta mengeluarkan kartu identitas yang membuktikan kalau kamu sudah cukup umur. Bukan apa-apa… mungkin karena banyak anak-anak muda berwajah tua di sana, jadi mereka merasa bisa membeli asalkan tampangnya tuwir.

“Can I have your ID for the smirnoff please?”, kasir supermarket itu bertanya kepada saya.

Maklum, ternyata tampang saya masih dianggap dibawah 25 oleh mereka. Padahal… padahal… padahal kan… >_<‘

Bukannya nyombong yah… tapi memang tampang saya ga keliatan seperti mau ambil Post Graduate di sini :p Nyombong deng… tapi ga papa kan? Selama ada yang masih bisa disombongin, boleh lah nyombong sesekali. Bukan cuma orang barat aja yang mengira saya masih kecil, bahkan orang asia sekali pun nggak tau kalau saya lebih tua dari kebanyakan dari mereka. Mr Nottingham aja ga percaya waktu saya kasih tahu umur asli saya (yang lebih tua 2-3 tahun di atas dia :p)

Malah, kemaren Mr Atheist bilang kalau muka saya waktu umur 21 sama muka saya sekarang nggak ada bedanya. Sedangkan waktu saya umur 21 teman saya bilang muka saya sejak SMA sampe umur 21 tidak berubah. Saya menyimpulkan, muka saya belom berubah sejak SMA. Enak yah? Apa gara-gara selama ini saya dengan si Onyed yang lebih muda dari saya 5 tahun itu ya makanya saya mukanya muda terus?

Tapi keawet mudaan saya ini tidak ada apa-apanya kalau dibandingkan dengan adik saya si Lala itu. Kalau liat dia, yang terbayang bukan anak SMA atau perempuan berusia 20 an. Tapi… tapi… tapi… Anak SMP!! Iri ga sih iri ga sih?

Nggak juga…

 

Bentar Lagi Ulang Tahun Ya?

Standard

Biasanya saya tidak pernah memikirkan ulang tahun saya. Sering kali terlewat begitu saja oleh saya sendiri kalau tidak diingatkan oleh orang yang peduli. Mengikuti prinsip Papa saya yaitu: tidak ada bedanya dengan hari lain, toh cuma nambah umur sehari >_<

Tapi, entah kenapa sejak saya nyampe di sini, dan semenjak masuk bulan Oktober kok saya jadi  kepikiran ulang tahun ya?

Bukannya pengen dirayain sih, tapi kepikiran aja. How does it feel ulang tahun di antara orang-orang yang tidak saya kenal? Bagaimana ulang tahun di antara orang-orang yang tidak tahu apa-apa tentang hari ulang tahun saya? Bagaimana rasanya? Kalau dulu saya tidak mau memberi tahukan tanggal ulang tahun saya karena saya benci acara kejutan, kali ini saya malah pengen gembar gembor ke orang-orang kapan saya ulang tahun.

Tidak saya lakukan, karena saya tahu itu hanyalah pikiran impulsif semata. Dan saya masih benci acara kejutan. Bukannya geer bakalan ada orang yang ngasih saya kejutan, tapi tetep aja, apa salahnya berjaga-jaga.

Saya pun berpikir untuk menghadiahi diri saya sendiri dengan sesuatu. Misalnya saya liburan sendiri ke London selama semalam? Atau saya ke Manchester lihat tempat yang selama ini selalu ingin saya kunjungi? Aaaataau ke Nottingham dan main ke tempatnya Mr. Nottingham? Ataaau saya cukup ke city center, keliling kota dan membeli sebuah sepatu yang bagus?

Masih saya pikirkan.

Meksipun begitu, saya merasa berhak menghadiahi diri saya sendiri dengan sesuatu. Saya rasa saya sudah banyak melakukan hal-hal baik selama satu tahun ini. Saya mencapai banyak hal dan saya rasa saya sudah berkembang banyak, meskipun belum seratus persen seperti yang saya inginkan. In fact, I am starting a new life, and that’s worth a celebration 😀

Oh! Oh! Oh! Atau saya cukup membeli satu botol Bailey’s dan menghabiskannya di kamar sambil chatting dengan orang-orang yang saya sayang, lalu menceritakan semuanya dalam satu postingan “alcohol talks” >_< There are so much to do. And, suddenly, I love my birthday

Nyasar

Standard

Salah satu kebiasaan buruk saya adalah… saya sering nyasar. Bukan cuma nyasar di tempat-tempat baru, saya juga beberapa kali nyasar di tempat yang pernah saya lewati. Kadang kala, saya nyasar bukan karena saya nggak tau jalan, tapi saya nyasar karena setelah saya salah belok sekali, bukannya cepet-cepet balik ke jalan utama dan lewat jalan yang biasanya saya sok-sokan yakin bahwa saya akan bisa menemukan jalan yang benar melalui jalan yang salah itu.

Akhirnya… saya sering nyasar

Hal yang sama terjadi dengan hidup saya.

Sering saya mendapati diri saya salah jalan, atau melakukan sesuatu yang saya tahu tidak akan ada ujungnya. Tapi, bukannya saya buru-buru menghentikan apa yang saya lakukan, saya malah meneruskannya dan berpikir bahwa saya bisa membuat hal ini sukses. Dengan kerja keras… keringat, dan air mata darah.

Dan itu tidak berhasil juga.

Orang-orang berkata two wrongs don’t make a right. Dua kali belok di tempat yang salah tidak akan membawa kita ke tujuan. Meneruskan perjalanan hanya akan menunda waktu lebih lama karena kita harus mengejar waktu untuk kembali ke titik di mana kita memulai semuanya. Beberapa orang hanya membutuhkan waktu satu hari, yang lain membutuhkan waktu beberapa tahun.

Dulu di blog yang hilang itu (saya lagi males sarkasme-sarkasmean soal itu), saya pernah mengatakan soal cut loss. Bahwa beberapa hal di dunia ini tidak perlu kita tunggu untuk berubah. Kadang kala mengamputasi jempol kaki itu lebih efektif daripada menunggu sampai jempol itu sembuh tapi ternyata malah membuat kita harus mengorbankan satu kaki.

Tidak semudah mengatakannya. Beberapa orang harus memotong hatinya, dan membuang yang dia pikir adalah belahan jiwanya. Beberapa orang harus mematahkan perasaanya dan mematikan pikirannya. Beberapa orang yang tidak terlalu emosional, mungkin hanya akan merenung beberapa hari dan kembali seperti semula seolah-olah tidak ada yang berubah. Beberapa yang lebih sentimentil mungkin akan mengurung dirinya di kamar selama beberapa bulan sambil mendengarkan lagu mellow.

Tapi tidak ada yang lebih mengenaskan daripada membiarkan diri nyasar terlalu lama. Karena waktu tidak bisa dibeli kembali, tidak bisa diputar balik. Membuang-buang waktu untuk hal yang kamu tahu dari awal tidak akan ada ujungnya (atau kata beberapa orang: nggak ada juntrungannya) itu, hanya akan membuatmu rugi berlipat-lipat. Rugi waktu, tenaga dan perasaan.

Sayangnya… Tidak selalu ada peta yang jelas untuk perjalanan hidup. Sering kali kamu merasa kamu di jalan yang benar, tapi ternyata tidak benar juga. Saya sendiri, tidak bisa menjawab kalau ditanya apakah saya berada di jalan yang tepat. Setidaknya, saya berusaha untuk merencanakan arah dan tujuan saya, supaya saya tahu kalau suatu hari nanti saya nyasar lagi…

750 Words Bybyq

Standard

Di minggu pertama saya kuliah, profesor di sana langsung memberikan saya sebuah tugas. Tugasnya mudah, tujuannya hanya untuk mengetahui sejauh mana kemampuan analisa kami, dan apakah kami akan membutuhkan bantuan pelajaran tambahan atau tidak. Topiknya bebas, asalkan masih dalam lingkup konsentrasi yang kami ambil, dan hanya berupa karangan esai pendek 750-1000 kata.

Pertama kali saya mendapatkan tugas itu, sebenernya saya agak senang. Bukan cuma karena menurut saya ini adalah saatnya show off, tapi juga menurut saya tugas ini mungkin akan menjadi tugas termudah sepanjang sejarah kehidupan saya di sini nanti. 750-1000 kata, gitu… saya bisa menulis dua ribuan kata dalam dua hari dulu saat kuliah di Jakarta. Tapi…

Saya baru sadar saat saya memulai tugasnya, bahwa saya harus menulis semuanya dalam bahasa Inggris. Menulis satu paragraf saja, saya harus mengulang setidaknya tiga kali sebelum saya benar-benar yakin saya menulis dengan benar. Kalau pakai bahasa Indonesia kan nggak sesulit itu. Ya kan? Ya kan?

Bahasa Inggris saya memang tidak sepayah itu, tapi terus terang aja memang tidak sehebat itu. Saya belum bisa seperti AK yang bisa berpikir langsung dalam bahasa Inggris. Kalau saya punya kemampuan berbahasa seperti AK mungkin tidak susah mendapatkan 800 kata dalam semalam. Saya pun harus bolak balik ke perpustakaan, dan menghabiskan 3 hari menyelesaikan tugas ini.

Saat saya ngeblog, tentu saja semua tugas sudah kelar. Setidaknya esainya sudah kelar, saya hanya perlu menulis Bibliography. Oh! Saya benci menulis daftr pustaka. Apakah mereka tidak bisa search aja sendiri di google? Kenapa harus saya tulis satu-satu buku referensi saya? -_-”

Yah, tapi sekali lagi… Namanya juga belajar. Kalau tidak dimulai dari sekarang bagaimana saya bisa menyelesaikan disertasi saya yang membutuhkan ribuan kata nanti? Hayo hayo?

Hai Indonesia!

Standard

Okay! Saya akui mungkin saya kemarin agak berlebihan dengan mengatakan orang yang mencari-cari teman senegara adalah pathetic. Setelah saya bertemu dengan orangnya, ternyata dia menyenangkan juga. Hanya saja, dia masih terlalu kecil kalau mau saya ajah hang out… the adult way 😀

Jadi, ternyata kemarin pertemuan saya dengan orang Indonesia ini bukanlah pertemuan pribadi. Dia mengajak saya berkumpul dengan beberapa orang Indonesia yang lain yang ada di Norwich. Memang tidak banyak, karena memang Norwich masih belum populer di kalangan mahasiswa Indonesia. Sampai saat ini yang muncul di grup BB PPI Norwich baru ada 17 orang. Beberapa di antara mereka sudah lulus dan mungkin akan segera cap cus dari sini…

Kami mengadakan pertemuan di sebuah rumah makan hongkong… yang terasa aneh buat saya… kenapa rumah makan hongkong? Kenapa bukan rumah makan Indonesia? Tapi mungkin memang belum ada rumah makan Indonesia di sini. Siapa berniat investasi dan bikin rumah makan Indonesia di sini? Mungkin tidak se-prospektif itu karena tidak banyak mahasiswa Indonesia di sini ya?

Mereka cukup baik dan menyenangkan, dan beberapa di antara mereka juga s2 di sini. Meksipun kebanyakan masih foundation, yaitu belum jadi mahasiswa -_-”

Sayangnyaaa….

Makan di restoran Hongkong itu mahal! Bukan cuma mahal, tapi juga ga kenyang! Saya sedang dalam rangka berhemat, eh malah harus keluar biaya makan yang sebenarnya bisa menghidupi saya selama satu minggu. Rasanya ingin nangis bombay… Tidak mengertikah mereka kalau saya ini anak perantauan?

Anak-anak Indonesia ini bervariasi. Kebanyakan anak foundation itu yang saya maksud. Di sini mereka masih dikuntit orang tuanya, dan dihibahi uang berlebihan (yang kemudian saya tahu malah mereka gunakan untuk minum-minum di pub! MEREKA MASIH DI BAWAH UMUR!!). Beberapa masih sok tahu tentang banyak hal, dan kalaupun mereka beneran tahu, tapi gayanya bener-bener khas abege lah. Tidak menyangka saya bisa bertemu ababil di sini. Nikmati saja, karena tahun depan mereka tidak akan sama lagi… *evil laughter*

Sedangkan anak-anak Indonesia yang sudah lama di sini… Mereka membagikan banyak hal. Selain informasi yang penting buat kami, petunjuk-petunjuk jalan yang mungkin akan kami lewati, juga dua bungkus rokok Indonesia.

Sialan betul!

Saya sudah berencana berhenti merokok karena di sini rokok mahal. Tapi kalau ada yang memberi… Dammit Dammit Dammit! Dapatkan seorang Bybyq mempertahankan prinsipnya untuk tidak merokok?

Sudah Ke Mana Aja, Byq?

Standard

Belum ke mana-mana! Dan saya rasanya pengen nangis saat mengatakan itu!

Jadi… ini semua berawal dari e-mail (mari kita mulai mencari kambing hitam).

Inget nggak kemarin saya cerita kalau saya menemukan teman perjalanan yang sangat menyenangkan dan sangat baik di perjalanan saya menuju ke Inggris? Mahasiswa yang mau ke Nottingham? Bukan! Bukan the Yemen guy yang mirip Fachri Albar -_-”!

Itu lho, yang nemenin saya selama nunggu transit di Dubai… Yang nemenin saya ngobrol selama di pesawat. Yang bantuin saya ambil foto norak di bandara Dubai karena beberapa teman meminta bukti foto bahwa saya mampir ke Dubai, dan saya masih hidup. Yap… the civil engineering guy yang kasih saya koin 1 dirham kenang-kenangan dari bandara Dubai.

Hehehe… sepertinya kita harus membuat nickname buat dia, karena akan sangat sulit kalau saya menceritakan orang ini tanpa nama sama sekali. Kita sebut saja dia sebagai Mr. Nottingham.

Jadi, sebelum akhirnya berpisah di pesawat, saya dan Mr. Nottingham bertukar alamat email (keren bener ya? kaya businessman gitu tukerannya alamat email…) bukan apa-apa sih, tapi kita belum punya nomer inggris yang bisa dituker-tukerin aja. Rencananya, alamat e-mail ini mau dipake untuk add friends di facebook. Tapi entah kenapa, website dodol itu nggak bisa dipake buat add, sampai akhirnya saya kirim e-mail dan lapor kalau saya nggak bisa add dia di FB.

Malu-maluin banget ga sih? Kesannya kok saya gaptek banget sampe add aja ga bisa. Atau saya malah keliatan agresip banget kaya kepengen banget di add di FB? Entah ya? Saya sih mau di add di Fb *malu* tapi, bukan itu alasan utamanya *membela diri*. Saya kan sudah janji mau add, kalo nggak bisa add kan harus bilang… itu namanya prinsip. Ya kan? Bener kan? Bener dong.

So… saya dan Mr. Nottingham mulai ngobrol di e-mail. Sama seperti sebelumnya di pesawat, dia sangat baik di e-mail. Ngalor ngidul dari urusan beli nomer Hp buat nyalain BB, sampai teman-temannya yang titip salam. Sampai pada akhirnya Mr. Nottingham cerita bahwa dia sudah lihat patung Robin Hood di sana. Dan dia pun bertanya: Udah kemana aja Byq?

Eh!

Aku… aku… aku… AKU MALUU!!!

Saya baru sadar bahwa saya belum menjelajah Norwich. Saya bolak balik ke city center, tapi belum sekali pun menjejakkan kaki ke castlenya, atau ke theatrenya, atau ke manapun lah! Padahal katanya kota ini punya banyak situs bersejarah… tapi kok saya belom pernah lihat? Payah banget deh 😦

Jadiii… Saya memutuskan, saya harus bisa setidaknya ke castle di tengah kota untuk memulai misi saya mengelilingi UK dalam setahun. Bisa ga yaaa?

Oh Aku Dilema!

Standard

“Byq…” Katanya dengan serius. “Ini saatnya kamu memilih…”

Deg!

“MU atau Norwich City?”

Dammit! Hal itu terjadi juga!

Dan saya menyalahkan orang ini. Kita sebut saja sebagai Mr. Atheist, yang mengingatkan saya bahwa hidup itu sulit dan kita harus memilih. Oh Bloody (hei! Kok saya belom denger orang di sini misuh dengan “bloody” ya?

“Tap… tap… tap… tapitapitapi… tapi kan aku bisex..”

Dammit! I hate Mr. Atheist.

Dia mengingatkan saya bahwa dalam hidup saya harus memilih. Kalau nggak A ya B. Kalo nggak MU ya Norwich. Kalo nggak Indonesia ya UK. Nggak bisa dua-duanya… dan saya pun tidak mau memilih dua, karena itu bukan pilihan. Itu hanyalah cara mudah orang plinplan yang ga tau apa yang diinginkannya.

Menolak untuk memilih dan memutuskan hanya karena kedua-duanya memberikan kita kenyamanan sama saja mengkhianati dua-duanya. Saya tidak suka seperti itu. Saya tidak suka menjadi bi. Menjadi ambigu. Menjadi plinplan.

Apa salahnya kalau saya memilih Norwich? Toh saya tinggal di sini, dan meksipun underdog, kata Mr. Atheist mereka juga mainnya bagus. Apa salahnya juga kalau saya memilih MU meskipun saya tinggal di Norwich? Toh dari dulu juga saya sukanya sama MU, dan saya mau jadi anaknya Sir Alex Fergusson (sayangnya dia ga mau punya anak kaya saya -_-”)

Tapiiii….

Saya tidak mau memutuskan sekarang. Bukan karena saya tidak ingin, tapi karena saya belum merasa siap untuk memutuskan apa yang ingin saya putuskan. Dan bagi pembaca yang bingung… saya sudah nggak ngomongin MU vs Norwich lagi lho 😀 Saya lagi ngomongin hal galau lainnya… biasa lah cewe galau macam saya memang hobi eksibisi keluh kesah di blog.

Hehehe….